KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

BAYI BARU LAHIR DENGAN KASUS TETANUS NEONATORUM

Senin, 16 Januari 2012


TETANUS NEONATORUM

A.     Pengertian
Adalah penyakit yang diderita oleh bayi baru lahir (neonatus). Tetanus neonatorum penyebab kejang yang sering dijumpai pada BBL yang bukan karena trauma kelahiran atau asfiksia, tetapi disebabkan infeksi selama masa neonatal, yang antara lain terjadi akibat pemotongan tali pusat atau perawatan tidak aseptic (Ilmu Kesehatan Anak, 1985)

B.     Etiologi
Penyebabnya adalah hasil klostrodium tetani (Kapitaselekta, 2000) bersifat anaerob, berbentuk spora selama diluar tubuh manusia dan dapat mengeluarkan toksin yang dapat mengahancurkan sel darah merah, merusak lekosit dan merupakan tetanospasmin yaitu toksin yang bersifat neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot. (Ilmu Kesehatan Anak, 1985)

C.     Gejala Klinis
Masa tunas biasanya 5-14 hari, kadang-kadang sampai beberapa minggu jika infeksinya ringan. Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang dan leher. Dalam 48 jam penyakit menjadi nyata dengan adanya trismus (Ilmu Kesehatan Anak, 1985).
Pada tetanus neonatorum perjalanan penyakit ini lebih cepat dan berat. Anamnesis sangat spesifik yaitu :
  1. Bayi tiba-tiba panas dan tidak mau minum (karena tidak dapat menghisap).
  2. Mulut mencucu seperti mulut ikan.
  3. Mudah terangsang dan sering kejang disertai sianosis
  4. Kaku kuduk sampai opistotonus
  5. Dinding abdomen kaku, mengeras dan kadang-kadang terjadi kejang.
  6. Dahi berkerut, alis mata terangkat, sudut mulut tertarik kebawah, muka thisus sardonikus


  1. Ekstermitas biasanya terulur dan kaku
  2. Tiba-tiba bayi sensitif terhadap rangsangan, gelisah dan kadang-kadang menangis lemah.

D.    Pencegahan
Pemberian toxoid tetanus kepada ibu hamil 3 x berturut-turut pada trimester ke-3 dikatakan sangat bermanfaat untuk mencegah tetanus neonatorum. Pemotongan tali pusat harus menggunakan alat yang steril dan perawatan tali pusat selanjutnya.

E.     Penatalaksanaan
1.      Pemberian saluran nafas agar tidak tersumbat dan harus dalam keadaan bersih.
2.      Pakaian bayi dikendurkan/dibuka
3.      Mengatasi kejang dengan cara memasukkan tongspatel atau sendok yang sudah dibungkus kedalam mulut bayi agar tidak tergigit giginya dan untuk mencegah agar lidah tidak jatuh kebelakang menutupi saluran pernafasan.
4.      Ruangan dan lingkungan harus tenang
5.      Bila tidak dalam keadaan kejang berikan ASI sedikit demi sedikit, ASI dengan menggunakan pipet/diberikan personde (kalau bayi tidak mau menyusui).
6.      Perawatan tali pusat dengan teknik aseptic dan antiseptic.
7.      Selanjutnya rujuk kerumah sakit, beri pengertian pada keluarga bahwa anaknya harus dirujuk ke RS.

F.      Medik dan Perawatan
Menurut Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002 :
1.      Diberikan cairan intravena dengan larutan glukosa 5% dan NaCl fisiologis 4-1 selama 48-72 jam.
2.      Diazepam dosis awal 2,5 mg IV perlahan-lahan selama 2-3 menit
3.      ATS 10.000/hari, diberikan selama 2 hari berturut-turut dengan IM
4.      Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis selama 10 hari
5.      Tali pusat dibersihkan / dikompresi dengan alkohol 70% betadine 10%.
6.      Rawat diruang yang tenang tetapi harus terang juga hangat
7.      Baringkan pasien dengan sikap kepala ekstensi dengan memberikan gajanl dibawah bahunya.
8.      Beri O2 1-2 liter/menit
9.      Pada saat kejang pasang sudit lidah
10.  Observasi tanda vital secara continue setiap ½ jam

G.    Kebutuhan Nutrisi dan Cairan
Akibat keadaan bayi yang payah dan tidak dapat menyusui untuk memenuhi kebutuhannya. Perlu di beri infus dengan cairan glukosa 5%, bila kejang sudah berkurang pemberian makanan dapat diberikan melalui sonde dan sejalan dengan perbaikan, pemberian makanan bayi dapat diubah memakai sendok secara bertahap. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002).
Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan

0 comments:

Poskan Komentar