KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI Hubungan Status Gizi Ibu Hamil Dengan Kejadian Bblr Di RSU XXXXX

Rabu, 24 Agustus 2011


Masa    kehamilan      merupakan     periode     yang     sangat     penting     bagi pembentukan kualitas sumber daya manusia dimasa yang akan datang, karena tumbuh kembang anak akan sangat ditentukan oleh kondisi pada saat janin dalam kandungan. Selanjutnya berat lahir yang normal menjadi titik awal yang baik bagi proses tumbuh kembang pasca lahir, serta menjadi petunjuk bagi kualitas hidup selanjutnya, karena berat lahir yang normal dapat menurunkan risiko menderita penyakit degeneratif pada usia dewasa janin yang sedang dikandung (Mutalzimah, 2007)
Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung Bila status gizi ibu normal pada masa sebelum dan selama hamil kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal (Lubis, 2007). Perbaikan keadaan gizi penting untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil, menurunkan angka kematian bayi dan balita, meningkatkan kemampuan tumbuh kembang fisik, mental dan sosial anak. Oleh karena itu keadaan gizi merupakan salah satu ukuran penting dari kualitas sumber daya manusia (Kristijono, 2007).
Menurut WHO tahun 1990 sekitar 25 juta BBLR lahir diseluruh dunia, 90% terjaddi  negara  berkembang.  Faktor  penyebab  masalah  kurang  gizi  yang menimpa ibu saat hamil merupakan faktor yang berperan atas tingginya kejadian BBLR di negara-negara berkembang. Salah satu cara untuk menilai kualitas bayi adalah dengan mengukur berat bayi pada saat lahir.
Ibu  hamil  akan  melahirkan  bayi  yang  sehat  bila  tingkat  kesehatan  dan gizinya berada pada kondisi yang baik. Hasil SKRT 1995 menunjukkan bahwa empat puluh satu persen ibu hamil menderita kurang energi kronis (KEK) dan lima puluh satu persen menderita anemia mempunyai kecendrungan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (Lubis, 2007).



Masalah BBLR terkait dengan anemia ibu hamil (kadar Hb < 11 gr %) dan kurang energi kronis atau KEK yang menggambarkan kekurangan pangan dalam jumlah maupun kualitasnya (Mutalazimah, 2007). Data yang ada saat ini memperlihatkan bahwa status kesehatan anak di Indonesia merupakan masalah.
153.681 bayi meninggal setiap tahun. Itu berarti setiap harinya ada 412 orang bayi meninggal sama dengan dua orang  bayi  meninggal setiap  menitLima  puluh empat persen penyebab kematian bayi adalah latar belakang gizi.
Angka kematian ibu (AKI) nasional 307/100.0000 kelahiran hidup (SDKI

2002-2003). Penyebab kematian adalah perdarahan (lima puluh delapan persen) yang dipicu oleh anemia yang dialami ibu selama masa kehamilan. Sedangka n angka kematianeonatal tahun 2002  987/100.0000  kelahiran hidup  dan 2003
904/100.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian terbesar adalah berat badan lahir rendah  (BBLR)  dua  pulusembilan  persen.  BBLR  terjadi karena  pada  masa kehamilan ibu mengalami kekurangan energi kronis (KEK).



Bayi lahir dengan berabadan lahir rendah merupakan salah satu faktor resiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususunya pada masa perinatal. Bayi BBLR dapat mengalami ganguan mental dan fisik pada usia tumbuh  kembang  selanjutnya  sehingga  membutuhkan  biaya  perawatan  yang tinggi.



Angka BBLR di Indonesia bervariasi. Dari beberapa studi kejadian BBLR pada tahun 1984 sebesar empat belas koma enam persen  di daerah pedesaan dan tujuh  belas  koma  lima  persen          di  RumaSakit.  Hasil  studi dtujudaerah multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentang dua koma satu persen sampai tujuh belas koma dua persen, secara nasional berdasarkan analisa SDKI angka BBLR sekitar tujuh koma lima persen.



Sumber data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1994 sebagai analisis adalah bayi yang dilahirkan hidup dari wanita usia 15-49 tahun dan kelahirannya ditimban(dalam kurun  waktu  lima tahun sebelum survei).
Hasil analisa menunjukkan dari 20.499 wanita usia 15-49 tahun yang melahirkan bayi  dalam  kurun  lima  tahusebelum  survei  didapatkan  9158  bayi  yang ditimbang dan 653 ( tujuh koma satu persen) diantaranya adalah bayi dengan status bayi berat lahir rendah. BBLR bervariasi menurut propinsi dengan rentang dua persen sampai lima belas koma satu persen                          terendah di propinsi Sumatra Utara dan tertinggi di Sulawesi Selatan.



Berdasarkan umur kehamilan ditemukan dua puluh koma delapan persen BBLR yang dilahirkan kurang bulan dan sebagian besar (tujuh puluh sembilan koma dua persen) adalah BBLR pada kehamilan cukup bulan, proporsi terbesar terjadi di daerah pedesaan (Setyowati, 2007).



Keadaan gizi ibu hamil sangat erat hubungannya dengan berat badan bayi yang  akan  dilahirkan.   Masalah  bera bayi  lahir  rendah  (BBLR)  saa ini diperkirakan sebesar tujuh sampai empat belas persen. BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian bayi dan balita, juga dapat berdampak serius terhadap kualitas                generasi     mendatang     yaitu     akan    menghambat     pertumbuhan     dan perkembangan mental anaserta berpengaruh terhadap penurunan kecerdasan. (Siswono, 2007).



