KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

IBU HAMIL LETAK SUNGSANG

Senin, 16 Januari 2012


KEHAMILAN SUNGSANG
1. Pengertian Kehamilan Sungsang
Kehamilan pada bayi dengan presentasi bokong (sungsang) dimana bayi letaknya sesuai dengan sumbu badan ibu, kepala berada pada fundus uteri, sedangkan bokong merupakan bagian terbawah di daerah pintu atas panggul atau simfisis (Prof.Dr.Ida Bagus Gede Manuaba,SpOG,1998).

2. Persalinan Letak Sungsang
Kejadian letak sungsang berkisar antara 2-3% bervariasi di berbagai tempat. Sekalipun kejadian kecil, tetap mempunyai penyulit yang besar dengan angka kematian sekitar 20-30%( Sarwono Prawirohardjo,2002).
Pada letak kepala, kepala yang merupakan bagian terbesar lahir terlebih dahulu, sedangkan pesalinan letak sungsang justru kepala yang merupakan bagian terbesar bayi akan lahir terakhir.
Persalinan kepala pada letak sungsang tidak mempunyai mekanisme “Maulage” karena susunan tulang dasar kepala yang rapat dan padat, sehingga hanya mempunytai waktu 8 menit, setelah badan bayi lahir. Keterbatasan waktu persalinan kepala dan tidak mempunyai mekanisme maulage dapat menimbulkan kematian bayi yang besar (Prof.Dr.Ida Bagus Gede Manuaba,SpOG,1998).

3.Bentuk-Bentuk Letak Sungsang (Prof.Dr.Ida Bagus Gede Manuaba,SpOG,1998)).
Berdasarkan komposisi dari bokong dan kaki dapat ditentukan bentuk letak sungsang sebagai berikut :
A.     Letak Bokong Murni
1.      Teraba bokong
2.      Kedua kaki menjungkit ke atas sampai kepala bayi
3.      Kedua kaki bertindak sebagai spalk
B.     Letak Bokong Kaki Sempurna
1.      Teraba bokong
2.      Kedua kaki berada di samping bokong
C.     Letak Bokong Tak Sempurna
1.      Teraba bokong
2.      Disamping bokong teraba satu kaki
D.     Letak Kaki
1.      Bila bagian terendah teraba salah satu dan atau kedua kaki atau lutut
2.      Dapat dibedakan letak kaki bila kaki terendah ; letak bila lutut terendah
Untuk menentukan berbagai letak sungsang dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan dalam, pemeriksaan foto abdomen, dan pemeriksaan ultrasonografi.
Letak Bokong Murni                           Þ   Flexi pada paha, extensi pada lutut, ini merupakan jenis yang tersering dan meliputi hampir 2/3 presentasi bokong.
Letak Bokong Kaki Sempurna Þ Flexi pada paha dan lutut (Frant Greech).
Letak Bokong Tak Sempurna / lutut  Þ Satu atau dua kaki dengan ekstensi pada kaki merupakan bagian terendah (Fn Complek Breech).

4.Etiologi
            Faktor-faktor presentasi bokong meliputi prematuritas, air ketuban yang berlebihan. Kehamilan ganda, plasenta previa, panggul sempit, fibra, myoma,hydrocepalus dan janin besar. Banyak yang diketahui sebabnya, ada pesentasi bokong membakal. Beberapa ibu melahirkan bayinya semua dengan presentasi bokong menunjukkan bahwa bentuk panggulnya adalah sedemikian rupa sehingga lebih cocok untuk presentasi bokong daripada presentasi kepala.. Implantasi plasenta di fundus atau di tonus uteri cenderung untuk mempermudah terjadinya presentasi bokong ( Harry oxorn,1996 )

