KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI Anemia Defisiensi Besi Dalam Kehamilan

Jumat, 29 Juni 2012


1 Pengertian Anemia

Anemia adalah penyakit kekurangan darah dengan kadar Hb berada dibawah normal (Francin paath, 2004).
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin (Hb) dibawah     11 g% (Prawirohardjo, 2002).

Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi, jenis anemia dan pengobatannya relatif mudah bahkan murah (Manuaba, 2000).
Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen keseluruh jaringan (Tarwoto, 2007).
Derajat Anemia

Derajat anemia berdasarkan kadar Hemoglobin menurut WHO
Ringan sekali  :  Hb 10 g/dl Batas normal
Ringan             :  Hb 8 g/dl 9.9 g/dl 
Sedang        :  Hb 6 g/dl 7.9 g/dl 
Berat     :  Hb < 6 g/dl
Departemen Kesehatan menetapkan derajat anemia sebagai berikut
Ringan sekali  :  Hb 11 g/dl Batas Normal
Ringan             :  Hb 8 g/dl - < 11 g/dl




Sedang             :  Hb 5 g/dl - < 8 g/dl

Berat                :  Hb < 5 g/dl

Anemia defisiensi besi merupakan gejala kronis dengan keadaan hiprokromik (konsentrasi hemoglobin kurang), mikrositik yang disebabkan oleh suplai                        besi             kurang dalam              tubuh.               Kurangnya          besi                berpengaruh              dalam pembentukan hemoglobin sehingga konsentrasinya dalam sel darah merah berkurang, hal ini akan mengakibatkan tidak adekuatnya pengangkutan oksigen ke seluruh jaringan tubuh (Tarwoto,2007).
Zat besi adalah suatu unsur gizi yang merupakan komponen pembentukan

Hb atau sel darah merah (Zulhaida, 2003).


2 Penyebab Anemia Defisiensi Besi 
a.   Asupan yang tidak adekuat
Banyak faktor yang menyebabkan asupan zat besi tidak adekuat misalnya asupan zat makanan/gizi yang kurang akibat kemiskinan, dimana makanan yang banyak  mengandung  zat  besi  seperti  berasal  dardaging  hewani,  buah  dan sayuran  hijau  tidak  dapat  dikonsumsi  secara  cukup.  Pola  asuh  dari  kultur keluarga        yang                mengutamakan            pemenuhan     gizi        pada                  kepala keluarga mengakibatkan anggota keluarga yang lain seperti anak dan ibu menjadi lebih sedikit. Kurangnya pengetahuan tentang makanan yang mengandung banyak zat besi serta cara pengolahan makanan yang benar juga menjadi faktor asupan zat besi yang tidak adekuat. Adanya penyakit tertentu seperti gastritis, penyakit pada usus halus akan mengganggu penyerapan zat besi. Tidak mengkonsumsi tablet penambah darah, dikarenakan ibu hamil yang tidak memeriksakan kandungannyke petugas kesehatan. Faktor lain yang dapat menghambat penyerapan zat besi adalah adanya kebiasaan  mengkonsumsi  kopi dan teh secara bersamaan pada waktu makan.



b Peningkatan kebutuhan

Ibu hamil memerlukan zat besi yang lebih tinggi, sekitar 200-300% dari kebutuhan wanita tidak hamil. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan janin dan pembentuk darah ibu. Jika peningkatan kebutuhan tidak di imbangi intake yang tidak adekuat maka akan terjadi ketidakseimbangan atau kekurangan zat besi (Tarwoto,2007).
Tabel 2.1

Rata-rata Kebutuhan Zat Besi Wanita Hamil





Umur Kehamilan
Jumlah
Massa sel
(Mcg/kg/hr)
Darah Merah
(Mcg/kg/hr)
Janin dan Plasenta
(Mcg/kg/hr)
Trimester I
Trimester II Trimester III
0
50
50
0
15
50
14
80
114

 
Sumber : (Nadesul H, 2004)

Jumlah sel darah merah ibu hamil bertambah sampai 30%. Oleh karena itu, dibutuhkan  tambahan  zat besi untuk  pembentukan  sel darah  merah  yang baru. Selain akan mendukung proses kehamilan, penambahan sel darah ini dibutuhkan pula pada proses persalinan dan menyusui (Huliana M, 2001).
Kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah  merah  dan  membentuk  sel darah  merah  janin  dan plasenta.  Makin sering  seorang  wanita  mengalami  kehamilan  dan  melahirkan  akasemakin banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin anemis.


