KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN
Tampilkan postingan dengan label KTI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KTI. Tampilkan semua postingan

KTI GAMBARAN KASUS IBU MELAHIRKAN DENGAN BBLR DI RSU XXXX

Minggu, 17 April 2011

                 BAB I
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
BBLR adalah bayi Baru Lahir Dengan Berat badan Lahir kurang dari 2500 gram. Dahulu bayi baru lahir yang berat badan lahir kurang atau sama dengan 2500 gram disebut prematur (Djitowiyono, 2010).
Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah premature beby dengan low birth weight baby (Bayi Dengan Berat Lahir Rendah). Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2500 gram pada waktu lahir bayi prematur. Untuk menentukan apakah bayi baru lahir itu prematur kita dapat melihat dari sesuai masa kehamilan (SMK), dan (BMK) besar masa kehamilan (Sarwono, 2006).
Menurut WHO pada tahun 1995 data BBLR dirincikan sebanyak 17% dari 25 juta persalinan per tahun dan hampir semua terjadi dinegara berkembang (Maulana, 2009).

1
 
Diketahui bersama bahwa pada saat ini angka kematian bayi (AKB) di Indonesia adalah tertinggi di Negara ASEAN. Berdasarkan survei demografi dan kesehatan indenesia (SDKI), Angka Kematian Bayi (AKB) di Indenesia sekarang adalah 35 bayi per 1000 kelahiran.Bila dirincikan 157.000 bayi meninggal dunia per tahun atau  430 bayi meninggal dunia per hari. Dalam Millenium Development Goals (MDG), Indonesia menargetkan pada tahun 2015 angka kematian bayi (AKB) menurun menjadi 17 bayi per 1000 kelahiran.Beberapa penyebab kematian bayi baru lahir (Neonatus) yang terbanyak disebabkan oleh kegawatdaruratan dan penyulit pada masa Neonatus,salah satunya Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Hingga saat ini , Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) masih merupakan masalah  di Dunia karena merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada masa bayi baru lahir (Maryunani, 2009).
Angka kejadian BBLR di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah Multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentan 2,1%-17,2%, Secara nasional berdasarkan analisa, Bayi prematur atau BBLR mempunyai masalah menyusui karena refleks menghisapnya masih lemah. Berdasarkan estimasi dari Survei Demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI). Pada tahun 1992-1997 yaitu secara nasional proporsi bayi dengan berat badan lahir rendah yaitu 7,7% untuk perkotaan 6,6%. Dari data tersebut terlihat bahwa selama kurun waktu tiga tahun memperlihatkan adanya masalah BBLR di rumah sakit Al-fatah  (Ardiansyah, 2010).
Angka kejadian BBLR di Indonesia berkisar 9-30% bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain. Hingga saat ini BBLR masih merupakan masalah di seluruh dunia karena merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada masa bayi baru lahir, Sebanyak 25% bayi baru lahir dengan BBLR meninggal dan 50% meninggal saat bayi (Evariny, 2005).
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) secara umum di propinsi Sulawesi Tengah belum mempunyai angka untuk BBLR yang diperoleh berdasarkan survei. Pada tahun 2007 proporsi BBLR diketahui berdasarkan laporan dari program yang melaporkan kasus BBLR dengan jumlah 537 kasus dan yang ditangani 439 (81,75%) (Ardiansyah, 2010).
Berdasarkan hasil pengumpulan dari indikator kesehatan propinsi yang berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan yang terdapat di Sumatra Utara pada kasus BBLR pada tahun 2000 sebanyak 6,90% (Zaenab, 2009).
Menurut hasil survei awal yang penulis lakukan di RSUD Dr. R. M. ..................... Binjai mempunyai sistem pencatatan di Medical Record dengan pendokumentasian yang lengkap dan sebagai klinik pendidikan kesehatan.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk mengetahui dan melakukan penelitian  tentang Gambaran Kasus Ibu Melahirkan Dengan BBLR di RSUD Dr. R. M. .....................  Binjai Periode Januari-Desember  Tahun 2009.
1.2.            Perumusan Masalah
Bagaimanakah gambaran kasus ibu melahirkan dengan BBLR di RSUD Dr. R. M. ..................... kota Binjai Periode Januari-Desember Tahun 2009?
1.3.          Tujuan Penelitian
1.3.1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran kasus Ibu Melahirkan Dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di RSUD Dr. R. M. ..................... kota Binjai Periode Januari-Desember  Tahun 2009.

1.3.2.       Tujuan Khusus
1.3.2.1  Untuk mengetahui Gambaran Kasus  ibu melahirkan dengan BBLR Berdasarkan usia ibu di RSUD Dr. R. M. .....................  Binjai Periode Januari-Desember  Tahun 2009.
1.3.2.2     Untuk mengetahui Gambaran kasus ibu melahirkan dengan  BBLR berdasarkan paritas ibu di RSUD Dr. R. M. ..................... Binjai januari-Desember Tahun  2009.
1.3.2.3     Untuk mengetahui Gambaran kasus ibu melahirkan dengan  BBLR berdasarkan pekerjaan ibu di RSUD Dr. R. M. ..................... Binjai januari-Desember Tahun  2009.
1.4.      Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi RSUD Dr. R.M. .....................
      Dapat digunakan sebagai masukan dan informasi dalam pelayanan         kebidanan khususnya dalam Bayi Berat Lahir Rendah.
1.4.2 Bagi Peneliti
                    Untuk menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman dalam               penerapan ilmu yang didapat selama pendidikan, khususnya dalam masalah Bayi Berat Lahir Rendah.
        1.4.3 Bagi Institusi
                  Sebagai tambahan bacaan dan juga dapat digunakan sebagai masukan awal untuk penelitian selanjutnya.
Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 66

