KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

BAYI BARU LAHIR DENGAN KASUS BBL DENGAN CAIRAN MEKONIUM DI MULUT DAN HIDUNG

Senin, 09 Januari 2012


BAYI BARU LAHIR DENGAN CAIRAN MEKONIUM
DI MULUT DAN HIDUNG

 A.     Pengertian
1.      Bayi baru lahir atau neonatus adalah bayi yang berumur 0-28 hari bayi baru lahir dapat dibagi menjadi dua :
a.       Bayi normal (sehat) yang memerlukan perawatan biasa.
b.      Bayi gawat (high risk baby) yang memerlukan penanggulangan khusus seperti adanya asfeksia dan pendarahan.

2.      Mekonium adalah tinja pertama bayi matur baru lahir, yang lengket dan berwarna hijau tua. Jika janin tidak mendapat cukup O2 selama kehamilan dan persalinan, janin akan mengeluarkan meconium keluarnya mekonium dari vagina ibu merupakan pertanda bahwa cairan ketuban dan berwarna kekuningan atau hijau muda. (modul 10 : BBL : 1994).

B.     Penyebab Janin Mengeluarkan Mekonium Sebelum Persalinan
Tidak selalu jelas mengapa mekonium dikeluarkan sebelum persalinan, kadang-kadang hal ini terkait dengan kurangnya pasokan O2 (hipaksia). Hipoksia akan meningkatkan peristaltik usus dan relaksasi sfingter ani sehingga isi rektum (mekonium) di ekskresikan. Bayi-bayi dengan resiko tinggi bawat janin (misal : kecil untuk masa kehamilan / KMK atau hamil lewat waktu) ternyata air ketubannya lebih banyak tercampur oleh mekonium (warna kehijauan) dibandingkan dengan air ketuban pada kehamilan normal (APN 2007).

C.     Sindrom Aspirasi Mekonium
Hal ini terjadi bila cairan amnium yang mengandung mekonium terintalasi oleh bayi. Aspirasi mekonium menyebabkan kerusakan fisik jalan udara dan menghalangi pertukaran udara. Mekonium membantu pertumbuhan patogen yang mematikan dalam jalan respirasi, karena mekonium merupakan medium yang baik. Bagi pertumbuhan bakteri. Banyaknya mekonium juga mengandung enzim yang bisa merusak sel epitel disaluran nafas bawah.
Bila tidak segera dibersihkan / dihisap dengan baik, maka saat bayi aktif bernafas setelah lahir, mekonium itu akan tersedot masuk ke jaringan paru, dan bayipun mengalami sesak nafas. (Tizzi Daffa. Multipl.com).



RESUSITASI BAYI BARUL LAHIR

A.     Penilaian
Sebelum bayi lahir, sesudah ketuban pecah
a.       Apakah air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan) pada presentasi kepala.

Segera setelah bayi lahir
  1. Apakah bayi menangis, bernafas spontan dan teratur, bernafas megap-megap atau tidak bernafas
  2. Apakah bayi lemas atau tungkai

B.     Keputusan
Putusan perlu dilakukan tindakan resustasi apabila :
a.       Air ketuban bercampur mekonium
b.      Bayi tidak bernafas atau megap-megap
c.       Bayi cemas atau tungkai

C.     Tindakan
Segera lakukan tindakan apabila :
a.       Bayi tidak bernafas atau megap-megap atau lemas, lakukan langkah-langkah resustasi BBL

1.      Persiapan Resustasi BBL
Di dalam setiap persalinan penolong harus selalu siap melakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir. Kesiapan untuk bertindak dapat menghindarkan kehilangan waktu yang sangat berharga bagi upaya pertolongan. Walaupun hanya beberapa menit tidak bernafas, bayi baru lahir dapat mengalami kenaikan otak.
a.       Persiapan keluarga
Sebelum menolong persalinan, bicarakan dengan keluarga mengenai kemungkinan-kemungkinan yang dapat pada ibu dan bayinya.

