KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Penyembuhan Luka Episiotomi

Jumat, 29 Juni 2012


Nifas

Masa  nifas  atau  masa  puerperium  adalah  masa  mulaselesainya  persalinan sampai pulihnya alat-alat dan anggota badan yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan (Ramali, 2003, hlm. 290).
Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Saleha, 2009, hlm. 2).

Episiotomi

1. Definisi

Episiotomi adalah penyayatamulut  serambi kemaluan untuk  mempermudah kelahiran (Ramali, 2003, hlm. 114).
Episiotomi adalah insisi pada perineum yang menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina, cincin himen, jaringan septum rektovaginal, otot-otot  dan fasia perineum, serta kulit    sebelah       depan  perineum           untuk  melebarkan            jalan           lahir      sehingga mempermudah kelahiran (Mansjoer, et all, 2001, hlm. 338).



2. Indikasi episiotomi :

1. Perineum tidak bisa merenggang (kaku)

2. Kepala bayi terlalu besar untuk lubang vagina

3. Ibu tidak bisa mengedan

4. Bayi tertekan

5. Bayi sungsang (Stoppard, 2007, hlm.117)

6. Pelahiran primipara

7. Kala dua persalinan yang lama

8. Arkus subpubis yang sempit

9. Posisi kepala yang kurang fleksi dan oksipital posterior

10. Presipitasi persalinan

11. Distosia bahu

12. Pelahiran pervaginam dengan bantuan (misalnya forseps –  tetapi lebih  sedikit dengan ekstraksi Ventouse) (Liu, 2008, hlm.137 ).


Episiotomi biasanya dikerjakan pada hampir semua primipara atau pada perempuan atau pada perempuan dengan perineum kaku. Episiotomi dilakuka n saat perineum telah menipis dan kepala janin tidak masuk kembali ke dalam vagina (Mansjoer, et al, 2001, hlm. 338).



3. Tujuan Episiotomi

Tujuan  episiotomi  adalah  untu memperlebar  jalan  lahir  guna   memudahkan kelahiran, mencegah vagina robek secara spontan, karena robeknya akan tidak teratur sehingga menjahitnya susah dan hasil jahitannya pun tidak rapi, mempersingkat waktu ibu dalam mendorong bayinya keluar (Indiarti, 2009, hlm.150).



4. Waktu Episiotomi

Jika   episiotomi  dilakukan  terlal cepat   dan   tidak   berdasa pad keperluan, perdarahan dari luka insisi mungkin banyak selama jeda waktu antara episitomi dan pelahiran.  Jika  episiotomi  terlambat  dilakuka n,  laserasi  tidak  akan  terhindar  lagi. Lazimnya episiotomi dilakuka n saat kepala terlihat selama kontraksi sampai diameter 3-4 cm (Cunningham, 2005, hlm. 355).




5. Jenis-Jenis Episiotomi

a. Episiotomi mediana, di kerjakan pada garis tengah. Mudah diperbaiki, kesalahan penyembuhan jarang, tidak begitu sakit di masa nifas, dispareuni jarang terjadi, hasil akhir anatomik selalu bagus, hilangnya darah lebih sedikit, perluasan ke sfingter ani dan kedalam rektum agak sering.


b. Episiotomi mediolateral, dikerjakan pada garis tengah yang dekat muskuls sfingter ani dan diperluas ke sisi. Lebih  sulit  memperbaikinya, kesalahan penyembuhan lebih sering,  rasa  nyeri pada  sepertiga kasus  selama  beberapa  hari,  kadangkala  diikut i dispareuni, hasil akhir anatomik sedikit banyak kurang baik pada sekitar 10% kasus (tergantung  pada operator),  kehilangan  daralebih  banyak,  perluasan ke  sfingter jarang. (Cunningham, 1995, hlm. 371).
c. Episiotomi lateral, sayatan ke arah paha. Keuntungannya, risiko untuk putusnya otot anus menjadi lebih kecil, kelemahannya, tipe lateral bisa menyebabkan otot di daerah sekitar sayatan menjadi mengerut tidak beraturan sehingga dapat menyebabkan nyeri saat berhubungan seks (Indiarti, 2009, hlm 150).
7.   Tehnik Penjahitan Luka Episiotomi

Ada  banyak  cara  untuk  menutup  insisi  episiotomi,  tetapi  hemostatis  dan perbaikan anatomi tanpa terlalu banyak menjahit adalah yang terpenting demi suksesnya metoda apapun.
Teknik yang sering dilakukan pada perbaikan episiotomi :

Menggunakacutgut  kromik  00,  atau  lebih  baik  000,  digunakasebagajahitan kontinyu untuk menutup mukosa dan submukosa vagina. Setelah menutup insisi vagina dan       mendekatkan          tepi-tep cincin                        himen,                   jahitan    dikencangkan                  dan   dipotong. Selanjutnya cutgut 00 atau 000ditempatkan pada fasia dan otot perineum yang diinsisi. Jahitan kontinyu sekarang dibawa ke bawah untuk menyatukan fasia superfisial. Cutgut kromik ditempatkan melalui kulit dan fasia subkutan diikat kendor. Penutupan ini menghindari terkuburnya dua lapisan cutgut di lapisan perineum yang lebih superfisial (Cuningham, 1995, hlm. 372).