KTI GAMBARAN KASUS HIPEREMESIS GRAVIDARUM BERAT PADA IBU HAMIL DI RSU XXXX

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar bagi Negara-negara berkembang. Di Negara miskin, sekitar 20-50% kematian wanita usia subur disebabkan hal yang berkaitan dengan kehamilan. Menurut data statistik yang dikeluarkan WHO sebagai badan PBB yang menangani masalah bidang kesehatan, tercatat angka kematian ibu dalam kehamilan dan persalinan di dunia mencapai 515.000 jiwa setiap tahun (Iskandar, 2008).
Angka kematian ibu di Negara tetangga tahun 2003 tercatat 95 per 100.000 kelahiran hidup. Negara anggota ASEAN lainnya, Malaysia tercatat 30 per 100.000 dan Singapura 9 per 100.000 (Siswono, 2003).
Sebab pasti belum diketahui frekuensi kejadian 2 per 1000 kehamilan (Esti, 2009). Penyebab kematian ibu cukup kompleks, dapat digolongkan atas faktor-faktor reproduksi, komplikasi obstetrik langsung telah banyak diketahui dan dapat ditangani, meskipun pencegahannya terbukti sulit. Menurut SKRT 2001, penyebab obstetrik langsung sebesar 90% sebagian besar perdarahan (28%) dan infeksi (11%) penyebab tidak langsung kematian ibu berupa kondisi kesehatan yang di derita misalnya kurang energi kronis (37%) (Inayah, 2008).
Penyebab terpenting kematian maternal di Indonesia adalah perdarahan 40-60%, infeksi 20-30% dan keracunan kehamilan 20-30%, sisanya sekitar 5% disebabkan penyakit lain yang memburuk saat kehamilan (Inayah, 2008).
            Hasil Survey Demografi Indonesia (SDKI) tahun 2007 menyatakan bahwa angka kematian ibu (AKI) di Indonesia mencapai 248 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan di kota Medan jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) diperkirakan 330/100.000 kelahiran hidup ini menunjukkan angka kematian ibu masih lebih besar jika dibandingkan dengan angka kematian ibu di tingkat nasional (Menkes, 2007).
            Hasil pengumpulan data Tingkat Pusat, Subdirektorat kebidanan dan kandungan Subdirektorat Kesehatan Keluarga dari 325 Kabupaten/Kota menunjukan bahwa pada tahun 2003 presentase ibu hamil resiko tinggi dengan hiperemesis gravidarum berat yang dirujuk dan mendapatkan pelayanan kesehatan lebih lanjut sebesar 20,44%. Provinsi dengan presentase tertinggi adalah provinsi Sulawesi Tengah (96,53%) dan di Yogyakarta (76,60%) sedangkan yang terendah adalah provinsi Maluku Utara (3,66%) dan Sumatera Selatan (3,81%) (Profil Kesehatan Indonesia, 2003).
            Mual (nause) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering didapatkan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi setelah 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% terjadi pada multigravida. Satu diantara seribu kehamilan gejala-gejala lain menjadi berat (Sarwono, 2005).
            Hasil survey awal di RSUD. Dr. Pirngadi Medan, angka kejadian ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum berat tahun 2009 sebanyak 34 kasus (82%) dari 280 ibu hamil.
            Berdasarkan uraian dan data-data yang dikemukakan diatas maka penulis tertarik ingin melakukan penelitian dengan mengangkat judul Gambaran Kasus Hiperemesis Gravidarum Berat Pada Ibu Hamil di RSUD. Dr. Pirngadi Medan Tahun 2009.

1.2  Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Gambaran Kasus Hiperemesis Gravidarum Berat Pada Ibu Hamil di RSUD. Dr. Pirngadi Medan Tahun 2009”?.

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1  Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Hiperemesis Gravidarum Berat Pada Ibu Hamil  di RSUD. Dr. Pirngadi Medan Tahun 2009.
1.3.2  Tujuan Khusus 
1.3.2.1  Untuk mengetahui Gambaran Kasus Hiperemesis Gravidarum Berat Pada Ibu Hamil di RSUD. Dr. Pirngadi Medan Tahun 2009 berdasarkan paritas ibu.
1.3.2.2  Untuk mengetahui Gambaran Kasus Hiperemesis Gravidarum Berat Pada Ibu Hamil di RSUD. Dr. Pirngadi Medan Tahun 2009 berdasarkan usia kehamilan.
1.3.2.3  Untuk mengetahui Gambaran Kasus Hiperemesis Gravidarum Berat Pada Ibu Hamil di RSUD. Dr. Pirngadi Medan Tahun 2009 berdasarkan pekerjaan ibu.

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1  Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang hiperemesis gravidarum berat pada ibu hamil.
1.4.2  Bagi Akademi Kebidanan ..................................
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi sumber bacaan bagi mahasiswi Akademi Kebidanan .................................. dalam menerapkan ilmu dan sebagai  acuan penelitian berikutnya.
1.4.3  Bagi RSUD. Dr. Pirngadi Medan
Sebagai masukkan dan bahan informasi untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan kasus hiperemesis gravidarum berat pada ibu hamil di di RSUD. Dr. Pirngadi Medan Tahun 2009 .