Berat bayi lahir merupakan cerminan dari status kesehatan dan gizi selama hamil serta pelayaanan antenatal care yang diterima ibu.  Gizi ibyang buruk sebelum kehamilan maupun sedang hamil lebih sering menghasilkan bayi BBLR atau lahir mati dan menyebabkan cacat bawaan (Kusumawati, 2007).
Status Gizi Ibu Hamil
Status gizi ibu hamil sangat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan. Bila status gizi ibu normal pada masa sebelum dan selama hamil kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal. Apabila status gizi ibu buruk, baik sebelum kehamilan dan selama kehamilan akan menyebabkan berat badan lahir rendah (BBLR).
Dsamping  itu,  akan  mengakibatkaterhambatnya  pertumbuhaotak janin, anemia pada bayi baru lahir, bayi lahir mudah terinfeksi, abortus dan sebagainya. Dengan kata lain kualitas bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu sebelum dan selama hamil. Ada beberapa cara  yang digunakan untuk mengetahui status gizi ibu hamil antara lain memantau pertambahan berat badan selama hamil dan mengukur kadar Hb (Lubis, 2007)
Penilaian Status Gizi Pada Ibu Hamil

1.   Berat Badan

Berat badan sebelum hamil dan perubahan berat badan selama kehamilan berlangsung  merupakan parameter  klinik  yang  pentinuntuk  memprediksikan berat badan lahir rendah bayi. Wanita dengan berat badan rendah sebelum hamil
atau kenaikan berat badan rendah sebelum hamil atau kenaikan berat badan tidak cukup banyak pada saat hamil cenderung melahirkan bayi BBLR.
Kenaikan berat badan selama kehamilan sangat mempengaruhi massa pertumbuhan janin dalam kandungan. Pada ibu-ibu hamil yang status gizi jelek sebelum hamil maka kenaikan berabadan pada saat hamil akan berpengaruh terhadap berat bayi lahir ( Lubis,2007)
Kenaikan tersebut meliputi kenaikan komponen janin yaitu pertumbuhan janin, plasenta dan cairan amnion. Pertambahan berat badan ini juga sekaligus bertujuan memantau pertumbuhan janin (Amiruddin, 2007). Pada akhir kehamilan kenaikan berat hendaknya 12,5-18 kg untuk ibyang kurus. Sementara untuk yang memiliki berat ideal cukup10-12 kg sedangkan untuk ibu yang tergolong gemuk cukup naik < 10 kg (Kasdu, 2007).
2.   Haemoglobin (Hb)

Hemoglobin  (Hb)  adalah  komponen  darah  yg  bertugas  mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Untuk level normalnya untuk wanita sekitar 12-16 g per 100 ml sedang untuk pria sekitar 14-18 g per 100 ml. Pengukuran Hb pada saat kehamilan biasanya menunjukkan penurunan jumlah Hb.
Haemoglobin  merupakan parameter  yandigunakan untuk  menetapkan prevalensi anemia. Anemia merupakan masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan pada ibu hamil. Kurang lebih 50 % ibu hamil di Indonesia menderita anemia. Konsekuensi dari anemia pada ibu hamil adalah tingginya risiko melahirkan bayi BBLR (www. Tempo.co.id)
Salah satu penyebab penurunan Hb pada ibu hamil disebabkan oleh bertambahnya          plasma  darah,                          yg merupakan        proses                    pengenceran                   darah (haemodillution).                          Pengukura kadar          haemoglobin dilakuka sebelu usia kehamilan 20 minggu dan pada kehamilan 28 minggu (Jabir, 2007).
3.   Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

Bayi berat lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram. Berat lahir rendah dibedakan dalam (Saifuddin,
2001) :

a.   Bayi berat lahir rendah , berat lahir 1500-2500 gram

b Bayi berat lahir sangat rendah, berat lahir < 1500 gara
c.    Bayi Berat lahir ekstrem rendah, berat lahir < 1000 gram
  
Gizi Ibu Hamil
Asupan gizi sangat menentukan kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya.  Kebutuhan gizi pada masa kehamilan akan meningkat sebesar 15
 dibandingka denga kebutuha wanita        normal Peningkata giz ini dibutuhkauntuk  pertumbuharahim  (uterus),  payudara  (mammae),  volume darah, plasenta, air ketuban dan pertumbuhan janin. Makanan yang dikonsumsi oleh ibu hamil akan digunakan untuk pertumbuhan janin sebesar 40 % dan sisanya
60 % digunakan untuk pertumbuhan ibunya.

Secara normal, ibu hamil akan mengalami kenaikan berat badan sebesar

11-13 kg. Hal ini terjadi karena kebutuhan asupan makanan ibu hamil meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Asupan makanan yang dikonsumsi oleh ibu hamil berguna untuk :
a Pertumbuhan dan perkembangan janin

b Mengganti sel-sel tubuh yang rusak atau mati  
c Sumber tenaga
d.   Mengatur suhu tubuh 
e Cadangan makanan
Untuk memperoleh anak yang sehat, ibu hamil perlu memperhatikan makanan yang dikonsumsi selama kehamilannya. Makanan yang dikonsumsi disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan janin yang dikandungnya. Dalam keadaan hamil, makanan yang dikonsumsi bukan untuk dirinya sendiri tetapi ada individu lain yang ikut mengkonsumsi makanan yang dimakan. Dalam hal ini jumlah makanan yang dikonsumsi bukan sebanyak dua porsi melainkan hanya ditambah sebagian kecil dari jumlah makanan yang biasa dikonsumsi. Untuk menghindari bertambahnya berat badan yang berlebihan (Huliana, 2001).
Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No  237