Sebagai gambaran beberapa banyak kebutuhan zat besi pada setiap kehamilan
Meningkatkan sel darah ibu                                        500 mgr Fe
Terdapat dalam plasenta                                            300 mgr Fe 
Untuk darah janin                     100 mgr Fe 
Jumlah               900 mgr Fe



Jika persediaan cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persediaan Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena darah ibu hamil mengalami hemodilusi (pengenceran) dengan peningkatan volume 30% sampai 40% yang puncaknya pada kehamilan 32 sampai 34 mg. jumlah peningkatn sel darah 18% sampai 30% dan hemoglobin sekitar 19%. Bila hemoglobin ibu sebelum hamil sekitar 11 gr % dan Hb akan menjadi 8,5 sampai 10 gr %.
Setelah persalinan dengan lahirnya plasenta dan pendarahan ibu akan kehilangan  zat  besi  sekitar  900  mgr.  Saat  laktasi,  ibu  masih  memerlukan kesehatan jasmani yang optimal sehingga dapat menyiapkan Air Susu Ibu (ASI) untuk  pertumbuhan  dan  perkembangan  bayiDalam  keadaan  anemia,  laktasi tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan baik (Manuaba, 1998).



3     Makanan sumber zat besi

Ada dua jenis zat besi yang terdapat di dalam komponen yaitu : zat besi yang berasal dari hem dan bukan hem. Zat besi yang berasal dari hem merupakan penyusun  hemoglobin  dan  myglobin,  zat  besjeniini  terkandung  didalam daging ikan dan unggas, serta hasil olahan darah. Zat besi dari hem ini terhitung sebagai fraksi yang relative kecil dari seluruh masukan zat besi. Dibanyak negara sedang berkembang, masukan zat besi yang berasal dari hem lebih rendah atau sama sekali dapat diabaikan.
Zat besi yang bukan berasal dari hem, merupakan  sumber yang lebih penting dan ditemukan dalam tingkat yang berbeda-beda pada seluruh makanan yang berasal  dartumbuh-tumbuhan  seperti  sayur-sayuran,  buah-buahan,  biji- bijian dan kacang-kacangan  serta serelia, dalam jumlah yang sedikiterdapat didalam daging, telur, ikan.
Zat besi selain diperoleh dari bahan makanan juga bisa dari makanan yang mengandung zat besi eksogen yang berasal dari tanah, debu dan air atau panci tempat memasak. Keadaan ini lebih sering terjadi di negara yang sedang berkembang. Jumlah zat besi cemaran di dalam makanan mungkin beberapa kali lebih besar dibandingkan  dengajumlah  zat besi dalam makanannya  sendiri. Memasak makanan didalam panci besi bisa meningkatkan kandungan zat besi beberapa kali lipat, terutama sup yang mengandung sayuran yang mempunyai PH rendah dan dididihkan terlalu lama. Menggoreng dengan kuali besar biasanya tidak meningkatkan kandungan zat besi dalam makanan. Zat besi yang dilepas selama memasak akan berikatan dengan kelompok zat besi bukan hen dan siap untuk diserap. Bentuk lain zat besi eksogen terdapat dalam makanan seperti gandum, gula dan garam yang telah diperkaya dengan zat besi atau garam besi (Zat besi diperoleh dari bahan makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati dan telur) dan bahan makanan nabati (sayuran berwarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe).

Mengkonsumsi pangan hewani dan nabati yang cukup beraneka ragam baik jumlah maupun kualitasnya dapat membantu mencegah anemia gizi besi (Wirakusumah, 2002).
Makan   sayur-sayura dan   buah-buahan   yang   banya mengandung vitamin C (daun katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk dan nanas) sangat bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus.
Sumber makanan berzat besi tinggi diperoleh dari hati. Itu sebabnya, ibu hamil perlu banyak makan hati. Pilihan lain diperoleh dari daging, telur, kacang- kacangan dan sayuran berwarna hijau (Nadasul H, 2001).
Zat besi juga diperoleh dari ikan teri, kerang, kuning telur, susu, tempe dan susu kedelai, bayam juga makanan yang banyak mengandung  vitamin C seperti jeruk, tomat, mangga dan sebagainya. Sebab kandungan asam askorbat dalam vitamin C bisa meningkatkan penyerapan zat besi (Huliana M, 2001).

4 Tablet Tambah darah (TTD)

Tablet Tambah Darah (Ben-Folat) adalah tablet untuk suplementasi penanggulangan anemia gizi yang setiap tablet mengandung Fero Sulfat 200 mg atau setara 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat.
Adapun cara minum tablet tambah darah yaitu :

a.   Minumlah  1  (satu)  tablet  tambah  darah  seminggu  sekali  dan  dianjurkan minum 1 tablet setiap hari selama haid
b Untuk ibu hamil minumlah 1 (satu) tablet tambah darah setiap hari paling

Sedikit selama 90 hari masa kehamilan dan 40 hari.