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 65

KTI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKAP IBU TERHADAP KB SUNTIK DI KLINIK XXXXXXXX

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Menurut WHO (World Health Organitation)  Keluarga Berencana adalah mendapatkan kelahiran yang memang sangat diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) menjadi visi untuk mewujudkan Keluarga Berkualitas (2005). Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam paradigma baru program Keluarga Berencana ini, misinya sangat menekankan pentingnya upaya menghormati hak-hak reproduksi, sebagai upaya integral dalam meningkatkan kualitas keluarga (Saifuddin, 2006).
 Angka pengguna kontrasepsi menurut WHO, diperkirakan adalah 460 juta, atau sekitar 51% dari pasangan yang beresiko hamil. Metode spesifik yang digunakan adalah Sterilisasi Wanita Sukarela 26%, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) 19%, Kontrasepsi Oral 15%, Sterilisasi Pria Sukarela 10%, Kondom 10%, Koitus Interuptis 8%, Metode Keluarga Berencana Alami 7%, Metode Sawar Vagina 2%, Kontrasepsi Suntik 1%, metode lain 2%             (Pendit, 2006).
Pencapaian peserta KB di Dunia pada Pasangan Usia Subur (PUS) sekitar 56% pasangan dengan rata-rata anak 2,7 orang dan telah menekan pertumbuhan penduduk menjadi 1,9/tahun. Sekalipun telah melampaui perhitungan fase transisi pertumbuhan penduduk, tetapi jumlahnya masih belum sanggup didukung oleh kemampuan negara untuk memberikan berbagai fasilitas (Manuaba, 2008).
 Pengguna akseptor KB di Indonesia sampai Maret 1999 adalah KB Suntik 34,8%, Pil 28,3%, IUD 19,3%, Implant 19,8%, Kontap 5,5%, lain 1,2% (Manuaba, 2008). Program KB menjadi gerakan KB yamg ditujukan terutama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dilandasi oleh Undang-undang No. 10 tahun 1992 tentang kependudukan dan keluarga sejahtera. Program KB di Indonesia mengalami perkembangan pesat, ditinjau dari sudut, tujuan, ruang lingkup geografi, pendekatan, cara operasional, dan dampaknya terhadap pencegahan kelahiran. Penurunan tingkat kelahiran, yaitu dengan menetapkan target penurunan 50% dari 44 pada tahun 1971 menjadi 22 pada tahun 1990 (Suratun, 2008).
Keluarga berencana telah menjadi salah satu sejarah keberhasilan pada abad ke-20. Saat ini hampir 60% pasangan usia reproduktif di seluruh dunia menggunakan kontrasepsi. Hingga saat ini populasi dunia sudah mencapai angka 6 milyar dan lebih dari 120 juta wanita di negara berkembang memiliki cara mencegah kehamilan (Glasier, 2005).
Berdasarkan survei awal di Klinik Nurhalma Medan Tahun 2010 jumlah ibu pengguna KB Suntik sebanyak 50 orang (50%). Penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang ” Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Sikap Ibu Terhadap KB Suntik di Klinik ..................... Medan Tahun 2010”.

1.2  Perumusan Masalah
            Bagaimana ”Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Ibu Terhadap KB Suntik di Klinik ..................... Medan tahun 2010.

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1.   Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi sikap ibu terhadap KB Suntik di Klinik ..................... Medan Tahun 2010.
1.3.2.   Tujuan Khusus
1.3.2.1. Untuk mengetahui  faktor-faktor yang mempengaruhi sikap ibu terhadap KB Suntik di Klinik ....................... Medan Tahun 2010 berdasarkan umur
1.3.2.2. Untuk mengetahui  faktor-faktor yang mempengaruhi sikap ibu terhadap KB Suntik di Klinik ....................... Medan Tahun 2010 berdasarkan paritas
1.3.2.3. Untuk mengetahui  faktor-faktor yang mempengaruhi sikap ibu terhadap KB Suntik di Klinik ....................... Medan Tahun 2010 berdasarkan pendidikan.
1.3.2.4. Untuk mengetahui  faktor-faktor yang mempengaruhi sikap ibu terhadap KB Suntik di Klinik ....................... Medan Tahun 2010 berdasarkan pekerjaan

1.4       Manfaat Penelitian
1.4.1.   Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan acuan dan informasi bagi institusi pendidikan terutama pada perpustakaan Akademi Kebidanan ..................... Medan.
1.4.2.   Bagi Tempat Penelitian
Untuk menambah informasi dan pengetahuan tentang penangangan efek samping penggunaan KB Suntik dan dapat meningkatkan mutu pelayanan KB yang lebih efektif bagi pemakai KB Suntik.
1.4.3.   Bagi Ibu Pemakai KB Suntik
Untuk menambah pengetahuan ibu agar dapat mengetahui pentingnya berKB dan mengetahui keuntungan dan kerugian pemakaian KB Suntik.
1.4.4.   Bagi Penulis
Menambah pengetahuan dan pengalaman diikuti dalam penerapan ilmu yang pernah diikuti selama perkuliahan khususnya mengenai KB.

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No. 64

KTI Tingkat Pengetahuan Pasien Terhadap Efek Samping Dari Radioterapi Di RSU XXXX Medan

Kamis, 31 Maret 2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kemajuan peradaban di dunia dan Indonesia menimbulkan perubahan pola dan gaya hidup masyarakat sehingga berdampak pada perubahan pola penyakit. Hasil riset kesehatan dasar ( Reskesdas ) 2004 menunjukkan kematian akibat penyakit tidak menular telah mengalami peningkatan sedangkan kematian karena penyakit menular mengalami penurunan walaupun hanya sedikit ini berarti terjadi transisi epidemiologi di Indonesia
Banyak upaya yang telah dilakukan bagi penderita kanker, misalnya : pembedahan, obat tradisional dll. Kini kita dapat menggunakan pengobatan radioterapi sebagai salah satu cara untuk menghentikan sel – sel kanker yang kian berkemban
Fasilitas pusat radioterapi yang ada di seluruh Indonesia saat ini baru dapat melayani 15 ribu pasien kanker baru per tahun atau kurang lebih 12 % dari total kebutuhan. Sementara jumlah pasien kanker baru di Indonesia menurut perkiraan sebanyak 200 ribu orang per tahun dan 60 % - 70 % diantaranya memerlukan terapi radiasi baik untuk tindakan pengobatan ataupun perbaikan kualitas hidup pasien
Radioterapi memiliki manfaat sebagai terapi paliatif yaitu untuk menghilangkan rasa sakit atau nyeri akibat kanker. Akan tetapi kita juga harus tau efek dari radioterapi tersebut, sel – sel yang normal akan dipengaruhi oleh radiasi ini efek yang ditimbulkan dari radiasi ini adalah badan kering, mual, muntah, rambut rontok, haus, kesulitan menelan, lelah, lesu dan kulit gosong.
Pasien radioterapi pada umumnya tidak mengetahui efek samping dari radioterapi itu sendiri. Sehingga banyak pasien yang menghentikan terapi karena merasa takut. Sehingga menghambat proses penyembuhan karena hanya dilakukan beberapa kali penyinaran, sedangkan sel – sel ganas masih tumbuh walaupun telah diberi penyinaran.
           
