KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI Identifikasi faktor penyebab droup out Balita di posyandu setelah imunisasi lengkap

Kamis, 16 Juni 2011

1.1  Latar belakang masalah
             Dalam rangka melaksanakan pembangunan kesehatan masyarakat Desa (PKMD) di Indonesia kita melaksanakan posyandu atau pos pelayanan terpadu. Melalui posyandu masyarakat dapat memperoleh pelayanan dasar paripurna keluarga berencana-kesehatan. Posyandu sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Dengan adanya posyandu diharapkan penurunan angka kematian bayi dan angka kesuburan dapat dipercepat (Depkes RI, 1988).
            Angka kematian bayi merupakan indikator status kesehatan masyarakat yang lebih peka dibanding dengan angka kematian kasar. Adapun faktor penyebab angka kematian bayi adalah akibat penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi yaitu; tetanus, infeksi saluran pernafasan, polio dan lain-lain. Penyebab utama kematian bayi adalah tetanus (9,8 %) bersama dengan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi lainnya seperti difteri, batuk rejan, dan campak, angka kematian menjadi 13% atau sekitar 34.690 bayi setiap tahunnya. Angka ini belum termasuk  anak-anak yang sembuh tetapi meninggalkan cacat seumur hidup, sehingga menjadi beban keluarga (Depkes RI & Kesejahteraan sosial, 2002). Sensus penduduk tahun 1990 menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, dimana angka pertumbuhan penduduk telah turun menjadi 1,97 % setiap tahunnya dengan rata-rata anggota untuk rumah tangga sebesar 4,5 jiwa (BKKBN, 1996).
Masih tingginya angka kematian dan kesuburan di Indonesia berkaitan erat dengan faktor sosial budaya masyarakat seperti tingkat pendidikan penduduk, khususnya wanita dewasa yang masih rendah, kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat dan perilaku masyarakat yang kurang menunjang (Depkes RI,1982). Selain faktor tersebut diatas, rendahnya kunjungan masyarakat ke pelayanan kesehatan di karenakan jauhnya lokasi pelayanan kesehatan dengan rumah penduduk sehingga walaupun masyarakat sudah mempunyai kemauan memeriksakan dirinya ke pelayanan kesehatan, namun karena jauh dan masih memerlukan alat transportasi untuk mencapai tempat pelayanan kesehatan maka diperlukan pengorbanan (Effendy, 1998).
            Berdasarkan faktor status kesehatan masyarakat yang tercermin dalam indikator status kesehatan masyarakat, maka perlu adanya upaya yang lebih spesifik, upaya untuk meningkatkan status kesehatan. Pemerintah telah menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang dikenal dengan posyandu. Posyandu merupakan pelayanan kesehatan primer dan bidan sebagai salah seorang tim kesehatan terdekat dengan masyarakat, khususnya pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita dengan cara penimbangan berat badan, pengamatan fisik dan mental serta penyuluhan kesehatan. Pos pelayanan terpadu merupakan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dalam bentuk pos timbangan , PMT, pos kesehatan dan sebagainya. Dengan motivasi baru yang merupakan bentuk operasional dari pendekatakan strategis keterpaduan 5 program atau KB kesehatan dalam rangka mempercepat peluang angka kematian bayi, balita, penurunan angka fertilitas dalam rangka mempercepat terwujudnya norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS). Disamping itu juga peranan lintas sektoral dan lintas program berpengaruh di keberhasilan posyandu dan juga peningkatan peran serta masyarakat akan mempengaruhi daya guna dan hasil guna posyandu. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pengembangan PKMD/PHC (Effendy, 1998).
            Posyandu seharusnya diperuntukkan bagi anak sampai usia 5 tahun, namun peneliti mengamati kebanyakkan atau rata-rata setiap balita yang sudah mendapat imunisasi lengkap tidak datang lagi ke posyandu atau droup out dari posyandu, dengan berbagai alasan seperti sibuk bekerja, tempat posyandu jauh, dan lain-lain. Dari data sekunder diperoleh jumlah balita usia 1-5 tahun di wilayah kecamatan ............ sejumlah 1284 anak. Sejumlah 88 anak balita di antaranya ada didesa ............ yang  mendapat imunisasi lengkap dan droup out posyandu  sejumlah 22%, sedangkan sejumlah 98 anak balita di antaranya berada di Desa ............ yang mendapat imunisasi lengkap dan droup out sejumlah 21%.
            Tumbuh kembang merupakan proses kotinue sejak dari konsepsi sampai maturitas atau dewasa, yang dipengaruhi faktor bawaan dan lingkungan. Ini berarti bahwa tumbuh kembang sudah terjadi sejak dalam kandungan dan setelah kelahiran merupakan suatu masa dimana mulai saat itu tumbuh kembang anak dapat dengan mudah diamati (Soetjiningsih, 1995). Untuk itu posyandu merupakan salah satu sarana untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Jika anak droup out dari posyandu setelah imunisasi lengkap maka  pemantauan tumbuh kembang anaktidak berlanjut sehingga bila terjadi keterlambatan tumbuh kembang tidak terpantau dengan baik.
            Berdasar manfaat posyandu yang telah disebutkan dalam paragraf diatas maka seharusnya para ibu tetap melakukan penimbangan sampai anak berusia 5 tahun. Karena dengan pemantauan anak  melalui posyandu sampai usia 5 tahun jika ada kelainan tumbuh kembang bisa segera dideteksi dan ditangani.
            Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas maka peneliti ingin melakukan kajian lebih lanjut tentang faktor yang mempengaruhi droup out balita di posyandu setelah imunisasi lengkap. Sehingga hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran bagi para bidan desa dan kader posyandu tentang faktor-faktor yang menyebabkan droup out balita di posyandu  setelah imunisasi lengkap guna mencegah droup out balita di posyandu setelah imunisasi lengkap.


Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 194

0 comments:

Poskan Komentar