KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

BBL DENGAN IKTERUS

Senin, 16 Januari 2012


DEFINISI
Ikterus ialah suatu gejala yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh pada neonatus. Ikterus ialah suatu diskolorasi kuning pada kulit konjungtiva dan mukosa akibat penumpukan bilirubin. Gejala ini seringkali ditemukan terutama pada bayi kurang bulan atau yang menderita suatu penyakit yang bersifat sismetik.
(Abdoerrachman, H, dkk.1981 Kegawatan pada anak. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia)

METABOLISME BILIRUBIN (Abdoerrachman, H, dkk.1981 Kegawatan pada anak. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia)
1.      Produksi     : Sumbernya ialah produk degradasi hemoglobin, sebagian lain dari sumber lain.
2.      Tranportasi : Bilirubin indirek dalam ikatannya dengan albumin diangkut ke hepar untuk diolah oleh sel hepar. Pengolahan dipengaruhi oleh protein Y.
3.      Konjugasi   : Dalam sel hepar bilirubin dikonjugasi menjadi bilirubin direk dengan pengaruh enzim glukuronil transferase, bilirubin direk diekskresi ke usus melalui duktus koledokus.
4.      Sirkulasi Enterohepatik       : Sebagian bilirubin direk diserap kembali kehepar dalam bentuk bilirubin indirek yang bebas. Penyerapan ini bertambah pada pemberian makanan yang lambat atau pada obstruksi usus.
 

BILIRUBIN ADA DUA JENIS (Abdoerrachman, H, dkk.1981 Kegawatan pada anak. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia) :
1.      Bilirubin Indirek
a.       Yang belum dikonjugasi
b.      Larut dalam lemak sehingga mudah melekat pada sel otak dalam keadaan bebas
c.       Ekstresi pada janin melalui plasenta. Pada neonatus, dengan peoses konjugasi diubah menjadi bilirubin direk
2.      Bilirubin direk
a.       Larut dalam air
b.      Ekstresi melalui usus dan pada keadaan obstruksi melalui ginjal

Ikterus terjadi akibat penumpukan bilirubin karena :
1.      Produksi yang berlebihan, misalnya pada proses hernolisis
2.      Gangguan tranportasi, misalnya hipoalbuminemia pada bayi kurang bulan
3.      Gangguan pengolahan oleh hepar
4.      Gangguan fungsi hepar atau imaturitas hepar
5.      Gangguan ekskresi atau obstruksi

HIPERBILIRUBINEMIA (Abdoerrachman, H, dkk.1981 Kegawatan pada anak. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia)
a.       Suatu penumpukan bilirubin indirek yang mencapai suatu kadar tertentu yang mempunyai potensi menyebabkan kerusakan otot.
b.      Kadar yang paling rendah yang dapat menyebabkan kerusakan otak belum diketahui dengan pasti. Kejadian kernikterus pada umumnya terdapat pada kadar bilirubin lebih dari 20 mg %.
c.       Kadar bilirubin yang dapat disebut hiperbilirubinemia dapat berbeda-beda untuk setiap tempat. Harus diientifikasi sendiri. Di RSCM jakarta kadar itu ialah bilirubin indirek yang lebih dari 10 mg %.

Bahaya  Hiperbilirubinemia :
a.       Minimal      : Kelainan Kognitif
b.      Berat          : Kernikterus         kematian

Pendekatan Untuk Mengetahui Penyebab Ikterus Pada Neonatus (Abdoerrachman, H, dkk.1981.Kegawatan pada anak. Jakarta Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia)
Etiologi ikterus pada neonatus kadang-kadang sangat sulit untuk ditegakkan. Seringkali faktor etiologinya jarang berdiri sendiri. Untuk memudahkan maka dapat dipakai pendekatan tertentu dan yang mudah dipakai ialah menurut saat terjadinya ikterus :