b.      Persiapan tempat resusitasi
Persiapan yang diperlukan meliputi ruang bersalin dan tempat resusitasi gunakan ruangan yang hangat dan terang. Tempat resusitasi hendaknya rata keras, bersih dan kering, misalnya meja, dipan atau di atas lantai beralas tikar kondisi yang rata diperlukan untuk mengatur posisi kepala bayi tempat resusitasi sebaiknya didekat sumber pemanas (misal : lampu surat) dan tidak banyak tiupan angin (jendela atau pintu yang terbuka biasanya digunakan lampu surat atau bahkan berdaya 60 watt atau lampu gas minyak bumi (petromax, nyalakan lampu menjelang kelahiran bayi

c.       Persiapan alat
Sebelum menolong persalinan, selain peralatan persalinan, siapkan juga alat-alat resusitasi dalam keadaan siap pakan, yaitu :
-         2 helai kain / handuk
-         Bahan ganjal bahu bayi, berupa kain, kaos, selendang, handuk kecil/bantul kecil
-         Alat penghisap lendir delle atau bulu karet
-         Tabung dan sungkap atau balon atau sungkup neonatal
-         Kotak alat resusitasi
-         Jam atau pencatat waktu.

2.      Langkah-langkah Resusitasi BBL
a.       Langkah awal
Sambil melakukan langkah awal
Beritahu ibu dan keluarganya bahwa bayinya memerlukan bantuan untuk memulai bernafas dan minta keluarga mendampingi ibu.
Langkah awal perlu dilakukan secara cepat (dalam waktu 30 detik) secara umum 6 langkah awal dibawah ini cakup untuk merangsang bayi baru lahir.

b.      Jaga bayi tetap hangat
-         Alat pemancar panas telah diaktifkan sebelumnya sehingga tempat meletakkan bayi hanya.
-         Letakkan bayi di atas kain yang ada di atas perut ibu atau dekat perineum dan selimuti bayi dengan kain tersebut, potong tali pusat.
-         Pindahkan bayi keatas kain ke tempat resusitasi di bawah alat pemancar panas tubuh dan kepala bayi dikeringkan dengan menggunakan handuk dan selimut hangat (apabila diperlukan penghisapan mekonium, dianjurkan menunda pengeringan tubuh yaitu setelah mekonium dihisap dari trakea).

c.       Atur posisi bayi
-         Baringkan bayi terlentang di alas yang di atas dengan kepala didekat penolong
-         Ganjal bahu agar kepala sedikit ekstensi, sehingga bahu terangkat ¾ sampai 1 inci (2-3 cm).

d.      Isap Lendir / Bersihkan jalan nafas
-         Kepala bayi dimirngkan agar cairan berkumpul di mulut dan tidak difaring bagian belakang.
-         Mulut dibersihkan terlebih dahulu dengan maksud.
·        Cairan tidak teraspirasi
Hisapan pada hidung akan menimbulkan pernafasan megap-megap
-         Apabila mekonium kental dan bayi mengalami depresi harus dilakukan penghisapan dari trakea dengan menggunakan pipa endotrakea (pipa et)

e.       Keringkan dan rangsang bayi
-         Keringkan bayi mulai dari mulut kepala dan bagian tubuh lainnya dengan sedikit tekanan rangsangan ini dapat memulai pernafasan bayi atau pernafasan lebih baik.
-         Lakukan rangsangan taktil dengan beberapa cara di bawah ini :
·        Menepuk atau menyentil telapak kaki
·        Menggosok punggung, perut, dada, atau tungkai bayi dengan telapak tangan.

