KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

MEKANISME PERSALINAN NORMAL

Senin, 31 Oktober 2011


-         Pada umur kehamilan 36 minggu, kepala dalam keadaan flaksi akan memasuki PAP dengan sutura sagitalis melintang (transversal) miring (oblig) terhadap PAP yang disebut Syinchilitismus (Osporietalis depan dan Osporietalis belakang sama tinggi)
-         Dengan adanya his, kepala akan turun osporietalis depan akan tersentuh pada pinggir atas simpisis, akibatnya osporietalis belakang akan turun lebih rendah dari osporietalis depan yang disebut Asynchitismus Posterior.
-         Dengan adanya his, dan terdapat rongga yang luas disebelah belakang, akibatnya ada cekungan sacrum, ubun-ubun kiri kepala janin akan bergerak kearah belakang, sehingga osporietalis depan terlepas dari pinggir atas simpisis, sehingga menjadi sama tinggi dengan osporietalis belakang disebut synclitismus.
-         Dengan adanya his, kepala makin turun osporietalis belakang akan tersentuh pada Ossacrum, akibatnya osporietalis depan akan turun lebih rendah dari osporietalis belakang yang disebut Asynclitismus Auterior.
-         Dengan adanya his, kepala akan turun lagi dalam keadaan flaksi maksimal menuju dasar panggul yang terpanjang adalah diameter auterior posterior sehingga terjadi putar poksi dalam dimana ubun-ubun kecil akan menuju kebawah symfisis.
-         Dengan adanya his, kepala akan mulai turun sehingga terlihat vulva setelah his hilang kepala masuk kepala (Maju – mundur).
-         Dengan datangnya his, kepala makin turun sehingga pada satu saat kepala telah terlihat divulva, walaupun tidak ada his ( kepala membuka pintu ) o croning.
-         Dengan datangnya his, kepala makin turun sampai sub occiput berada dibawah sympisis sebagai hipomochin ( sebagai sumbu putar ) dan kepala akan mengadakan defleksi sehingga lahirlah berturut-turut UUK, dahi,mata,hidung,mulut,dagu dan lahirlah kepala anak seluruhnya.
-         Kemudian kepala mengadakan putar posisi  luar dan bahu mengadakan putar posisi dalam dan menyebabkan bahu dibagian auterior superior didalam pelvis kemudian bahu auterior lahir dibawah sympisis pubis diikuti oleh bahu posterior kemudian  lahirlah seluruh tubuh anak 
1. Panggul terdiri atas    :          
    A.    Bagian keras yang dibentuk oleh tulang rawan dan keras.
B.     Bagian lubak yang dibentuk oleh otot – otot dan ligamen.

2. Tulang panggung terbagi atas 2 bagian :
    A.  Pelvis Mayor      : Dari PAP keatas yang fungsinya untuk menyangga abdomen.
    B.   Pelvis Minor       : Dari PAP kebawah yang fungsinya untuk melindungi rahim, kanding kemih, ovarium dan ginja.

3. Tulang panggul terdiri atas 3 buah tulang :
    A.  2 tulang panggkal paha                OS. Coae kanan kiri
    B.   1 tulang belakang            OS. Sacrum
    C.  1 tulang tungging   OS. Cocygis

A.      Tulang coxae (pangkal paha) terdiri atas 3 buah tulang :
v     Tulang usus (OS ilium)
v     Tulang duduk (OS ischium)
v     Tulang kemaluan (OS pubis)

v     Tulang usus (OS ilium)
·    Bagian atas yang tebal disebut crista iliacbagian yang ata
v     Spina iliaca anterior superior                       S  : Superior     : Atas
v     Spina iliaca anterior inferior                         I   : Interior       : Bawah
v     Spina iliaca posterior superior                     A : Anterior      : Muka      
v     Spina iliaca posterior inferior                       P  : Posterior     : Belakang 
·    Dan yang menonjol disebut spina
·    Dan antara spina iliaca posterior inferior ada benjolan yang disebut incisura ischiadica mayor
·    Acetabulum.

v     Tulang Duduk ( os ischim )
-         Bagian yang menonjol ke dalam spina isiadika dibawah ini ada incisura ischiadica minor
-         Bagian yang menonjol keluar tuber isiadicum.

v     Tulang Kemaluan ( OS puhis )
-         Fonamen obturatorium
-         Bagian atas : Ramus superior os pubis                                       Sinitra ( kiri )
-         Bagian bawah : Ramus inperior os pubis                                    Nexra ( kanan )

B. Tulang Kelangkang (OS SACRUM)
            Terdiri dari lima ruas yang senyawa

C. Tulang Tungging ( OS COCYGIS )
            Yang terbentukdan terdiri atas 3 - 5 ruas yang bersatu yang bersifat mobail.