1.2 Rumusan Masalah
Untuk mengetahui bagaimana “Tingkat Pengetahuan Pasien Terhadap Efek Samping Dari Radioterapi  Di RSUP Haji Adam Malik Medan“

1.3 Tujuan Penelitian
1.3 1   Tujuan Umum
Mengukur “ Tingkat Pengetahuan Pasien Terhadap Efek Samping Dari Radioterapi  Di RSUP Haji Adam Malik Medan “
1.3.2        Tujuan Khusus
1.       Mengukur tingkat pengetahuan pasien terhadap efek samping dari radioterapi eksternal di RSUP Haji Adam Malik Medan berdasarkan umur.
2.       Mengukur tingkat pengetahuan pasien terhadap efek samping dari radioterapi eksternal di RSUP Haji Adam Malik Medan berdasarkan pendidikan
3.        Mengukur tingkat pengetahuan pasien terhadap efek samping dari radioterapi eksternal di RSUP Haji Adam Malik Medan berdasarkan jenis kelamin.

1.4   Manfaat Penelitian
1.      Menambah pengetahuan pasien terhadap efek samping yang ditimbulkan oleh radioterapi
2.      Menambah pengetahuan pasien tentang pencegahan efek samping radioterapi
Menambah wawasan dan pengetahuan efek samping yang ditimbulkan serta mengetahui manfaat dari radioterapi

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 63

KTI PERAN AKTIF PASIEN DALAM PENYEMBUHAN PENYAKIT HIPERTENSI DENGAN CARA MERUBAH GAYA HIDUP DI PUSKESMAS XXX

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang umum di masyarakat banyak orang yang menderita penyakit hipertensi tersebut, tetapi tidak manyadarinya. Penyakit ini berjalan terus seumur hidup dan sering tanpa adanya keluhan yang khas selama belum ada komplikasi pada organ tubuh.
(http://group yahoo.com.yundini, 2006)
Sekitar 50% penderita hipertensi tidak menunjukkan gejala yang jelas terutama dalam taraf awal, namun beberapa gejala dapat terjadi secara bersamaan dan di yakini berhubunan denan tekanan darah tinggi (meskipun sesungguhnya tidak demikian). (Srikumalaningsih, 2008).
Diperkirakan sekitar 80% kenaikan kasus hipertensi terutama dinegara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus, ditahun 2000 diperkirakan menjadi 1,15 milyar kasus 2025, prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini. (Armilawaty 2007).
Di Indonesia banyaknya penderita hipertensi diperkirakan 15 juta orang tetapi hanya 4% yang merupakan hipertensi terkontrol, prevalensi 6 – 15% pada orang dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari bahwa sebagai penderita hipertensi sehingga mereka cenderung untuk menjadi mengetahui faktor resikonya dan 90% merupakan hipertensi esensial.
Pada tahun 2004 hipertensi di Indonesia sekitar 13,4% - 14,6% dan di Sumatera Utara sebesar 5,54%. Jumlah kasus hipertensi di Kabupaten Deli Serdang menurut data dari Dinas Kesehatan pada tahun 2004 sebanyak 17,929 dan pada tahun 2006 sebanyak 36,203 penderita. (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Deli Serdang).
Jumlah kasus untuk Puskesmas Rawat Inap Batang Kuis sebanyak 194 penderita pada tahun 2008 – 2009
Gaya hidup dapat mempengaruhi tekanan darah dan meningkatkan resiko terkena hipertensi serta memperburuk hipertensi yang sudah ada.
Bila kita memperbaiki / menambah gaya hidup maka tekanan darah tinggi (hipertensi) dapat diturunkan. (Panduan Sehat Mengatasi Tekanan Darah Tinggi, F. Samuel Gardner 2007).
Pada survey awal pasien yang berobat di Puskesmas Rawat Inap Batang Kuis mempunyai gaya hidup yang tidak baik, dalam proses penyembuhan penyakit hipertensi seperti merokok, tidak berolah raga dan sedikit mengkonsumsi buah dan sayuran.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Peran Aktif Pasien Dalam Penyembuhan Penyakit Hipertensi Dengan Cara Merubah Gaya Hidup di Puskesmas Batang Kuis Kabupaten deli serdang
  
1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui Peran Aktif Pasien Dalam Penyembuhan Penyakit Hipertensi Dengan Cara Merubah Gaya Hidup
1.3.2        Tujuan Khusus
-         Agar pasien dapat menerima kenyataan dan dapat mengatasi panyakit tekanan darah tinggi.
-         Pasien dapat memeriksa kembali nilai – nilai dan tujuan (dapat melakukan intropeksi diri dan befikir tentang gaya hidupnya)
-         Pasien dapat mempraktekkan disiplin diri dan penghidupan secara Rasional

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Pasien
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam meningkatkan derajat kesehatan yang berhubungan dengan penyakit hipertensi
1.4.2        Bagi Peneliti
Sebagai sarana untuk menerapkan ilmu pengetahuan dibidang keperawatan
1.4.3        Bagi Institusi
Khususnya institusi keperawatan ..................................... dapat bermanfaat sebagai masukan untuk pengembangan ilmu dalam melakukan penanganan pasien hipertensi