Penyebab letak sungsang dapat berasal dari
1.      Sudut Ibu
a.       Keadaan rahim
1)      Rahim arkuatus
2)      Septum pada rahim
3)      Uterus dupleks
4)      Mioma bersama kehamilan
b.      Keadaan plasenta
1)      Plasenta letak rendah
2)      Plasenta previa
c.       Keadaan jalan lahir
1)      Kesempitan panggul
2)      Deformitas tulang panggul
3)      Terdapat tumor menjalani jalan lahir dan perputaran ke posisi kepala
2.      Sudut janin
Pada janin tedapat berbagai keadaan yang menyebabkan letak sungsang :
1)      Tali pusat pendek atau lilitan tali pusat
2)      Hedrosefalus atau anesefalus
3)      Kehamilan kembar
4)      Hidroamnion atau aligohidromion
5)      Prematuritas

Dalam keadaan normal, bokong mencapai tempat yang lebih luas sehingga terdapat kedudukan letak kepala. Disamping itu kepala janin merupakan bagian terbesar dan keras serta paling lambat. Melalui hukum gaya berat, kepala janin akan menuju kearah pintu atas panggul. Dengan gerakan kaki janin, ketegangan ligamentum fatundum dan kontraksi braxson hicks, kepala janin berangsur-angsur masuk ke pintu atas panggul.


5.Mekanisme persalinan letak sungsang fisiologis
Mekanisme persalinan letak sungsang berlangsung sebagai berikut :
a)      Persalinan bokong
b)      Persalinan bahu
c)      Persalinan kepala
( Prof. Dr. Ida Bagus Gede Manuaba, SPOG,1998)
bokong masuk pintu atas panggul dapat melintang atau miring mengikuti jalan lahir dan melakukan putaran paksi dalam sehingga trochanter depan berada di bawah simfisis. Dengan trochanter depan sebagai hipomoklion akan lahir trochanter belakang dan selanjutnya seluruh bokong lahir untuk melakukan putaran paksi dalam sehingga bahu depan berada dibawah simfisis. Dengan bahu depan sebagai hipomoklion akan lahir bahu belakang bersama dengan tangan belakang diikuti kelahiran bahu depan dan tangan depan.
Bersamaan dengan kelahiran bahu, kepala bayi memasuki jalan lahir dapat melintang atau miring, serta melakukan putaran paksi dalam sehingga suboksiput berada di bawah simfisis. Suboksiput menjadi hipomuklion, berturut-turut akan lahir dagu, mulut, hidung, muka dan kepala seluruhnya.
Persalinan kepala mempunyai waktu terbatas sekitar 8 menit, setelah bokong lahir. Melampaui batas 8 menit dapat menimbulkan kesakitan /kematian bayi  ( Prof. Dr. Ida Bagus Gede Manuaba, SPOG,1998).

6.Diagnosa kedudukan
1.      Pemeriksaan abdominal
a.    Letaknya adalah memanjang.
b.      Di atas panggul terasa massa lunak mengalir dan tidak terasa seperti kepala. Dicurigai bokong. Pada presentasi bokong murni otot-otot paha teregama di atas tulang-tulang dibawahnya, memberikan gambaran keras menyerupai kepala dan menyebabkan kesalahan diagnostic.
c.       Punggung ada di sebelah kanan dekat dengan garis tengah bagian-bagian kecil ada di sebelah kiri, jauh dari garis tengah dan di belakang.
d.      Kepala berada di fundus uteri. Mungkin kepala cukup diraba bila kepala ada di bawah tupar/iga-iga. Kepala lebih keras dan lebih bulat dari paha bokong dan kadang-kadang dapat dipantulkan (Balloffablle) dari pada bokong uteri teraba terasa massa yang dapat dipantulkan harus dicurigai presentasi bokong.
e.       Tonjolan kepala tidak ada bokong tidak dapat dipantulkan
2.      Denyut jantung janin
Denyut jantung janin terdengar paling keras pada atau di atas umbilicus dan pada sisi yang sama pada punggung. Pada RSA (Right Sacrum Antorior) denyut jantung janin terdengar paling keras di kuadrat kanan atas perut ibu kadang-kadang denyut jantung janin terdengar di bawah umbilicus
3.      Pemeriksaan vaginal
1)      Bagian terendah teraba tinggi
2)      Tidak teraba kepala yang keras, rata dan teratur dengan garis-garis sutura dan fantenella. Hasil pemeriksaan negatif ini menunjukkan adanya mal presentasi.
3)      Bagian terendahnya teraba lunak dan ireguler. Anus dan tuber ichiadicum terletak pada satu garis. Bokong dapat dikelirukan dengan muka.
4)      Kadang-kadang pada presentasi bokong murni sacrum tertarik ke bawah dan teraba oleh jari-jari pemeriksa. Ia dapat dikelirukan dngan kepala oleh karena tulang yang keras.
5)      Sakrum ada di kuadran kanan depan panggul dan diameter gitochanterika ada pada diameter obligua kanan.
4.      Pemeriksaan Sinar X
Sinar X menunjukkan dengan tepat sikap dan posisi janin, demikian pula kelainan-kelainan seperti hydrocephalus.
 