I.       Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama (Abdoerrachman, H, dkk.1981 Kegawatan pada anak. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia)
Penyebab ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama menurut besarnya kemungkinan dapat disusun  sebagai berikut :
1.      Inkompatibilitas darah Rh, ABO atau golongan lain
2.      Infeksi intrauterin (oleh virus, toksoplasma, sifilis, dan kadang-kadang bakteria)
3.      Kadang-kadang oleh defisiensi enzim G6PD

Pemeriksaan yang perlu dilakukan ialah :
  1. Kadar bilirubin serum berkala
  2. Darah tepi lengkap
  3. Golongan darah ibu dan bayi
  4. Tes coombs
  5. Pemeriksaan strining defiensi enzim  G6PD, biarkan darah atau biopsi hepar bila perlu

II.    Ikterus yang timbul 24-72 jam sesudah lahir. (Abdoerrachman, H, dkk.1981 Kegawatan pada anak. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia)
1.      Biasanya ikterus fisiologik
2.      Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah ABO atau Rh atau golongan lain. Hal ini dapat diduga kalau peningkatan kadar bilirubin cepat, misalnya melebihi 5 mg % per 24 jam
3.      Defiensi enzim G6PD atau enzim eritrosit lain, juga masih mungkin.
4.      Polisitemia
5.      Hemolisis perdarahan tertutup (perdarahan subapeneurosis, perdarahan hepar, subkapsula dan lainnya).
6.      Hipoksia
7.      sfersitosis, eliptositosis dan lain-lain
8.      dehidrasi-asidosis

Pemeriksaan yang perlu dilakukan :
Bila keadaan bayi baik dan peningkatan ikterus tidak cepat :
a.       Pemeriksaan darah tepi
b.      Pemeriksaan darah bilirubin berkala
c.       Pemeriksaan skrining enzim G6PD
d.      Pemeriksaan lain-lain dilakukan bila perlu

III. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu pertama. (Abdoerrachman, H, dkk.1981 Kegawatan pada anak. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia)
1.      Biasanya karena infeksi (sepsis)
2.      Dehidrasi dan asiolosis
3.      Defisiensi enzim G6PD
4.      pengaruh obat-obat
5.      Sindroma Criggler-najjar
6.      Sindroma Gilbert  

IV.  Ikterus yang timbul pada akhir mingu pertama dan selanjutnya. (Abdoerrachman, H, dkk.1981 Kegawatan pada anak. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia)
1.      Biasanya karena ikterus obstruktif
2.      Hipotiroidisme
3.      “ Breast milk jaundice”
4.      Infeksi
5.      Hepatitis neonatal
6.      Galaktosemia
7.      Lain-lain
Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan :
  1. Pemeriksaan bilirubin berkala
  2. Pemeriksaan darah tepi
  3. Skrining enzim G6PD
  4. Biarkan darah, biopsi hepar bila ada indikasi
  5. Pemeriksaan lain-lain yang berkaitan dengan kemungkinan penyebab
 