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 62

KTI Gambaran Penilaian Kinerja Perawat Dalam Memberikan Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit Umum XXXXX Medan

BAB  I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Organisasi pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, pada dasarnya adalah organisasi pelayanan umum. Oleh karenanya rumah sakit perlu memiliki kinerja profesional yang baik sesuai dengan harapan pasien. Selain memberikan pelayanan medis yang profesional. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 kesehatan mencantumkan bahwa tenaga kesehatan harus memenuhi ketentuan kode etik, standar, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan dan standar prosedur operasional.
Kinerja pelayanan kesehatan rumah sakit yakni kinerja perawat dapat dinilai dari segi kompetensi teknis petugas yang berhubungan dengan bagaimana standr pelayanan keperawatan yang telah ditetapkan. Segi hubungan manusia yang berkaitan dengan interaksi antara petugas kesehatan dengan pasien dengan cara menanamkan kepercayaan dan kredibilitas. Pasien merupakan pengguna jasa rumah sakit mempunyai hak untuk menilai kinerja pelayanan keperawatan tersebut. Semakin baik penilaian pasien, akan semakin baik pula kualitas pelayanan keperawatan rumah sakit tersebut. (Sabarguna. 2004).
Kualitas kinerja keperawatan suatu rumah sakit dinilai dari kepuasan pasien yang sedang atau pernah dirawat yang merupakan ungkapan rasa lega atau senang karena harapan tentang suatu kebutuhan pasien terpenuhi oleh kinerja pelayanan keperawatan yang bila diuraikan berarti kepuasan terhadap kenyamanan, kecepatan, pelayanan, keramahan dan perhatian. Sementara rasa puas sendiri mempunyai nilai yang relatif tergantung dari masing-masing individu. (Wijaya. 2008).
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan berbagai macam faktor yang mempengaruhi yaitu tingkat pendidikan, pengetahuan, beban kerja, pelatihan dan masa kerja.
Hal ini dikarenakan bahwa banyaknya perawata melaksanakan asuhan keperawatan memiliki pendidikan, motivasi kerja, beban kerja dan pelatihan yang mendukung terciptanya kinerja mengalami masalah dalam aplikasi di lapangan berupa keterlambatan atau banyaknya proses pengisian asuhan keperawatan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan pihak rumah sakit.
Padahal, keperawatan sebagai profesi merupakan salah satu pekerjaan dimana dalam menentukan tindakannya didasari pada ilmu pengetahuan serta memiliki keterampilan yang jelas dalam keahliannya, selain itu sebagai profesi keperawatan mempunyai otonomi dan kewenangan dan tanggung jawab dalam tindakan serta adanya kode etik dalam bekerjanya, kemudian juga berorientasi pada pelayanan dengan melalui pemberian asuhan keperawatan pada individu, kelompok atau masyarakat.
Asuhan keperawatan itu sendiri merupakan suatu proses dalam praktek keperawatanyang langsung diberikan kepada klien pada berbagai tatanan pelayanan keperawatan, dengan metodologi proses keperawatan, berpedoman pada standar keperawatan, dilandasi etika keperawatan dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab keperawatan. Praktek keperawatan juga merupakan tindakan mandiri, perawat profesional melalui kerjsama berbentuk kolaborasi dengan pasien dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikn asuhan keperawatan sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawabnya.
Berdasarkan penggunaan asuhan keperawatan dalam praktek keperawatan, maka keperawatan dapat dikatakan sebagai profesi yang sejajar dengan profesi dokter, apoteker, dokter gigi dan lain-lain. Dengan demikian keperawatan dapat dikatakan sebagai profesi karena memiliki landasan ilmu pengetahuan yang jelas dan memiliki kode etik profesi. (A. Aziz Alimul Hidayat. 2007).
Rumah Sakit Daerah Wonogiri sebagai rumah sakit pemerintah berkontribusi pada peningkatan keperawatan melalui penyediaan pelayanan medis maupun non medis yang berkualitas. Menurut survey, rumah sakit tersebut telah melakukan penilaian kinerja keperawatan dari sudut pandang pasien. Penelitian mendapatkan hasil kinerja pelayanan kepada pasien sebanyak 21,28% pasien menjawab kurang. Kinerja pelayanan perawat masih cukup pada kategori keramahan dimana sebanyak 22,64% menjawab kurang dan cukup. Kinerja pelayanan makanan secara keseluruhan mendapatkan nilai cukup karena terdapat 47,74% pasien menjawab cukup. (RSUD Wonogiri. 2004).
Bertitik pada uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang ”Gambaran Kinerja Perawat Dalam Memberikan Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit Umum ......................... Medan”.
 1.2        Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti dapat merumuskan permasalahan penelitian yaitu ”Bagaimana Gambaran Penilaian Kinerja Perawat Dalam Memberikan Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit Umum ..................................... Medan”.

1.3        Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian terdiri atas tujuan umum dan tujuan khusus.
1.3.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana gambaran kinerja perawat dalam memberikan asuhan keperawatan di Rumah Sakit Umum ..................................... Medan.
1.3.2        Tujuan Khusus
1.      Untuk mengetahui gambaran kinerja perawat pada tahap pengkajian keperawatan.
2.      Untuk mengetahui gambaran kinerja perawat pada tahap diagnosis keperawatan.
3.      Untuk mengetahui gambaran kinerja perawat pada tahap perencanaan keperawatan.
4.      Untuk mengetahui gambaran kinerja perawat pada tahap implementasi keperawatan.
5.      Untuk mengetahui gambaran kinerja perawat pada tahap evaluasi keperawatan.