7.Konsep Penatalaksanaan Letak Sungsang (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal,2002)
            Pertolongan persalinan letak sungsang memerlukan perhatian karena dapat menimbulkan komplikasi kesakitan, cacat permanen sampai dengan kematian bayi. Menghadapi kehamilan letak sungsang dapat diambil tindakan :
Menurut Sarwono Prawirohardjo, berdasarkan jalan lahir yang dilalui, maka persalinan sungsang dibagi menjadi :
1.Persalinan Pervaginam
a.       Spontaneous breech (Bracht)
b.      Partial breech extraction : Manual and assisted breech delivery
c.       Total breech extraction
2.Persalinan per abdominal : Seksio Sesaria

Pada Persalinan secara Bracht ada 3 tahap :
1.      Fase Lambat (Bokong lahir sampai umbilikus / scapula anterior),
2.      Fase Cepat (Dari umbilikus sampai mulut / hidung)
3.      Fase Lambat (Dari mulut / hidung sampai seluruh kepala)

Prosedur Persalinan Bayi Sungsang ( Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal,2002)
Langkah klinik
1.Persetujuan tindakan medik
2.Persiapan Pasien :
a)      Ibu dalam posisi litotomi pada tempat tidur persalinan
b)      Mengosongkan kandung kemih , rektum serta membersihkan daerah perenium dengan antiseptik
Instrumen :
a)      Perangkat untuk persalinan
b)      Perangkat untuk resusitasi bayi
c)      Uterotonika (Ergometrin maleat, Oksitosin)
d)      Anastesi lokal (Lidokain 2%)
e)      Cunam piper, jika tidak ada sediakan cunam panjang
f)        Semprit dan jarum no.23 (sekali pakai)
g)      Alat-alat infus
h)      Povidon Iodin 10%
i)        Perangkat episiotomi dan penjahitan luka episiotomi
3.Persiapan Penolong
a)      Pakai baju dan alas kaki ruang tindakan, masker dan kaca mata pelindung
b)      Cuci tangan hingga siku dengan di bawah air mengalir
c)      Keringkan tangan dengan handuk DTT
d)      Pakai sarung tangan DTT / steril
e)      Memasang duk (kain penutup)
4.Tindakan Pertolongan Partus Sungsang
a)      Lakukan periksa dalam untuk menilai besarnya pembukaan, selaput ketuban dan penurunan bokong serta kemungkinan adanya penyulit.
b)      Intruksikan pasien agar mengedan dengan benar selama ada his.
c)      Pimpin berulang kali hingga bokong turun ke dasar panggul, lakukan episiotomi saat bokong membuka vulva dan perineum sudah tipis.
d)      Melahirkan bayi :
                                              I.      Cara Bracht
1)      Segera setelah bokong lahir, bokong dicekam secara bracht (kedua ibu jari penolong sejajar dengan panjang paha, jari-jari yang lain memegang daerah panggul).
2)      Jangan melakukan intervensi, ikuti saja proses keluarnya janin.
3)      Longgarkan tali pusat setelah lahirnya perut dan sebagian dada.
4)      Lakukan hiperlordosis janin pada saat anguluc skapula inferior tampak di bawah simfisis (dengan mengikuti gerak rotasi anterior yaitu punggung janin didekatkan ke arah perut ibu tanpa tarikan) disesuaikan dengan lahirnya badan bayi.
5)      Gerakkan ke atas hingga lahir dagu, mulut, hidung, dahi dan kepala.
6)      Letakkan bayi di perut ibu, bungkus bayi dengan handuk hangat, bersihkan jalan nafas bayi, tali pusat dipotong.
                                           II.      Cara Klasik (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal,2002)
Pengeluaran bahu dan tangan secara klasik dilakukan jika dengan Bracht bahu dan tangan tidak bisa lahir.
Prosedur :
1)      Segera setelah bokong lahir, bokong dicekam dan dilahirkan sehingga bokong dan kaki lahir.
2)      Tali pusat dikendorkan.
3)      Pegang kaki pada pergelangan kaki dengan satu tangan dan tarik ke atas
a.       Dengan tangan kiri dan menariknya ke arah kanan atas ibu untuk melahirkan bahu kiri bayi yang berada di belakang.
b.      Dengan tanggan kanan dan menariknya ke arah kiri atas ibu untuk melahirkan bahu kanan bayi yang berada di belakang.
4)      Masukkan dua jari tangan kanan atau kiri (sesuai letak bahu belakang) sejajar dengan lengan bayi, untuk melahirkan lengan belakang bayi.
5)      Setelah bahu dan lengan belakang lahir kedua kaki ditarik ke arah bawah kontra lateral dari langkah sebelumnya untuk melahirkan bahu dan lengan bayi depan dengan cara yang sama.