Ø  Pelvis Minor ( Panggul Kecil )
        Terdiri dari 4 bidang
1.      Pintu atas panggul
2.      Bidang luas panggul
3.      Bidang sempit panggul
4.      Pintu bawah panggul

1.  PAP
            Dari promontorium – sayap sacrum, linea innominata, ramus superior os pubis pinggis atas simpisis.
-         Ukuran muka belakang ( Conjunggata vera ) diameter anterior posterior ) dari promontorium ke pinngir atas simpisis 11 cm
-         Ukuran transpersal ( melintang ) dari linea innominata kanan / kiri 12,5 cm
-         Ukuran obliq ( miring ) dan sacro iliaca ke tuberculum pubicum 13 cm.

2.  Bidang luas panggul
-         Dari pertengahan simphysis – pertengahan acetabulum- pertemuan antara ruas sacrum II-III
-         Ukuran anterior posterior dari pertengahan simphysis ke sacrum 2-3 = 12,75
-         Ukuran transpersal dari pertengahan acetabulum kanan dan kiri 12,5 cm.

3.  Bidang sempit panggul
Dari pinggir bawah simphysis- spina ischadika ke ujung sacrum
-     AP   : Pinggir bawah simpisis ke ujung sangkum 11,5 cm
-         Tranpersal : Spina isciadica kanan kiri10 cm
-         Sagitalis posterior : Sacrum ke pertengahan antara spinae ischiadu 5 cm.

4.  Pintu bawah panggul
            Terdiri dari 2 Δ dan dasar yang sama yang berhubungan garis tuber ischiadicum kanan dan kiri.
 
§     Δ pertama ( depan ) dari tuber isciadikum ke pinggir bawah simpisis
§     Δ kedua ( belakang ) dari ujung sacrum ke ligamentum sacru tuberosum
o   Ukuran AP   : dari pinggir bawah simpisis ke ujung sacrum 11,5 cm
o   Ukuran tranversal : tuber istiradikum kiri kanan ( 10,5 cm )
o   Saligalis posterior : Ujung sacrum ke pertengahan ukuran melintang 7,5 cm

UKURAN KEPALA

1.  Diameter
v         Diameter fronto oksipitlis   : 12 cm ( LPK )
v         Diameter mento oksipitalis  : 13,5 cm ( LD )
v         Diameter Sub Oksipitalis Bregmatika 9,5 Cm ( LBK )
v         Diameter Biparietal 9,25 cm
v         Diameter Bitemporal 8 cm

2.          Sicrum verencia ( Keliling )
v         Sicrum verencia pronto oksipitalis : 3,4 cm
v         Sicrum verencia mento oksipitalis  : 35 cm
v         Sicrum verencia sub oksipitalis bregmatika 32 cm ( LBK )

KASUS LETAK BOKONG


Ny. S 30 tahun G III A0
Datang ke RB dengan keluhan keluar lender campur darah
4 jam yang lalu, lalu periksa
TFU 3 jari dibawah P.X
Di fundus teraba bulat keras dan melenting
DJJ 144 x/menit, dengan fuctum maximum dikiri bawah pusat
Pembukaan cervix 6 cm. pada hanskun dijumpai blood slym bercampur meconium.
Diagnosa            : Ibu inpartu kala I fase aktif dengan kasus letak bokong
Dasar                 : -     Pada palpasi Leopold III uteri teraba bulat keras, melenting
-         Dada bagian bawah teraba lunak, bundar dan tidak melenting
-         Pemeriksaan dalam, dijumpai blood slym bercampur meconium

 
Faktor Penyebab :
-         Anak kecil
-         ANC jarang (tidak pernah)
-         Anak kembar
-         Hidramion
-         Multi paritas
-         Hidrolepalus
-         Placenta previa