1.4        Manfaat Penelitian
1.4.1        Peneliti akan memberikan pengalaman awal dalam melakukan dan menyusun KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan peneliti khususnya tentang melaksanakan asuhan keperawatan yang profesional dalam menunjang peningkatan kinerja perawat.
1.4.2        Hasil penelitian diharapkan berguna bagi perawat dan pasien dalam menerapkan asuhan keperawatan yang professional.
1.4.3        Sebagai bahan bagi mahasiswa-mahasiswi keperawatan unutk melakukan penelitian lebih lanjut.
Memberikan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sebagai bahan bacaan di perpustakaan Akademi Keperawatan ......................................

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 61

KTI Gambaran Pengetahuan Ibu Yang Memiliki Balita Tentang Pelaksanaan Posyandu di Dusun IX Desa XXXX

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kegiatan posyandu merupakan kegiatan nyata yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat yang dilaksanakan oleh kader –kader kesehatan yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan dari puskesmas mengenai pelayanan kesehatan dasar.(Effendi, 2002).
Posyandu demikian singkatan dari pos pelayanan awalnya adalah organisasi pelayanan pencegahan penyakit dan keluarga berencana bagi keluarga kalangan istri berusia subur dan balita posyandu diharapkan lahir dikembangkan atas kesadaran dan upaya masyarakat sendiri, atau partisipasi sosial dari setiap komunikasi di desa dan kelurahan (Indomedia, 2006).
Pelayanan kesehatan terpadu adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dipelayanan program terpadu dibalai dusun, RW dengan pospelayanan terpadu (posyandu) pelayanan kesehatan yang dilaksanakan adalah KIA, KB, P2M (imunisasi dan penanggulangan diare) dan gizi (penimbangan balita), sasaran penduduknya adalah ibu hamil, ibu menyusui, pasangan usia subur (PUS) dan balita. (Muninjaya,Gde.AA, 2004).
Menurut Depkes 1998, posyandu juga dapat diartikan sebagai satu bentuk kegiatan dari PKMD, yang masyarakat melalui kader – kadernya menyelenggarakan lima program perioritas secara terpadu pada tempat dan waktu yang sama dengan bantuan pelayanan langsung dari staf puskesmas. (Eka Sari, 2008)
Pos pelayanan terpadu adalah akronim yang sudah sangat familiar ditelinga masyarakat kita, tapi jujur harus diakui bahwa sampai saat ini masih banyak desa yang belum memiliki organisasi ini. Kalaupun ada, tidak berjalan yang berjalan pun hanya terbatas. Pada kegiatan penimbangan bayi dan pengisian KMS serta pemberian makanan tambahan. Kegiatan posyandu pada saat ini mengalami kemunduran, yang masih berjalan hanya imunuisasi dan gizi dalam pertemuan bulanan. Kegiatan lain tidak berjalan dengan teratur seperti penyuluhan, namun malah kegiatan yang sebenarnya tidak termasuk dalam program posyandu justru yang dilaksanakan oleh paramedis dari puskesmas setempat dengan biaya  yang sesuai dengan kemampuan pasien, pada akhirnya posyandu lebih sebagai tempat masyarakat mencari pengobatan (Indomedia, 2006).
Indeks pembangunan manusia (IPM) tahun 2003 Indonesia menduduki urutan ke  112 dari 174 negara dan hal ini tentunya erat hubungannya dengan pertumbuhan dan perkembangan anak, jumlah penduduk menurut Susensus 2001, adalah : 202.707.418 jiwa, anak usia 0 - 4 tahun 5 – 8% jiwa,anak usia sekolah 5 – 14 tahun 20 – 76%, usia diatas 64 tahun 4 – 6% jiwa. (Indomedia, 2006).
Di Indonesia 153 – 681 bayi mati setiap tahun itu berarti setiap harinya ada 421 orang bayi mati sama dengan 2 orang bayi mati setiap menit, 54% penyebab kematian bayi adalah latar belakang gizi. Kita bisa melihat data selanjutnya pada kondisi Indonesia saat ini 27,3% balita Indonesia gizi kurang, 8% dari mereka gizi buruk,50% balita Indonesia kekurangan vitamin A,48,1%, anemia gizi 36% anak Indonesia tergolong pendek 11,1%, anak sekolah menderita Gaky 50%, ibu hamil kurang gizi (Indomedia, 2006).
Dengan melihat tingginya angka kematian ibu dan anak,maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang dituangkan dalam karya ilmiah yang berjudul “Gambaran Pengetahuan Ibu Yang Memiliki Balita Tentang Pelaksanaan Posyandu di Dusun IX Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang tahun 2009”.

1.2  Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis membuat perumusan masalah yaitu Bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu Yang Memiliki Balita Tentang Pelaksanaan Posyandu di Dusun IX Desa Sei Rotan Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang tahun 2009

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Yang Memiliki Balita Tentang Pelaksanaan Posyandu di Dusun IX Desa Sei Rotan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang tahun 2009
1.3.2        Tujuan Khusus
  1. Untuk mengetahui Distribusi pengetahuan ibu yang memiliki balita tentang pelaksanaan posyandu berdasarkan umur
  2. Untuk mengetahui Distribusi pengetahuan ibu yang memiliki balita tentang pelaksanaan posyandu berdasarkan Pendidikan
  3. Untuk mengetahui Distribusi pengetahuan ibu yang memiliki balita tentang pelaksanaan posyandu berdasarkan paritas
 1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Dusun IX Desa Sei Rotan Kecamatan Percut Sei Tuan
Diharapkan kepada kepala Dusun IX Desa Sei Rotan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan agar dapat memberikan informasi kepada ibu – ibu yang memiliki balita tentang pentingnya pelaksanaan posyandu
1.4.2        Bagi Responden
Bagi para ibu – ibu sebagai sumber informasi serta bahan masukan tentang pentingnya pelaksanaan posyandu
1.4.3        Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan referensi tambahan di perpustakaan Akademi Kebidanan ............................... Kabupaten Deli Serdang
1.4.4        Bagi Peneliti
Sebagai aplikasi ilmu yang didapat selama kuliah dan memperluas wawasan dalam bidang pendidikan khususnya tentang pentingnya pelaksanaan posyandu.
1.4.5        Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 60