                                         III.      Cara Muller
Pengeluaran bahu dan tangan secara Muller dilakukan jika dengan cara Bracht bahu dan tangan tidak bisa lahir.
1)      Melahirkan bahu depan terlebih dahulu dengan menarik kedua kaki dengan cara yang sama seperti klasik, ke arah belakang kontra lateral dari letak bahu depan.
2)      Setelah bahu dan lengan depan lahir dilanjutkan langkah yang sama untuk melahirkan bahu dan lengan belakang.
                                        IV.      Cara Lovset (Dilakukan bila ada lengan bayi yang terjungkit di belakang kepala / nuchal arm)
1)      Setelah bokong dan kaki bayi lahir memegang bayi dengan kedua tangan.
2)      Memutar bayi 180o dengan lengan bayi yang terjungkit ke arah penunjuk jari tangan yang muchal.
3)      Memutar kembali 180o ke arah yang berlawanan ke kiri atau ke kanan beberapa kali hingga kedua bahu dan lengan dilahirkan secara Klasik atau Muller.
                                           V.      Ekstraksi Kaki
Dilakukan bila kala II tidak maju atau tampak gejala kegawatan ibu-bayi. Keadaan bayi / ibu mengharuskan bayi segera dilahirkan.
1)      Tangan kanan masuk secara obstetrik melahirkan bokong, pangkal paha sampai lutut, kemudian melakukan abduksi dan fleksi pada paha janin sehingga kaki bawah menjadi fleksi,tangan yang lain mendorong fundus ke bawah. Setelah kaki fleksi pergelangan kaki dipegang dengan dua jari dan dituntun keluar dari vagina sampai batas lutut.
2)      Kedua tangan penolong memegang betis janin, yaitu kedua ibu jari diletakkan di belakang betis sejajar sumbu panjang paha dan jari-jari lain di depan betis, kaki ditarik turun ke bawah sampai pangkal paha lahir.
3)      Pegangan dipindah ke pangkal paha sehingga mungkin dengan kedua ibu jari di belakang paha, sejajar sumbu panjang paha dan jari lain di depan paha.
4)      Pangkal paha ditarik curam ke bawah sampai trokhanter depan lahir kemudian pangkal paha dengan pegangan yang sama dievaluasi ke atas hingga trokhanter belakang lahir. Bila kedua trokhanter lahir berarti bokong telah lahir.
5)      Sebaliknya bila kaki belakang yang dilahirkan lebih dulu, maka yang akan lahir lebih dahulu ialah trokhanter belakang dan untuk melahirkan trokhanter depan maka pangkal paha ditarik terus cunam ke bawah.
6)      Setelah bokong lahir maka dilanjutkan cara Clasik , atau Muller atau Lovset.
                                        VI.      Teknik Ekstraksi Bokong
Dikerjakan bila presentasi bokong murni dan bokong sudah turun di dasar panggul, bila kala II tidak maju atau tampak keadaan janin lebih dari ibu yang mengharuskan bayi segera dilahirkan.