Penanganan

Tahap I lahir bokong sampai pusar dilakukan persalinan
1.      secara brachi
-         Ibu tidur dalam posisi litotomi
Ketika timbul his ibu disuruh menera dengan merangkul ke dua paha
-         Sewaktu bokong mulai membuka vulua ( Crowning ) disuntikkkan 2 - 5 cu oxitosin secara im segera setelah bokong lahir, bokong dicekam secara brachi yaitu : kedua ibu jari menolong sejajar dengan sumbu panjang dan paha, sedangkan jari – jari lain memegang panggul
-         Pada setiap his ibu disuruh meneran. Waktu tali pusat lahir dan tampak sangat teregang, dikendorkan
-         Kemudian penolong menolong melakukan hiper lordosis pada badan janin guna mengikuti gerak rotasi anterior yaitu punggung janin didekatkan ke perut ibu, bersamaan dimulainya gerakan hiperlordis seorang asisten melakukan kristeler pada fundus literi
-         Dengan gerakan hiperlordosis ini berturut-turut lahir pusar, perut, bahu dan lengan, dagu, mulut dan akhirnya seluruh kepala
Bila persalinan secara bracht mengalami kegagalan misalnya terjadi kemacetan melahirkan bahu atau kepala ;
2.      Teknik cara klasik
Melahirkan dengan belakang lebih dahulu, karena lengan belakang berada di ruangan yang lebih lua atau sacrum, baru kemudian melahirkan lengan depan yang berada dibawah symphisis kedua kaki janin dipegang. Kanan penolong, pada pergelangan kaki bayi dibawah ke atas perut ibu, dan tangan kiri dimasukkan ke dalam jalan lahir dengan jari tengah dan telunjuk menelusuri bahu janin, kemudian lengan baah dilahirkan, selanjutnya didekatkan kearah punggung ibu untuk melahirkan lengan depan.


3.      Teknik cara Mueller
Melahirkan bahu dan lengan depan lebih dahulu kedua ibu jari dipanggul janin 4 jari lainnya mencekam paha, badan janin dan ditarik ke bawah untuk melahirkan lengan depan, kemudian ditarik ke atas, melahirkan bahu belakang.
4.      Teknik cara loveset
Tangan sama dengan teknik Mueller memutar badan janin setengah lingkaran sehingga bahu belakang menjadi keudian diputar ke arah berlawanan setengah lingkaran untuk melahirkan bahu belakang disertai lengan dan tangan atas, jika tidak lahir, maka lengan dikait dengan telunjuk sampai lahir.
5.      Teknik cara mauricau ( Melahirkan kepala )
Jari tengah dimasukkan ke mulut bayi dan jari telunjuk dan jari keempat menyengkam fosa kinina, sedang tangan lain mencekam leher, janin seolah-olah menunggang kuda, kedua tangan menarik kepala janin curam ke bawah, sambil seorang asisten melakukan kristele bila sub ocsiput tampak dibawah symphis kepala janin tarik keatas sehingga berturut-turut lahir, dagu, mulut, hidung, mata, dan ubun-ubun besar dan lahirlah seluruh kepala janin.  

DISTOSIA BAHU

    Kegiatan di Polindes menolong persalinan Ny. M, dengan ayat GIII PII Ab0.
Kala II setelah kepala janin lahir, Bidan A memeriksa liltan tali pusat ternyata tidak ada lilitan kemudian menunggu terjadi putar paksi luar, tapi putar paksi luar tidak terjadi dengan sempurna ketika hendak melahirkan. Bahu ternyata bahu tersangkut tidak dapat dilahirkan.

Diagnosa        :   -   Ibu dalam kala II persalinan dengan kasus Distosia Bahu
-     Kepala dapat lahir tetapi tetap berada dekat pulva
-     Usaha melahirkan bagu gagal

Penyebab :
-         Kelainan letak dan bentuk janin
-         Persentase puncak kepala
-         Persentasi dahi
-         Persentasi muka


Bahan :
1)      Buat episiotomi yang cukup luas.
2)      Posisi ibu berbaring terlentang, dan menekuk kearah dadanya, atau minta 2 asisten untuk melakukannya.
3)      Penolong memakai sarung tangan yang telah di DTT.
-         Lakukan tarikan yang kuat kearah bawah, minta seorang asisten melakukan kearah bawah pada daerah symphisis.
4)      Jika bahu belum lahir, masukkan tangan kedalam vagina, lakukan penekanan pada bahu yang terletak didepan kearah sternum bayi untuk mengecilkan diameter bahu jika diperlukan, lakukan penekanan pada bahu belakang sesuai dengan arah sternum.
5)      Jika bahu belum dapat dilahirkan setelah tindakan diatas.
-         Masukkan tangan kedalam vagina
-         Raih humetrus dari lengan belakang dengan menjaga lengan tetap fleksi pada siku, gerakkan lengan kearah dada.
6)      Jika semua tindakan diatas tidak berhasil
-         Patahkan clavicula, lalu tarik dengan mengait ketiak untuk melahirkan bahu belakang

0 comments:

Poskan Komentar