Adapun yang harus diperhatikan tentang tablet tambah darah yaitu :


  
1)  Minumlah tablet tambah darah dengan air putih, jangan minum dengan teh, susu atau kopi karena dapat menurunkan penyerapan zat besi dalam tubuh sehingga manfaatnya menjadi berkurang
2)  Kadang-kadang  dapat  terjadi  gejala  ringan  yang  tak  membahayakan seperti perut terasa tidak enak, mual-mual, susah buang air besar dan tinja berwarna hitam
3)  Untuk  mengurangi  gejala  sampingan,  minumlah  TTD  setelah  makan malam,  menjelang  tidur.  Akan  lebih  baik  bilsetelah  minum  TTD disertai makan buah-buahan seperti pisang, pepaya, jeruk, dll.
4) Simpanlah TTD ditempat yang kering, terhindar dari sinar matahari langsung, jauhkan dari jangkauan anak. Dan setelah dibuka harus ditutup kembali dengan rapat. TTD yang telah berubah warna sebaiknya tidak diminum (warna asli merah darah)
5) Tablet tambah darah tidak menyebabkan tekanan darah tinggi atau kebanyakan darah
Kegiatan suplementasi ini untuk setiap kelompok sasaran mempunyai strategi  operasional  yanberbeda.  Anemia  padkehamilan  umumnya  terjadi akibat kekurangan zat besi didalam tubuh. Selama kehamilan absorpsi zat besi berlangsung  lebiefisien  dasangat  memberikan  respon  yang  sangat  baik terhadap  pengobatan  ferro  sulfat  secara  oral.  Anemia  padibu  hamil  dapat dicegah dan diobati dengan memberikan ferro sulfat setiap hari.
Defisiensi asam folat juga dijumpai pada ibu hamil, oleh sebab itu dianjurkan untuk memberikan pil ferro sulfat dan asam folat untuk pengobatan anemia pada kehamilan. Suplementasi zat besi secara oral merupakan suatu cara penanggulangan langsung anemia gizi besi pada suatu penduduk disamping fortifikasi bahan makanan. Besarnya dosis yang dianjurkan untuk suplementasi zat  besi  memerlukan  pertimbangan  terhadap  beberapa  faktor.  Pada  populasi dimana prevalensi defisiensi zat besi tinggi terutama bagi wanita yang akan memasuki kehamilan, banyak yang mengalami anemia, maka dosis yang lebih tinggi perlu diberikan, dibandingkan dengan daerah seperti pada negara maju, dimana wanita sebelum hamil mempunyai reserve zat besi rata-rata antara 200 -
300 mg di dalam hati. Jumlah ini diperkirakan cukup untuk memenuhi kenaikan kebutuhan zat besi pada kehamilan dan mencegah terjadinya defisiensi anemia besi ringan (Mahdin, 1989).
Untuk mengatasi masalah anemia gizi besi pada ibu hamil, pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sudah sejak tahun 1970 melalui program Usaha  Perbaikan  Gizi  Keluarga  (UPKG)  telah  mendistribusikan  tablet  besi dimana 1 tablet berisi 200 mg ferro sulfat dan 0,25 mg asam folat, ditujukan pada semua ibu hamil yang mengunjungi Posyandu dan Puskesmas. Pemberian tablet diutamakan pada kehamilan trimester III dengan dosis 1 tablet per hari. Ferro sulfa yang   terdapa dalam   table besi   yang   dibagikan   pada   ibu   hamil mengandung  30%  unsur  besi.  Setiap  ibu  hamil  diharapkan  meminum  paling sedikit 90 tablet. Dari 90 tablet tersebut diperkirakan 84% ferro sulfat yang dapat diabsorpsi oleh tubuh untuk mencukupi kebutuhan zat besi perlu didapat dari makanan.
Distribusi  suplementasi  zat  besi  saat  inberbeda  dengan  sebelumnya. Untuk ibu hamil komposisi TTD berisi 60 mg elemental iron dan 0,25 mg asam folat. Untuk pencegahan diberikan setiap hari 1 tablet selama 90 hari. Sedangkan apabila kadar Hb kurang dari 11 gr/dl maka diberikan dosis 3 x 1 tablet menurut Mahdin (1989), efek samping yang ditemukan pemberian pil besi adalah yang berhubungan  dengan  saluran pencernaan  atas seperti mual, muntah dan nyeri perut, yang berhubungan  dengan saluran pencernaan  bawah  seperti diare dan konstipasi.
Padpenelitian  sederhana  yang  dilakukan  oleh  Akromah  tahun  1997 dalam Mahdin (1989) di Desa Grogol Kecamatan Limo Kabupaten Bogor masih ditemukan keluhan terhadap efek samping TTD yaitu sebesar 17,65%. Walaupun keluhan efek samping telah menurun, ibu hamil belum teratur minum TTD. Adapun alasan tidak teratur adalah karena malas dan lupa. Fenomena ini menunjukkan bahwa mereka yang menunjukkan bahwa mereka yang malas dan lupa        dapat          disebabkan           masih    rendahnya      kesadaran   ibu             hamil      untuk meningkatkan                      kesehatannya             serta       kesehatan        janin     yang     dikandungnya. Rendahnya kesadaran ini dapat disebabkan oleh rendahnya pengetahuan tentang anemia dan pencegahannya.
Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 433

0 comments:

Poskan Komentar