KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI Hubungan Pengetahuan dan Sikap Remaja Puteri tentang Dismenorea di SMU XXXXXXX

Minggu, 21 Agustus 2011


Dismenorea merupakan rasa nyeri saat menstruasi yang mengganggu kehidupan         sehari-hari                    wanita            dan         mendorong               penderita     untuk     melakukan pemeriksaan atau konsultasi ke dokter, puskesmas atau datang kebidan. Dikenal dua bentuk dismenorea, yaitu :
a Dismenorea primer, yaitu nyeri haid yang tidak terdapat kelainan organ dimana rahim dala batas normal.
b Dismenorea sekunder,  yaitnyeri haibila terdapat  kelainan organik seperti mioma, polip endometrial, dan endometriosis (Moore, 2001).
Penyebab pasti dismenorea primebelum diketahuiDiduga  faktor  psikis sangat  berperaterhadap  timbulnya  nyeri.  Tetapi teoryang  paling  masuk  akal adalah nyeri pada otot rahim yang disebabkan aliran darah tidak lancar (Llewellyn,
2005).

Etiologi dismenorea berbeda antara dismenorea primer dengan dismenorea sekunder yaitu:
a Dismenorea primer

Dismenorea primer diduga disebabkan oleh kontraksi otot rahim atau iskemi, faktor-faktor   psikologis da faktor-fakto servikal Biasanya   dismenore ini mencapai puncaknya pada umur 17-25 tahun, dan berkurang atau sembuh setelah pernah mengandung (Moore, 2001).
mencapai puncaknya pada umur 17-25 tahun, dan berkurang atau sembuh setelah pernah mengandung (Moore, 2001).
b Dismenorea sekunder

Dismenorea sekunder disebabkan oleh kelainan ginekologi (Wiknjosastro, 2006).

Wanita dengan dismenorea mempunyai peningkatan aktifitas rahimyang ditunjukkan         sebagai                       peningkatan                     tonus     istirahat,     peningkatan     kontraktilitas, peningkatan  frekuensi  kontraksi atau  kerja  yang  tak terkoordinasi.  Bukti bahwa prostaglandin terlibat dalam dismenorea adalah meyakinkan. Cairan haid dari wanita dengan dismenorea mempunyai kadar lebih tinggi daripada kadar prostaglandin normal (Moore, 2001).
Prostaglandin adalah C20 hidrokarbon dengan cincin siklopentan dan dihasilkan oleh enzim mikrosom (sintetaseprostaglandin) dari asam arakidonat. Ketika progesteron disekresi setelah ovulasi, endometrium yang telah mengalami luteinisasi sanggup mensintesis prostaglandin. Jika ada gangguan keseimbangan antara  prostasiklin,  yang  menyebabkan  vasodilatasi  dan  relaksasi  endo metrium, prostaglandin F2α, yang menyebabkan vasokontriksi dan kontrasi miometrium, dan prostaglandin E2, yang menyababkan kontraksi miometrium dan vasodilatasi, sehingga kerja PGF2α   lebih  menonjol,  akaterjadi iskemia  miometrium (angina uterus) dan hiperkontraktilitas uterus. Di sampinitu, vasopressin juga berperan pada dismenorea. Vasopresin meningkatkan sintesis prostaglandin dan dapat bekerja pada arteri-arteri uterus secara langsung (Llewellyn, 2001).
Manisfestasi klinik:

a Dismenorea primer

Ada beberapa tanda klinis yang menunjukkan adanya dismenorea primer, yaitu:

1)  Terjadi pada usia lebih muda (15-25 tahun) dan frekuensi menurun sesuai bertambahnya usia dan biasanya berhenti setelah melahirkan.
2)  Sering terjadi pada nulipara.

3)  Timbusetelaterjadinya  siklus  haid  yang  teratur,  permulaaawal 90%

mengalami gejala di dalam 2 tahun menarche.

4)  Nyeri  timbul  beberapa  jam  mendahului  haid  dan  meningkat  pada  hari pertama atau kedua haid.
5)  Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus spesifik.

6)  Biasanya  nyeri  paling  kuat  terasa  pada  perut  bawah  dan  menyebar  ke punggung atau paha sebelah dalam.
7)  Tidak dijumpai keadaan patologiklvik.

8)  Hanya terjadi pada siklus haid yang ovulatorik.

9)  Sering memberi respons terhadap pengobatan medika mentosa.

10) Pemeriksaan pelvik normal.

11) Sering disertai mual, muntah, diare, kelelahan, dan nyeri kepala. b Dismenorea sekunder
Ada beberapa tanda klinis yang menunjukkan terjadinya dismenorea sekunder, yaitu:
1)  Terjadi pada usia lebih tua (30-40 tahun).

2)  Tidak berhubungan dengan paritas.

3)  Cenderung timbul setelah 2 tahun siklus haid teratur.
4)  Nyeri dimulai saat haid dan meningkat bersama dengan keluarnya darah.

5)  Nyeri sering terasa terus-menerus dan tumpul.

6)  Berhubungan dengan kelainan pelvik

7)  Tidak berhubungan dengan adanya ovulasi.

8)  Sering memerlukan tindakan operatif (Mansjoer, 2002) Ada pun gejala klinis dari dismenorea adalah :
     Nyeri abdomen bagian bawah

     Nyeri menjalar ke daerah pinggang dan paha

•     Disertai sakit kepala, diare, mudah tersinggung, mual dan muntah

Penanganan dismenorea antara lain:

a Dismenorea primer

1)  Konseling

Memberi penjelasan bahwa dismenorea adalah gangguan yang tidak berbahaya untuk kesehatan. Nasehat mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup dan berolahraga bisa membantu mengurangi nyeri.
2)  Pemberian obat analgetik

Obat analgetik yang sering diberikan adalah preparat kombinasi aspirin, fenasetin dan kafein. Obat-obat paten yang beredar di pasaran antara lain novalgin, ponstan, acetaminophen dan lain-lain.
3)  Terapi hormonal

Dengan cara pemberian pil kombinasi kontrasepsi.

4)  Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin.
Pengobatan lainnya dengan pemberian terapi NSAIS (Non-Steroidal Anti- Imflammatory Drugs/obat Non-Steroid Anti-Prostaglandin (Coco, 2005, Cooper, 1996). Kebanyakan pasien yang menderita dismenorea primer menunjukkan perbaikan dengan terapi NSAID ini. Dilaporkan pelajar-pelajar yang sukses dengan menggunakan terapi ini sekitar 64-100%. Obat ini mempunyai rekor yang bagus sejak 15 tahun yang lalu (Coco, 2005).
5)  Dilatasi kanalis servikalis

Merupakan upaya terakhir,  apabila usaha-usaha  lain  gagal (Winkjosastro,

2006).

b Dismenorea sekunder

Penanganan     dismenorea     sekunder    harus    sesuai    dengan     penyebabnya

(Manuaba, 2001).

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No  233

0 comments:

Poskan Komentar