KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI Hubungan Pengetahuan dan Sikap Bidan dalam Pemenuhan Kebutuhan Ibu Nifas Terhadap Konseling Keluarga Berencana (KB) di Wilayah Kerja Puskesmas XXXXX

Minggu, 21 Agustus 2011


Menurut  Departemen  Kesehatan  dan  Survei  Demografi  Kesehatan  Indonesia AKI di Indonesia tahun 2007 mencapai 248 kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup. Diharapkan tahun 2010, AKI turun menjadi 226 per 100 ribu kelahiran. Di Indonesia  setiap  tahun  terjadi  13.815  kematian  ibatau  setiap  hari  terjadi  38 kematian  ibu atau setiap jam ada ibu hamil, bersalin, dan nifas yang meninggal karena berbagai penyebab. Sedangkan di Sumatera Utara setiap tahun terjadi 132 kematian ibu (Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara, 2007).
Pencegahan kematian dan kesakitan ibu merupakan alasan utama diperlukannya pelayanan Keluarga Berencana. Masih banyak alasan lain, misalnya membebaskan wanita dari rasa khawatir terhadap terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, terjadinya gangguan fisik atau psikologik akibat tindakan abortus yang tidak aman, serta tuntutan perkembangan sosial terhadap peningkatan status perempuan di masyarakat (Saifuddin, et al. 2004).
Program  Keluarga  Berencana  Nasional  dimana  visinya  adalah  mewujudkan “ Keluarga  Berkualitas  tahun  2015”.  Keluarga  yang  berkualitas  adalah  keluarga yang        sejahtera,   sehat, maju,     mandiri,          memiliki    jumlah   anak    yang ideal, berwawasa ke   depan bertanggung   jawab harmoni da bertaqw kepada Tuhan  Yang  Maha  Esa.  Dalam  paradigma  baru  program  Keluarga  Berencana ini,          misinya  sangat        menekankan      pentingnya      upaya    menghormati      hak-hak reproduksi,     sebagai          upaya        integral        dalam    meningkatkan     kualitas     keluarga. Berdasarkan   visi   dan   misi   tersebut,   Program   Keluarga   Berencana   Nasional mempunyai       kontribusi                 penting             dalam    upaya             meningkatkan               kualitas penduduk.
Pelayanan  Keluarga  Berencana  (KB)  yang  merupakan  salah  satu  ddalam pakePelayanan  Kesehatan  Reproduksi  Esensial  perlmendapatkan  perhatian yang   serius,   karena   dengan   mut pelayanan   keluarga   berencana   berkualitas diharapkan  akan  dapat  meningkatkan  tingkat  kesehatan  dan  kesejahteraan.
Banyaknya  akseptor  baru  KB  di  kota  Medan  tahun  2006  sebanyak  82,09% dari   292.411   pasangan   usi subur Pencapaian   aksepto KB   aktif   di   kota Medan sebanyak 93,06% dari 196.243 target. Akseptor KB baru menurut alat kontrasepsi  yang  digunakan,  seperti : pil  sebanyak  12.857,  Intra Uterine  Device (IUD)  sebanyak  2.586,  kondom  sebanyak  1.241,  suntik  sebanyak 14.697,  lain- lain  sebanyak  2.252  (BKKBN Kota Medan, 2007).
Banyak perempuan mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Hal  intidak  hanya  karena  terbatasnya  metode  yang  tersedia, tetapi juga ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode   kontrasepsi tersebut. Pelbagai faktor harus dipertimbangkan,  termasuk statu kesehatan, efek
samping potensial, konsekuenskegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan, besar keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan, bahkan norma budaya lingkungan dan orang tua. Untuk ini semua, konseling merupakan bagian integral yang sangat penting dalam pelayanan Keluarga Berencana (Saifuddin, et al. 2004).
Untuk menunjang pelayanan kontrasepsi yang berkualitas diperlukan tenaga pengelola dan pelaksana yang terampil dalam memberikan penjelasan yang bermutu serta tidak meragukan (Murad, et al. 1998).
Tenaga Kesehatan khususnya bidan merupakan Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan yang pada satu sisi adalah unsur penunjang utama dalam pelayanan kesehatan, pada sisi lain, ternyata kondisinya saat ini masih jauh dari kurang, baik pada kuantitas maupun kualitasnya. Disini perlu perhatian pemerintah pada peningkatan  dapemberdayaan  SDKesehatan  secara  profesional.  Utamanya dalam pembentukan sikap dan perilaku profesional SDM Kesehatannya melalui jalur pendidikan formal maupun non formal. Disamping itu, masalah yang perlu mendapat perhatian  darpemerintah  mengenai  SDM  Kesehatan  ini  adalah  kurang  efisien, efektif, dan profesionalisme dalam menanggulangi permasalahan kesehatan. Masih lemahnya kemampuan SDM Kesehatan dalam membuat perencanaan pelayanan kesehatan serta sikap perilaku mereka dalam mengantisipasi permasalahan kesehatan yang terjadi, ternyata tidak sesuai dengan harapan masyarakat (Roesmono, 2006).
Oleh karena itu dalam pelayanan kontrasepsi, para pengelola dan pelaksana pelayanan kontrasepsi perlu memberikan konseling secara akrab dengan kliennya guna memantapkan penerimaan pelayanan kontrasepsinya (Murad, et al. 1998).
Masa  nifas  merupakan  kesempatan  baik  untuk  memberikan  penyuluhan  KB/

penjarangan kelahiran, tetapi hal ini harus disampaikan dengan hati-hati, ramah dan
peka terhadap adat setempat. Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam penyediaan asuhan masa nifas (Wijono, 2003).
KONSELING KB
1.  Pengertian Konseling

Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami  sesuatu  masalah  (klienyang  bermuara  pada  teratasinya  masalah yang dihadapi oleh klien (Prayitno, et al. 2004).
2. Tujuan Konseling oleh Bidan adalah :

a.  Agar calon peserta KB memahami manfaat KB bagi dirinya.

b. Calon peserta KB mempunyai pengetahuan yang baik tentang alasan menggunakan KB, cara menggunakan dan segala hal yang berkaitan dengan kontrasepsi (Sofyan, et al. 2005).
Interaksi  atau  konseling  yang  berkualitas  antara  klien  dan  konselor  (tenaga medis) merupakan salah satu indikator yang sangat menentukan bagi keberhasilan program KB. Sangat mudah dimengerti jika hal itu membuat tingkat keberhasilan KB di Indonesia menurun.
Klien  yang  mendapatkan  konseling  dengan  baik  akan  cenderung  memilih alat   kontraseps denga benar   da tepat Pad akhirny hal   itu   juga   akan menurunkan  tingkat  kegagalan  Kdan  mencegah  terjadinya  kehamilan  yang tidak  diinginkan.
Untuk meraih keinginan tersebut, tentunya sangat diperlukan tenaga-tenaga konselor   yang  profesional Mereka   bukan  hanya  harus  mengert seluk-beluk masalah KB, tetapi juga memiliki dedikasi tinggi pada tugasnya serta memiliki kepribadian  yang  baik,  sabar,  penuh  pengertian,  dan  menghargai  klien.
Dengan demikian, konseling akan benar-benar menghasilkan keputusan terbaik seperti yang diinginkan klien, bukan sekedar konsultasi yang menghabiskan waktu dan biaya.
Siswanto     mengatakan,      di     Indonesia,      konseling      yang     berkualitas      masih sangat  minim  bahkan  masih  sangat  sulit  sekali  menemukan  klinik  yang  secara khusus     menyediakan konseling     yang      memenuhi                standar.              Selain      itu, ia menambahkan, ketidakseimbangan antara jumlah klien dan tenaga medis yang bertugas  sebagai  konselor  juga  aka mempengaruh keberhasilan   konseling.
Selain     itu,     ia     juga     menuturkan      bahwa      keberhasilan       konseling       sangat ditentukan       oleh                          kemahiran           konselor            dalam     memerankan     tugasnya.      Ketika menghadapi klien, ia melanjutkan, seorang konselor hendaknya tidak beranggapan dialah  yanterhebat  sementara  si klien  tidak  tahu  apa-apa.  Hal itu,  justru  akan
memunculkan   jarak  dengan  klien  sehingga  akan  sulit  terjalin  interaksi  yang sebenarnya (Erlina, 2008).
Kenal klien   dengan   baik   denga sika ramah respek tumbuhka rasa saling   percaya Konselor   dapa menunjukkan   bahw klie dapat   berbicara terbuka sekalipun hal yang sensitive. Jawablah pertanyaan yang diajukannya secara lengkap dan terbuka. Jaga kerahasiaan dan jangan membicarakannya kepada orang lain.
Interaksi dengarkan, pelajari dan respon klien. Karena tiap klien itu berbeda, mengerti benar apa yang dibutuhkannya, penuh perhatian, dan mengerti keadaanya. Oleh  karena  itudorong  klien  untuk  bicara  dan  menjawab  tiap pertanyaan  yang diajukan secara terbuka.
Pelajari  informasi  yang  dibutuhkan  klien, sesuaikan dengan tahap kehidupan yang dilaluinya. Contoh, pasangan muda tentunya ingin mengetahui lebih banyak tentang  metoda  sementara  guna  menunda  kehamilan;  wanita  usia  tua  dengan informasi kontrasepsi mantap. Oleh karenanya, konselor memberikan informasi yang akurat dengan bahasa yang dimengerti klien.
Hindarkan informasi berlebihan, karena klien tidak dapat menggunakan semua informasi   tentang   tiap   metod KB.   Informas berlebih   membuat   klien   sulit mengingat      informasi   pentingnya.    Jangan   menyita                      banyak          waktu              dalam menyampaikan pesan/informasi.
Metoda konselor,  diharapkan  dapat membantu  klien menentukan  pilihan, dan menghargai pilihannya. Konseling yang baik dimulai dari apa yang dipikirkan dan diajukan klien. Kemudian mengamati apakah klien memahami metoda tersebut. Termasuk  untung  dan  ruginya,  bagaimana  cara  menggunakannya,  bantu  klien
memikirkan  metoda  lain  juga  dan  bandingkanlah.   Dengan  cara  ini  memberi keyakinan atas metoda pilihannya. Jika tidak ada pertimbangan medis, klien dapat menggunakan metodanya. Yang penting ialah klien menggunakan dalam waktu lama (konsisten) dan efektif (Heti, 2007).
3. Langkah-Langkah Konseling KB (Saifuddin, et al. 2003).

Kata kunci SATU TUJU adalah sebagai berikut :

a.   SA: SApa dan SAlam kepada klien secara terbuka dan sopan. b T: Tanyakan pada klien informasi tentang dirinya.
c.  U: Uraikan kepada klien mengenai pilihannya dan beri tahu apa pilihan reproduksi            yang      paling                     mungkin,             termasuk      pilihan          beberapa jenis kontrasepsi.
d TU: BanTUlah klien menentukan pilihannya

e.   J: Jelaskan secara lengkap bagaimana menggunakan kontrasepsi pilihannya. f.   U: Perlunya dilakukan kunjungan Ulang.
Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No  232

0 comments:

Poskan Komentar