1)      Jari penunjuk penolong yang searah dengan bagian kecil janin, dimasukkan kedalam jalan lahir dan diletakkan dilipatan paha bagian depan. Dengan jari ini lipat paha atau krista iliaka dikait dan ditarik curam ke bawah. Untuk memperkuat tenaga tarikan ini, maka tangan penolong yang lain menekam pergelangan tadi dan turut menarik curam ke bawah.
2)      Bila dengan tarikan ini trokhanter depan mulai tampak di bawah simfisis, maka jari telujuk penolong yang lain mengkait lipatan paha ditarik curam ke bawah sampai bokong lahir.
3)      Setelah bokong lahir, bayi dilahirkan secara Clasik , atau Muller atau Lovset.
Cara Melahirkan Kepala Bayi
Cara Mauriceu (dilakukan bila bayi dilahirkan secara manual aid bila dengan Bracht kepala belum lahir).
1)      Letakkan badan bayi di atas tangan kiri sehingga badan bayi seolah-olah memegang kuda (Untuk penolong kidal meletakkan badan bayi di atas tangan kanan).
2)      Satu jari dimasukkan di mulut dan dua jari di maksila.
3)      Tangan kanan memegang atau mencekam bahu tengkuk bayi
4)      Minta seorang asisten menekan fundus uteri.
5)      Bersama dengan adanya his, asisten menekan fundus uteri, penolong persalinan melakukan tarikan ke bawah sesuai arah sumbu jalan lahir dibimbing jari yang dimasukkan untuk menekan dagu atau mulut..

5.Manajemen Kala III
1. Lahirkan plasenta secara spontan atau manual apabila ada indikasi.
2. Luka episiotomi atau robekan perenium dijahit.
3. Beri Uterustonika atau medikamentosa yang diperlukan.
4. Awasi kala IV.
5. Lakukan pemeriksaan dan pengawasan nifas.
6.Dokumentasi
7.Cuci tangan pasca tindakan
a.       1.Periksa kembali tanda vital pasien, segera buat intruksi bila diperlukan.
2.Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan dalam kolom yang tersedia.
b.      Beri tahu pada pasien pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai dilakukan dan masih memerlukan perawatan.
c.       Jelaskan pada petugas tentang perawatan, jadwal pengobatan dan pemantauan sejak gejala-gejala yang harus diwaspadai.
(Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal,2002)

DAFTAR PUSTAKA
1.Prof.Dr.Ida Bagus Gede Manuaba,SpOG;1998.Ilmu KebidananPenyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan.Jakarta,EGC.
2.Oxorn,Harry&Forte,William R;1996.Ilmu Kebidanan Patologi & Fisiologi.Jakarta,Yayasan Essentia Medica.
3.Prawirohardjo, Sarwono;2002.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal.Jakarta,JNPKKR_POGI.

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan

0 comments:

Poskan Komentar