7. Benang yang Digunakan dalam Penjahitan Episiotomi

Alat  menjahit  yang  digunakan  dalam  perbaikan  episitomi  atau  laserasdapat menahan tepi – tepi luka sementara sehingga terjadi pembentukan kolagen yang baik. Benang yang dapat diabsorbsi secara alamiah diserap melalui absorbsi air yang melemahkan  rantapolimer  jahitan.  Diperkirakan  proses  hidrolisasi  menimbulkan respons peradangan yang minimal dibandingka n dengan respons mediasi enzim. Benang jahit yang dapat diabbsorbsi secara alamiah yang paling banyak digunakan adalah krom, yang     mampu menahan            luka          hingga        10-14  hari         sebelum aktivitas               enzim mulai menghancurkannya. Absorbsi lengkap biasanya terjadi setelah 90 hari luka dijahit. Benang sintetik yang dapat diabsorbsi yang paling banyak digunakan adalah polygarin
910 (Vicryl) yang dapat menahan luka kira-kira 65% dari kekuatan pertamanya setelah

14   har penjahita da biasany diabsorbs lengka setela 70   har prosedur dilakukannya.
Ukuran yang paling umum digunakan dalam memperbaiki jaringan trauma adalah 2-

0,  3-0,  dan 4-0,  4-0  yang  paling  tipis.  Benang     jahit  yang  biasa  digunakan dalam kebidanan dimasukkan ke dalam jarum (Wals, 2008, hlm. 560).



8. Penyembuhan Luka Episiotomi

Jika jaringan tubuh mengalami trauma, proses penyembuhan terjadi dalam 3 fase, yaitu :
Fase 1 : Segera setelah cedera, respons peradangan menyebabkan peningkatan aliran darake  area  luka,  meningkatkan  cairadalam  jaringan,  serta  akumulasi


leukosit  dan  fibrosit.  Leukosit  akan  memproduksi  enzim  proteolitik  yang memakan jaringan yang mengalami cedera.
Fase 2 : Setelah beberapa hari kemudian, fibroblast akan membentuk benang benang kolagen pada tempat cedera.
Fase 3 : Pada akhirnya jumlah kolagen yang cukup akan melapisi jaringan yang rusak kemudian menutup luka.
Proses penyembuhan sangat dipengaruhi oleh usia, berat badan, status nutrisi, dehidrasi, aliran darah yang adekuat ke area luka, dan status imunologinya.
Beberapa prinsip umum yang perlu di ingat :

1. Mempertahankan tehnik aseptik yang steril sangat penting untuk menurunkan risiko terjadinya infeksi.
2. Terjadinya hemostatis sebelum perbaikan episiotomi penting untuk pencegahan pembentukan hematoma dan visualisasi yang baik.
3. Penanganan minimal pada area yang cedera mencegah kerusakan yang lebih parah yang dapat menghambat penyembuhan
4. Batasan luka harus dapat diperkirakan dengan baik untuk menghindari ruang mati yang dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri anaerob.
5. Jahitan sebaiknya memiliki kekutan atau tegangan yang tidak terlalu kuat sehingga jahitatersebut  dapat  tertarik  saat  respon  peradangan  mengakibatkan  edema jaringan.
Penyembuhan  luka  sayatan  episiotomi  yang   sempurna  tergantung  kepada beberapa hal. Tidak adanya infeksi pada vagina sangat mempermudah penyembuhan. Keterampilamenjahit  juga  sangat  diperlukaagar  otot-otot  yantersayat  diatur kembali  sesuadengan  fungsinya  atau  jalurnya  dan  juga  dihindarsedikit  mungkin pembuluh darah agar tidak  tersayat. Jika sel saraf terpotong, pembuluh darah tidak akan terbentuk lagi (Wals, 2008, hlm. 559)
Ibu  yantelamendapat  episiotomi,  akan dikontrol dengan cara rawat  inap selama  2-3  hari.  Seminggu  setelah  pulang  ke  rumah  ibu  harus  kontrol ulang.  Jika perkembangan jahitan sudah bagus, ibu diminta datang kembali setelah 40 hari. Hubungan seks baru diperbolehkan setelah hari ke-40 (Sinsin, 2008, hlm. 90).
Untuk menghindari terjadinya infeksi, maka cara membersihkannya adalah sebagai berikut:
1.   Siapkan alat-alat cuci seperti sabun yang lembut, air, baskom, washlap (sapu tangan handuk), kasa, dan pembalut wanita yang bersih.
2.   Cuci tangan di kran atau air yang mengalir dengan sabun.