KTI GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PENTINGNYA PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK USIA 6 – 8 TAHUN DI DESA XXX

Rabu, 30 Maret 2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Menurut Abineno, menjelaskan bahwa pendidikan seks merupakan pendidikan yang diberikan kepada anak tentang pengetahuan seks dalam hidupnya.
(Suryadi, 2007).
            Periode penting dalam tubuh kembang adalah anak karena pada masa ini pertumbuhan dasar akan mempengaruhi dan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa anak, ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas,kesadaran sosial, emosional, intelegensia, berjalan dengan cepat dan merupakan landasan berikutnya. Dalam perkembangan anak terdapat masa kritis dimana diperlukan rangsangan atas sitimulasi yang berguna agar potensi berkembang. (Purba.A.wb,2008)
            Hubungan anak dengan keluarga umumnya penting tetapi sikap orang tua merupakan unsur paling penting bagaimana pandangan orang tua mengenai kemampuan prestasinya sangat mempengaruhi cara anak untuk memandang dirinya sendiri. (Hurlock,2003)
            memberikan pendidikan seks pada anak sangat penting ,bahkan meski dia tidak bertanya soal itu,sering perkembangan  zaman ,anak bisa mendapatkan informasi seks dimana saja.jangan sampai dai menerima informasi yang salah,karena konsepnya berbeda,”anak yang memiliki konsep beda mengenai seks akan terbawa hingga dewasa dan mempengaruhi pola pikirannya kelak.
            Berbicara masalah seputar seks tidak ada habis – habisnya pendidikan seks sudah dikenal sejak masa seseorang sudah dilahirkan. Secara fisik pengembangan seksual dari anak – anak sampai memasuki usia remaja di pengaruhi hormon  seks. Sejalan dengan berlalunya waktu perkembangan psikoseksual (termasuk biologis dan psikologis) diikuti dengan perkembangan psikoseksual kedua perkembangan itu harus berjalan seimbang karena dapat mempengaruhi kehidupan seksual (Dianawati, 2003).
            Meskipun orang tua dapatmembantu meletakkan dasar penyesuaian diri anak menjadi diri anggota memiliki kesempatan yang besar dalam memperoleh pengalaman balajar teman sebayanya, kematangan seksual anak laki – laki lebih lambat dari pada anak wanita oleh karenanya dianggap bahwa penguasaan tugas perkembangan anak laki – laki baik dan lebih matang dari pada anak wanita. Hal ini disebabkan anak perempuan lebih banyak dibimbing orang dewasa dari pada anak laki – laki sehingga mempunyai kesempatan lebih baik untuk mengusai tugas perkembangan.
            Perbedaan pertumbuhan fisik dan seks hampir tidak banyak menonjol, karena pesatnya pertumbuhan puberitas anak laki – laki sehingga secara seksual menjadi matang (Hurlock, 2003).
            Sejalan berlakunya waktu perkembangan psikoseksual termasuk (fisiologis dan biologis) dan diikuti adanya perkembangan psikoseksual. Tahapan psikoseksual ini harus mengalami sentuhan atau rabaan, pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh seorang anak biasanya tentang perbedaan anggota tubuh laki – laki dan perempuan, peran orang tua harus bersikap terbuka dan selalu siap dalam menjawab semua pertanyaan yang diajukan anak, sesuai dengan kemampuan dalam upaya membimbing mereka tentang seksualitas. (Dianawati, 2003).
            Berdasarkan latar belakang diatas penelitian tertarik untuk melakukan penelitian Bagaimana Pengetahuan Ibu Tentang Pentingnya Pendidikan Seks Pada Anak Usia 6 Sampai 8 Tahun di Desa Sei Rotan Tahun 2009.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis ingin mengetahui Bagaimana Pengetahuan Ibu Tentang Pentingnya Pendidikan Seks Pada Anak Usia 6 Sampai 8 Tahun di Desa Sei Rotan Tahun 2009.

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Pentignya Pendidikan Seks Pada Anak Usia 6 Sampai 8 Tahun di Desa Sei Rotan Tahun 2009.
1.3.2        Tujuan Khusus
  1. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu tentang pentingnya pendidikan seks berdasarkan umur di Desa Sei Rotan.
  2. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu tentang pentingnya pendidikan seks berdasarkan pendidikan di Desa Sei Rotan.
  3. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu tentang pentingnya pendidikan seks berdasarkan pekerjaan di Desa Sei Rotan.
  4. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu tentang pentingnya pendidikan seks berdasarkan paritas di Desa Sei Rotan.
  5. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu tentang pentingnya pendidikan seks berdasarkan sumber informasi di Desa Sei Rotan.