f.        Atur kembali posisi kepala dan selimuti bayi
-         Ganti kain yang telah basah dengan kain bersih dan kering yang baru
-         Selimuti bayi dengan kain tersebut, jangan tutupi bagian muka dan dada agar pemantauan pernafasan bayi dapat diteruskan
-         Atur kembali posisi terbalik kepala bayi sedikit ekstensi

g.       Lakukan penilaian bayi.
-         Lakukan penilaian apakah bayi bernafas normal, megap-megap atau tidak bernafas
·        Letakkan bayi diatas dada ibu dan selimuti keduanya untuk menjaga kehangatan tubuh bayi melalui persentuhan kulit ibu-bayi.
·        Anjurkan ibu untuk menyusukan bayi sambil membelainya
-         Bila bayi tidak bernafas atau megap-megap segera lakukan tindakan ventilasi.
Ventilasi adalah bagian dari tindakan resusitasi untuk memasukkan sejumlah udara ke dalam paru-paru dengan tekanan positif yang memadai untuk membuka, alveoli paru agar bayi bisa bernafas spontan dan teratur.
  1. Pasang Sungkup
Pasang sungkup agar menutupi mulut dan hidung bayi

  1. Ventilasi percobaan (2 x)
a.       Lakukan tiupan udara dengan tekanan 30 cm air.
Tiupan awal ini sangat penting untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa memulai bernafas dan sekaligus menguji apakah jalan nafas terbuka dan bebas.
b.      Lihat apakah dada bayi mengembang
Bila tidak mengembang maka :
-         Periksa posisi kepla, pastikan posisinya sudah benar
-         Perksa pemasangan sungkup dan pastikan tidak terjadi kebocoran
-         Periksa ulang apakah jalan napas tersumbat cairan atau lendir (isap kembali)

  1. Ventilasi Definitif (20 kali dalam 30 detik)
a.       Lakukan tiupan dengan tekanan 20 cm air,m 20 kali dalam 30 detik.
b.      Pastikan udara masuk (dada mengembang) dalam 30 detik tindakan.

  1. Lakukan penilaian
a.       Bila bayi sudah bernapas normal, hentikan ventilasi dan pantau bayi, bayi diberikan asuhan pasca resusitasi
b.      Bila bayi belum bernapas atau megap-megap, lanjutkan ventilasi
-         Lakukan ventilasi dengan tekanan 20 cm air, 20x untuk 30 detik berikutnya
-         Evaluasi hasil ventlasi setiap 30 detik
-         Lakukan penilaina bayi apakah bernafas, tidak bernafas atau megak-megap. Bila bayi sudah mulai bernapas normal, hentikan ventlasi dan pantau bayi dengna seksama, berikan asuhan pasca resusitasi.
Bila bayi tidak bernapas atau megap-megap, teruskan ventilasi dengan tekanan 20 cm air, 20 x untuk 30 detik berikutnya dan nailai haslnya setiap 30 detik.
c.       Siapkan rujukan bila bayi belum bernapas normal sesudah 2 menit di ventilasi
-         Minta keluarga membantu persiapan rujukan
-         Teruskan resusitasi sementara persiapan rujuakn dilakukan
d.      Bila bayi tidak dirujuk
-         Lanjutkan ventilasi sampai 20 menit
-         Pertimbangkan untuk menghentikan tindakan resusitasi jika setelah 20 menit, upaya ventilasi tidak berhasil.

Bayi yang tidak bernapas normal setelah 20 menit diresusitasi akan mengalami kerusakan otak. Sehingga akan menderita kecacatan yang berat/meninggal. 


DAFTAR PUSTAKA
 
Babak, Irene M, 2000, Perawatan Maternitas dan Ginekologi, Bandung YIA-PKP
 DEPKES, RI, 2007, Asuhan Persalinan Normal, Jakarta, JNPK-KR
 Depkes RI, 1994, Bayi Baru Lahir, Jakarta.
 Saifuddin, Abdaul Basri, 2002, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta, JNPK-KR.
 Tizzy Daffa, Multi.com, 

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan

0 comments:

Poskan Komentar