3.   Lepas pembalut yang kotor dari depan ke belakang.

4.   Semprotkan  atau  cuci  dengan  antiseptik  bagian  perineum  dari  arah  depan kebelakang.
5.   Keringkan dengan washlap atau handuk dari depan ke belakang.

6.   Pasang pembalut wanita dari depan ke belakang.

7.   Setelah selesai, rapikan alat-alat yang digunakan pada tempatnya.

8.   Cuci tangan hingga bersih.

9.   Catat, jika ada perubahan-perubahan perineum, khususnya tanda infeksi (Kartika,

2008, hlm. 33)

Ibu harus menjaga kebersihan daerah intim sebaik mungkin. Setelah buang air besar, sebaiknya bilas dengan bersih dan gantilah pembalut atau celana dalam sesering mungkidasecara  teratur.  Yang  paling  penting  jangasampai  darah  nifas  selalmenggenang di daerah luka, karena dapat mengundang kuman masuk dan berkembang biak (Sinsin, 2008, hlm. 91).
Adapun gejala-gejala adanya tanda infeksi adalah:

1.   Kemerahan sekitar luka jahitan, edema (bengkak)

2.   Pendaran sekitar jahitan

3.   Pengeluran cairan nanah di sekitar luka jahitan

4.   Timbul rasa panas pada luka jahitan

Jika terjadi demikian, maka hubungi dokter atau bidan terdekat.

Dalam keadaan normal, proses penyambungan jaringan akan terjadi sekitar 10 hari, jika tidak ada gejala infeksi.
Untuk mengurangi rasa nyeri pada jahitan perineum, lakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Kompres dengan es

2. Pembalut wanita harus diganti setiap 4 jam dan bersihkan daerah perineum.

3. Lakukan berendam, jika dirasa perlu.

5. Lakukan tidur dengan ketinggian sudut bantal tidak boleh lebih dari 30 derajat.

6.  Adapun cara untuk  beranjadari tempat  tidur  atabangumeninggalkan tempat tidur adalah sebagai berikut:
Untuk naik ke tempat tidur:

a Duduk di tepi kasur / tempat tidur.

b Angkat  kedua siku  disisyang  sama  dan kedua kaki dibagian bawah tempat tidur, pertahankan lutut ditekuk 45 derajat, setelah itu rebahkan badan secara perlahan miring, kemudian baru terlentang.


Untuk turun dari tempat tidur:

Posisikan tubuh untuk miring ke sisi tempat tidur, dengan bantuan tangan menekan tempat tidur, dengan bantuan tangan menekan kasur         untuk        menyangga            tubuh,   pertahankalutut       ditekuk, kemudian diturunkan ketepi tempat tidur dan prtahankan duduk, setelah itu baru melakukan berdiri (Kartika, 2008, hlm. 35).



9. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan Luka

1.   Status nutrisi: diperlukan asupan protein, vitamin A dan C, tembaga, zinkum dan zat besi yang adekuat. Protein mensuplai asam amino, yang dibutuhkan untuk perbaikan jaringan dan generalisasi. Vitamin A dan zinkum diperlukan untuk epitelisasi, dan vitamin C serta zinkum diperlukan untuk sintesis kolagen dan integrasi kapiler. Zat besi diperlukan untuk sintesis haemoglobin yang bersama oksigen diperlukan untuk menghantarkan oksigen keseluruh tubuh. Dalam hal ini, ikan,telur, sayuran hijau, dan buah-buahan sangat dibutuhkan ibu yang mengalami episiotomi.
2.   Merokok:  mempengaruhi  ambilan  dan  pelepasan  oksigen  ke  jaringan, sehingga memperburuk perfusi jaringan.
3.   Penambahan usia: berpengaruh terhadap fase penyembuhan luka sehubungan dengan adanya gangguan sirkulasi dan koagulasi, respon inflamasi yang lebih lambat dan penurunan aktivitas fibroblas.
4.   Diabetes mellitus: gangguan sirkulasi dan pefusi jaringan dapat terjadi pada diabetes mellitus. Selain itu hiperglikemia dapat meghambat fagositosis dan mencetuskan terjadinya infeksi jamur dan ragi.


5.   Kortikosteroid: peningkatan kadar kortikoseroid dalam plasma dapat terjadi akibat stress, terapi atau penyakit steroid. Hal ini dapat menghambat respons inflamasi dan respon imun yang dapat menghambat proses penyembuhan dan menjadi predisposisi infeksi.
6.   Obat-obatan: obat antiinflamasi menekan sintesis protein inflamasi, kontraksi luka dan epitelisasi.
7.   Ganguan oksigenisasi: rendahnya tekanan oksigen arterial dapat mengganggu sintesis kolagen dan menghambaepitelisasi. Perfusi jaringan yanburuk dapat terjadi karena adanya hipovolemia atau anemia. Oksigen sangat dibutuhkan untuk aktivitas fibroblast.
8. Infeksi: infeksi menyebabkan peningkatan inflamasi dan nekrosis yang menghambat penyembuhan luka. (Johnson, 2005, hal. 370).
Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 436

0 comments:

Poskan Komentar