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi ibu-ibu
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan ibu tentang pentingnya pendidikan seks pada anak usia 6 – 8 tahun dan nantinya anak dapat mengenal alat reproduksinya secara dini.
1.4.2        Bagi Instansi Pendidikan
Sebagai bahan referensi tambahan diperpustakaan di Akademi Kebidanan ............................. Kabupaten Deli Serdang.
1.4.3        Bagi Peneliti
Sebagai bahan masukkan bagi peneliti tentang pentingnya pendidikan seks pada anak usia 6 – 8 tahun

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 59

KTI Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Tali Pusat di Rumah Bersalin XXX Medan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Penyakit tetanus neonatorum adalah penyakit yang terjadi pada neonatus (bayi yang berusia kurang dari 1 bulan) yang disebabkan clostridium tetani yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistem saraf pusat. Spora kuman tersebut masuk kedalam tubuh bayi melalui pintu masuk satu satunya yaitu tali pusat, yang dapat terjadi pada saat pemotongan tali pusat ketika bayi lahir maupun pada saat perawatannya sebelum puput (terlepasnya tali pusat). Angka kematian kasus (Case fatality Rate atau CFR) sangat tinggi, pada kasus tetanus neonatorm yang tidak dirawat, angkanya mendekati 100%, terutama yang mempunyai masa inkubasi kurang dari 7 hari angka kematian tetanus neonatorum yang di rawat di RS Indonesia bervariasi dengan kisaran 10,8% - 55%. (Abdul Bahri, 2002).
Clostridium tetani terdapat di tanah dan traktus degistivus manusia serta hewan kuman dapat membuat spora tahan lama dan dapat berkembang biak dalam luka yang koto. Pada bayi penyakit ini ditularkan melalui tali pusat yaitu karena pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril. Selain itu infeksi dapat juga melalui pemakaian obat, bubuk dan daun – daunan yang digunakan dalam perawatan tali pusat. (Hanifa, 2005).
Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk meneliti bahan yang digunakan untuk merawat tali pusat, perawatan tali pusat secara medis menggunakan bahan – bahan antiseptik yang meliputi alkohol 10% atau antimikrobial seperti povidon-iodin 10% (betadine) dan lain – lain yang disebut dengan cara modern, sedangkan metode tradisional mempergunakan madu, minyak chee (india) atau clostrum air susu ibu. Dore (1998) membuktikan adanya perbedaan antara perawatan tali pusat yang menggunakan alkohol pembersih dan dibalut kasa steril. Ia menyimpulkan waktu puput tali pusat kelompok alkohol 9 - 8 hari dan alami kering 8 – 16 hari. Penelitian ini merekomendasikan untuk tidak melanjutkan penggunaan alkohol dalam merawat tali pusat bayi baru lahir. Sedangkan penelitian Kurniawati 2006 di Indonesia membuktikan bahwa waktu pelepasan tali pusat menggunakan air susu ibu (ASI) adalah 127 jam (waktu tercepat 75 jam) dan waktu pelepasan menggunakan teknik kering terbuka tanpa diberi apapun rata – rata 192,3 jam waktu tercpat 11, 3 jam). (Sodikin, 2009).
Menurut WHO tetanus dan penyakit infeksi merupakan penyebab utama kematian bayi. Tetanus neonatorum dan infeksi tali pusat menjadi penyebab kesakitan dan kematian secara terus menerus diberbagai Negara. Setiap tahunnya 500.000 bayi meninggal karena tetanus neonatorum dan 460.000 meninggal akibat infeksi bakteri. Tetanus ini dapat terjadi akibat perawatan atau tindakan yang tidak memenuhi syarat kebersihan misalnya pemotongan tali pusat dengan menggunakan bambu atau gunting yang tidak steril, atau setelah tali pusat dipotong dibubuhi abu, tanah, minyak, daun – daunan dan sebagainya. Tali pusat mempunyai resiko besar untuk terkontaminasi oleh clostridium tetani pada 3 hari pertama kehidupan.
(Sodikin, 2009).
            Penyakit ini masih banyak juga terdapat di Indonesia dan Negara – Negara lain yang sedang berkembang. Mortalitasnya sangat tinggi karena biasanya baru mendapat pertolongan bila keadaan bayi sudah gawat. Penanganan yang sempurna memegang peranan penting dalam menurunkan angka mortalitas. Angka kematian tetanus neonatorum di RS besar di Indonesia mencapai 80%. Untuk menghindari infeksi tali pusat yang dapat menyebabkan sepsis meningitis dan lain – lain, maka  ditempat pemotongan dipangkal tali pusat serta 2,5 cm di sekitar pusat diberi antiseptic selanjutnya tali pusat dirawat dalam kedaan steril atau bersih dan kering. (Hanifa, 2005).
            Sedangkan data kesehatan Propinsi Sumatera Utara pada tahun 2008, angka kematian bayi sekitar 36,7 / 1000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi disibolga 29/1000 kelahiran hidup, penyebab utama kematian bayi baru lahir tersebut adalah karena infeksi tali pusat. (Sumatera Utara, 2007).
            Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Tali Pusat di RB .............................. Marendal Tahun 2009

1.2  Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Tali Pusat di RB .............................. Marendal Tahun 2009
 1.3  Tujuan
1.3.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Tali Pusat di RB .............................. Marendal Tahun 2009
1.3.2        Tujuan Khusus
  1. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu post partum tentang perawatan tali pusat berdasarkan umur di RB .............................. Marendal Tahun 2009.
  2. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu post partum tentang perawatan tali pusat berdasarkan Pendidikan di RB .............................. Marendal Tahun 2009.
  3. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu post partum tentang perawatan tali pusat berdasarkan paritas di RB .............................. Marendal Tahun 2009.

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi RB Fatimah Ali I Marendal
Sebagai bahan masukan bagi Bidan di RB Fatimah Ali I Marendal dalam memberikan penyuluhan kesehatan kepada ibu post partum tentang pentingnya perawatan tali pusat.
1.4.2        Bagi Responden
Sebagai bahan informasi bagi ibu post partum dalam upaya meningkatkan kesehatan bayi baru lahir.
1.4.3        Bagi Instansi Pendidikan
Sebagai bahan referensi tambahan di perpustakaan Akademi Kebidanan .............................. Deli Serdang.
1.4.4        Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai perbandingan untuk melakukan penelitian selanjutnya
1.4.5        Bagi Peneliti
Penelitian ini untuk mengimplementasikan mata pelajaran yang didapat selama kuliah, memperluas wawasan dalam bidang pendidikan khususnya mengetahui tentang perawatan tali pusat pada bayi baru lahir

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 58