KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

IBU HAMIL DENGAN PLASENTA PREVIA TOTALIS

Jumat, 22 Juni 2012

KTI

I.           Pengertian
Menurut De Snoo, berdasarkan pada pembukaan 4-5:
1.      Plasenta previa sentralis (totalis)
Adalah bila pada pembukaan 4-5 cm teraba plasenta menutupi seluruh ostium.
2.      Plasenta precia lateralis
Adalah bila pada pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan di tutupi oleh plasenta
Menurut penulis buku-buku Amerika Serikat:
1.      Plasenta previa totalis          
Adalah seluruh osatium ditutupi plasenta
2.      Plasenta previa partialis
Adalah sebagian ditutupi plasenta
3.      Plasenta letak rendah
Adalah tepi plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir pembukaan, pada pemeriksaan dalam tidak teraba
Menurut broune:
1.      Tingkat 1: lateral Plasenta previa
Adalah pinggir bawah Plasenta berisi sampai kesegmen bawah rahim, namun tidak sampai ke pinggir pembukaan
2.      Tingkat 2: margina Plasenta previa
Adalah plasenta mencapai pinggir pembukaan
3.      Tingkat 3: complete Plasenta previa
Adalah plasenta menutupi ostium waktu tertutup, dan tidak menutupi bila pembukaan hampir lengkap


4.      Tingkat 4: center Plasenta previa
Adalah plasenta menutupi seluruhnya pada pembukaan hampir lengkap
Plasenta previa
Adalah keadaan dimana Plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal).
(dikutip dari Prof. Dr. Rustam Moctar MPH., 1998. Jakarta)

II.        Etiologi
Menurut Prof. Dr. Rustam Moctar MPH., 1998. Jakarta, beberapa faktor yang berhubungan dengan peningkatan kekerapan terjadi plasenta previa, yaitu:
1.      Paritas
Makin banyak paritas ibu, makin besar kemungkinan mengalami plasenta previa
2.      Usia ibu pada saat hamil
Pada primigravida, umur diatas 35 tahun lebih seding dari pada umur di bawah 25 tahun
3.      Hipoplasia endometrium
Bila kawin dan hamil pada umur muda
4.      Endometrium
Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi, kuretase, dan mual plasenta
5.      Korpus luteum bereaksi lambat
Dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepasi
6.      Tumor-tumor
Seperti mioma uter, polip endometrium
7.      Kadang- kadang pada malposisi


III.     Tanda dan Gejala
Menurut Departemen Kesehatan RI 1996. Jakarta
Gejala utama
Perdarahan yang berwarna merah segar, tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama.
Gambaran klinik
1.      Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak perdarahan  yang terjadi pertama kali, biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.
2.      Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa sakit.
3.      Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang
4.      Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin letak lintang atau letak sungsang
5.      Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan

IV.     Diagnosis
Menurut Prof. Dr. Rudstam Mochtar  MPH. 1998 Jakarta.
Diagnosis ditegakkan dengan adanya gejala-gejala klinis dan beberapa pemeriksaan:
  1. Anamnesis
a.       Gejala pertama yang membawa si sakit ke dokter atau rumah sakit ialah perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau pada kehamilan lanjutan (trimester III)
b.      Sifat perdarahannya tanpa sebab (causeless), tanpa nyeri (painless), dan perulang (recurrent), kadang-kadang perdarahan terjadi sewaktu bangun tidur, pagi hari tanpa disadari tempat tidur sudah di penuhi dengan dara. Perdarahan cenderung berulang dengan volume yang lebih banyak dari yang sebelumnya. Sebab dari perdarahan ialah karena ada plasenta dan pembuluh darah yang robek yang disebabkan oleh:
1)      Terbentuknya segmen bawah rahim
2)      Terbentuknya ostium atau  oleh malipulasi intravaginal atau raktal
  1. Inspeksi
a.       Dapat dilihat perdarahan yang keluar pervaginam : banyak, sedikit darah beku dan sebagainya
b.      Kalau telah berdarah banyak maka ibu kelihatan pucat / anemis.
  1. Palpasi abdomen
a.       Janin sering belum cukup bulan, jadi fundus uteri masih rendah
b.      Sering di jumpai kesalahan letak
c.       Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala, biasanya kepala masih goyang atau terapung (floating)  atau menggolak di atas pintu atas pinggul
d.      Bila cukup pengalaman (ahli), dapat dirasakan suatu bantalan pada segmen bawah rahim, terutama pada ibu yang kurus.
  1. Pemeriksaan inspekula
Dengan memakai spekulum secara hati-hati dilihat dari mana asal perdarahan, apakah dari dalam uterus, atau dari kelainan serviks, vagina, varises pecah dan lain-lain.
  1. Pemeriksaan radio-isotop
a.       Plasentografi jaringan lunak
Yaitu membuat foto dengan sinar roentgen lemah untuk mencoba melokalisir plasenta.
b.      Sitrografi
Kosongkan kandung kemih, lalu dimasukkan 40cc larutan NaCl 12,5 , kepala janin di tekan kearah pintu atas panggul lalu dibuat foto. Bila jarak kepala dan kandung kemih berselisih lebih dari 1 cm, maka terdapat kemungkinan plasenta previa
c.       Plasentografi  indirik
Yaitu membuat foto seri lateral dan anteroposterior, dengan cara menghitung antara jarak kepala-simfisis dan kepala promotorium
d.      Arteriografi
Dengan memasukkan zat kontras kedalam arteri femoralis, karena plasenta sangat akan pembuluh darah maka ia akan banyak menyerap zat kontras.
e.       Aminografi
Dengan memasukkan zat kontras kedalam rongga amnion, lalu di buat foto dan dilihat dimana terdapat daerah kosong di luar janin dalam rongga rahim  
f.       Radio isotop plasentografi
Dengan menyuntikan zat radio aktif RISA (Radio Iodinateol Serum Albumin) decara intra vena, lalu diikuti dengan  detektor GMC
g.      Ultrasonografi
Cara ini sangat terapi dan tidak menimbulkan bahaya radiasi terhadap janin
  1. Pemeriksaan dalam
Adalah senjata dan cara paling akhir yang paling ampuh di bidang abstetrik untuk diagnosis plasenta previa, walaupun ampuh namun  kita harus berhati-hati, karena bahayanya juga sangat besar.
a.       Bahaya pemeriksaan dalam
1.      Dapat menyebabkan perdarahan yang hebat
2.      Terjadi infeksi
3.      Menimbulkan his dan kemudian terjadilah partus prematurus.
b.      Teknik dan persiapan pemeriksaan dalam
1.      Pasang infus dan persiapan donor darah
2.      Pemeriksaan dilakukan di kamar bedah, dengan fasilitas operasi lengkap
3.      Pemeriksaan dilakukan secara hati-hati dan secara lembut
4.      Jangan langsung masuk ke dalam kanalis servikasi, tetapi raba dulu bantalan antara janin dan kepala janin pada forniks.
5.      Bila ada darah beku dalam vagina, keluarkan sedikit-sedikit dan pelan-pelan 
c.       Kegunaan pemeriksaan dalam
1.      Menegakkan diagnosa apakah perdarahan oleh plasenta previa atau oleh sebab-sebab lain:
2.      Menentukan jenis klasifikasi plasenta previa, supaya dapat diambil sikap dan tindakan yang tepat. 
d.      Indikasi pemeriksaan dalam pada perdarahan antepartum
1.      Perdarahan banyak, lebih dari 500cc
2.      Perdarahan yang sudah berulang-ulang
3.      perdarahan sekali, banyak, dan Hb dibawah 8gr% kecuali persiapan darah ada.
4.      His telah mulai dan janin sudah dapat hidup di luar rahim.

V.        Pemantauan Pada Ibu dan Janin
Menurut Vicky Chapman, 2006, Jakarta
1.      Tanda vital
Pantau dengan ketat tanda vital ibu, takikardia biasanya tanda pertama gangguan janin karena kehilangan darah. 
2.      Infus intravena
Untuk mengganti cairan, pastikan cairan IV berjalan lancar, dokter mungkin mempertimbangkan pemberian produk darah
3.      Pengukuran kehilangan darah
Gantilah dan  amankan balutan yang basah dengan bijaksana namun pastikan privasi ibu saat melakukannya, jagalah perbandingan yang selalu diperbaharui kehilangan darah dan perkiraan terukur pada kartu cairan.
4.      Kemungkinan diperlukan anestesi
Pastikan bahwa dokter telah di beri informasi dan dapat mengkaji situasi ibu tentang kemungkinan memerlukan anestesi berikut juga antasida / atau penghambat ion hidrogen reguler karena anestesi berikan juga antasida/ penghambat ion hidrogen reguler karena anetesia darurat mungkin di periksa.
5.      Pantau denyut jantung janin
Perubahan DJJ mendadak atau abnormal (seperti peningkatan takikardi) bisa menunjukkan adanya gangguan yang disebabkan oleh kehilangan darah berat. Lakukan respon segera terhadap pola abnormal.