PENATALAKSANAAN (Abdoerrachman, H, dkk.1981 Kegawatan pada anak. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia)
1.      Ikterus yang kemungkinan besar menjadi patologik ialah :
a.       Ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama
b.      Ikterus dengan kadar bilirubin melebihi 10 mg % pada bayi cukup bulan dan 12,5 % pada bayi kurang bulan
c.       Ikterus dengan peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg % per hari
d.      Ikterus yang sudah menetap sesudah 1 minggu pertama
e.       Kadar bilirubin direk melebhi 1 mg %
f.        Ikterus yang mempunyai hubungan dengan proses hemolitik, infeksi atau keadaan patalogik lain yang telah diketahui
2.      Pencegahan
Ikterus dapat dicegah dan dihentikan peningkatannya dengan :
a.       pengawasan antenatal yang baik
b.      Menghindari obat-obat yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi, pada masa kehamilan dan kelahiran misalnya : Sulfafurazol, oksitosin dan lain-lain
c.       Pencegahan dan mengobati hipoksia pada janin dan neonatus
d.      Penggunaan fenobarbital pada ibu 1-2 hari sebelum partus
e.       Iluminasi yang baik bangsal bayi baru lahir
f.        Pemberian makanan yang dini
g.       Pencegahan infeksi
3.      Mengatasi Hiperbilirubinemia
  1. mempercepat proses konjugasi, misalnya pemberian fenobarbital. Fenobarbital dapat bekerja sebagai perangsang enzim sehingga konjugasi dapat dipercepat. Pengobatan dengan cara ini tidak begitu efektif dan membutuhkan waktu 48 jam baru terjadi penurunan bilirubin yang berarti, mungkin lebih bermanfaat bila diberikan pada ibu ± 2 hari sebelum kelahiran bayi.
  2. Memberikan substrat yang kurang untuk tranportasi atau konjugasi. Contohnya ialah pemberian albumin untuk meningkatkan bilirubin bebas. Albumin dapat diganti dengan plasma dengan dosis 30 ml/kg BB. Pemberian glukosa perlu untuk konjugasi hepar sebagai sumber energi.
  3. Melakukan dekomposisi bilirubin dengan fototerapi ini ternyata setelah dicoba dengan alat-alat bantuan sendiri dapat menurunkan kadar bilirubin dengan cepat. Walaupun demikian fototerapi tidak dapat menggantikan tranfusi tukar pada proses hemolisis berat. Fototerapi dapat digunakan untuk pra dan pasca tranfusi tukar alat fototerapi dapat dibuat sendiri.

4.      Pengobatan Umum
Pengobatan terhadap etiologi atau faktor-faktor penyebab bagaimana mungkin dan perwatan yang baik. Hal-hal lain perlu diperhatikan ialah : Pemberian makanan yang dini dengan cairan dan kalori cukup dan iluminasi (penerangan) kamar dan bangsal bayi yang baik.

5.      Tindak lanjut
Sebagai akibat hiperbilirubinemia perlu dilakukan tindak lanjut sebagai berikut   ini :
a.       Evaluasi berkala pertumbuhan dan perkembangan
b.      Evaluasi berkala pendengaran
c.       Fisioterapi dan rehabilitas bila terdapat gejala sisa
Alat yang digunakan
            Lampu Fluoresensi sebanyak 10 buah @20 watt dengan gelombang sekitar 425-475 nm. Jarak antara sumber cahaya dan bayi sekitar 18 inci. Diantara sumber cahaya dan bayi ditempatkan kaca pleksi 200-400 jam penyinaran, kemudian harus diganti.


Lampu Fluoresensi yang dapat dipakai ialah :
a.       “Cool White”
b.      “day Light”
c.       “Vita-Kite”
d.      “Blue”
e.       “Special Blue”

Derajat pada neonatus menurut KRAMER
Zona
Bagian tubuh yang kuning
Rata-rata serum indirek (umol / l)
1
2
3
4
5
Kepala dan leher
Pusat dan leher
Pusat dan paha
Lengan + tungkai
Tangan + kaki
100
150
200
250
>250

Tatalaksana ikterus pada neonatus sehat cukup bulan berdasarkan bilirubin indirek (mg / dl)
Usia (jam)
Pertimbangkan terapi sinar
Terapi sinar
Tranfusi tukar bila terapi sinar intensif gagal
Tranfusi tukar dan terapi sinar intesif
<24
25-48
49-72
>72
>11,8
>15,3
>17
>15,3
>18,2
>20
>20
>25,3
>25,3
>25,3
>30
>30


DAFTAR PUSTAKA

 1.      Rachman. M & Dardjat, M. T. 1987. Buku saku Segi-segi Praktris Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. Kelompok minat Penulisan ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Salemba.

2.      Abdoerrachman, H, dkk. 1981. Kegawatan Pada Anak. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas kedokteran. Universitas Indonesia.

3.      Mansjoer, Arif M. 2005. Kapita Selekta Kedokteran jilid 2. Jakarta. Media Aesculapius.
 
Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan

0 comments:

Poskan Komentar