KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR DI KLINIK XXXXXX

Jumat, 03 Juni 2011

BAB I

PENDAHULUAN




A. Latar belakang masalah

Data    Organisasi     Kesehatan    Dunia     World    Health    Organization    (WHO) menunjukkan ada 170 juta anak mengalami gizi kurang di seluruh dunia. Sebanyak 3 juta anak di antaranya meninggal tiap tahun akibat kurang gizi. Angka kematian bayi yang cukup tinggi di dunia sebenarnya dapat dihindari dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI). Meski penyebab langsung kematian bayi umumnya penyakit infeksi, seperti infeksi saluran pernapasan akut, diare, dan campak, tetapi penyebab yang mendasari pada 54 % kematian bayi adalah gizi kurang. Di Indonesia, angka kematian bayi saat ini
35 per 1.000 kelahiran hidup. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat tidak kurang  dari  10  bayi  dan  20  anak  balita  meninggal  dunia  setiap  jam  di  Indonesia (Admin2,   2009,   pekan  ASI  sedunia  2009,     1,   http://www.opensubscriber.com, diperoleh tanggal 09 Oktober 2009).
ASI dalam istilah kesehatan adalah dimulai dari proses laktasi. Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI di produksi sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Laktasi merupakan bagian integral dari siklus reproduksi mamalia termasuk manusia. Masa laktasi mempunyai tujuan meningkatkan pemberian ASI eksklusif dan meneruskan pemberian ASI sampai anak umur 2 tahun secara baik dan benar serta anak mendapat kekebalan tubuh secara alami. ASI diproduksikan oleh organ tubuh wanita yang bernama payudara. (Kristiyansari, W. 2009, hlm.1).
Pemberian ASI secara penuh sangat dianjurkan oleh para ahli gizi diseluruh dunia. Tidak satupun susu formula dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuseorang bayi, seperti yang diperoleh dari kolostrum, yaitu ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran. Kolostrum sangat besar manfaatnya sehingga pemberian ASI pada minggu-minggu pertama mempunyai arti yang sangat penting bagi perkembangan bayi selanjutnya. ASI merupakan makanan yang paling ideal bagi bayi karena mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan bayi. (Krisnatuti, D. 2000, hlm. 5).
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI), menyatakan, organisasinya memiliki standardisasi pelayanan dalam menolong persalinan, yaitu pelaksanaan inisiasi dini dan ASI eksklusif 6 bulan. Di tempat praktik bidan tidak boleh ada promosi, gambar penyuluhan, maupun kaleng susu formula tidak tertutup kemungkinan ada pelanggaran di lapangan. Jika ketahuan, bidan tidak lulus menjadi Bidan Delima status profesionalisme bidan pada praktik swasta IBI mengatur agar anggota tidak mempromosikan susu formula (untuk usia kurang atau sama dengan 6 bulan), tetapi boleh untuk susu formula lanjutan (usia lebih dari 6 bulan). Bidan juga boleh memberi ruang bagi promosi susu untuk ibu hamil dan menyusui. Pengawasan dan evaluasi bidan dilakukan di 170 cabang mencakup lebih dari 6.000 bidan. Kegiatan itu dilakukan tiap tiga bulan (Admin2, 2009, pekan ASI sedunia 2009,  3&5, http://www.opensubscriber.com, diperoleh tanggal 09 oktober 2009).
Perasaan yang melatarbelakangi keputusan wanita untuk menyusui jauh lebih bervariasi.  Pengaruh keluargsangat  kuat  beberapa  wanita  merasa cemas dan tidak percaya diri, perasaan ini semakin kuat jika ibu mereka sendiri atau teman-teman dekat mereka  tidak  berhasil  menyusui.  Wanita  lain  optimis  dan  yakin,  dikuatkan  oleh dukungan pasangan atau teman yang memiliki pengalaman menyusui yang positif. (Moody, J. 2005, hlm. 7).
Hasil penelitian tentang pemberian kolostrum yang di lakukan Krista, SM. 2009, hlm. i. Masih banyaknya ibu yang kurang ataupun cukup mengetahui tentang pentingnya pemberian kolostrum pada bayi baru lahir. Pengetahuan yang kurang dan faktor tingkat pendidikan yang mempengaruhi sehingga informasi ini tidak tersampaikan dengan baik.
Fenomena tersebut di atas menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dan pendidikan ibu tentang ASI masih membingungkan diikuti dengan sumber informasi, kebudayaan         dan            tradisi        keluarga           yang                      turun-temurun  sehingga     mempengaruhi pemberian ASI sesegera mungkin pada bayi diikuti dengan mitos-mitos yang dipercayai turun-temurun. Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan peneliti di Klinik Sari Medan, 3 dari sepuluh orang ibu menyatakan mengetahui tentang pentingnya pemberian kolostrum pada  bayi  baru  lahir  sedangkan  7  lainnya  menyatakatidak  tahu.  Maka peneliti tertarik mengambil judul tentang Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian kolostrum pada bayi baru lahir di Klinik XXX Tahun 2010”


Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 186

0 comments:

Poskan Komentar