VI.     Pengaruh Plasenta Terhadap Kehamilan (menurut dari Prof. Dr. Rustam Moctar MPH. 1998 Jakarta)
Karena dihalangi oleh plasenta maka bagian terbawah janin tidak terfiksir kedalam pintu atas panggul. Sehingga terjadilah kesalahan-kesalahan letak janin.
Sering terjadi partus prematurus karena adanya rangsangan koagulan darah pada serviks. Selain itu, jika banyak plasenta yang lepas, kadar progesteron turun dan dapat terjadi his, juga lepasnya plasenta sendiri dapat merangsang his. Dapat juga karena pemeriksaan dalam.

VII.  Penanganan
1.      Penanganan pasif menurut Prof. Sarwono Prawiroharjo, Sp 06. 1997. Jakarta)
a.       Perhatian
Tiap-tiap perdarahan dari ketiga yang lebih dari show, harus dikirim ke rumah sakit tanpa dilakukan manipulasi
b.      Apabila pada penilaian baik, perdarahan sedikit, janin masih hidup, belum inpartum kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat janin dibawah 2500 gram, maka kehamilan dapat dipertahankan istirahat dan pemberian obat-obatan seperti spasmolitika. Progestin atau progesteron observasilah dengan teliti.
c.       Sambil mengawasi periksalah golongan darah, dan siapkan donor untuk tranfusi darah. Bila memungkinkan kehamilan dipertahankan setua  mungkin supaya janin terhindar dari prematuritas.
d.      Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil tersangka plasenta previa rujuk segera ke rumah sakit dimana terdapat fasilitas operasi dan tranfusi darah.
e.       Bila kekurangan darah, berikanlah tranfusi darah dan obat-obatan penambah darah.
2.      Cara persalinan
Faktor-faktor yang menentukan sikap atau tindakan persalinan mana yang akan dipilih adalah :
a.       Jenis plasenta previa
b.      Perdarahan : banyak atau sedikit tetapi berulang-ulang
c.       Keadaan umum ibu hamil
d.      Keadaan janin : hidup, gawat atau meninggal
e.       Pembukaan jalan lahir
f.       Paritas atau jumlah anak hidup

VIII.        Penanganan plasenta previa sentralis (totalis)
Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar MPH, 1998, Jakarta)
a.       Untuk menghindari perdarahan yang banyak, maka pada plasenta previa sentralis dengan janin hidup atau meninggal, tindakan yang paling baik adalah seksio sesarea.
b.      Persalinan perabdominal dengan seksio sesarea.
Indikasi seksio sesarea pada plasenta previa :
1.      Semua plasenta previa sentralis, janin hidup atau meninggal, semua plasenta previa lateralis, posterior, karena perdarahan yang sulit dikontrol dengan cara-cara yang ada.
2.      Semua plasenta previa lateralis posterior, karena perdarahan yang sulit dikontrol dengan cara-cara yang ada.
3.      Semua plasenta previa dengan tindakan tindakan-tindakan yang ada.
4.      Plasenta previa dengan panggul sempit, letak lintang perdarahan pada bekas insersi plasenta kadang-kadang berlebihan dan tindakan dapat diatas dengan cara-cara yang ada.

DAFTAR PUSTAKA


Mochtar, Rustam, Prof. Dr. M. Ph,1998.  Synopsis Obstetri, Jilid I, Edisi 2,EGC: Jakarta

Prawirohardjo, Sarwono, Prof. Dr. SPOG.1997. Ilmu Kebidanan Edisi III. Yayasan Bina Pustaka: Jakarta

Chaman, Vicky. 2006. Asuhan Kebidanan Persalinan Dan Kelahiran. EGC: Jakarta

Departemen Kesehatan RI. 2006. Perdarahan Antepartum. Departemen Kesehatan RI: Jakarta
Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan

0 comments:

Poskan Komentar