KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI Senam Nifas pada masa Nifas

Jumat, 29 Juni 2012


1. Pengertian Masa nifas

Pasca partum adalah masa kira-kira 6 (enam) minggu setelah kelahiran bayi, selama tubuh beradaptasi keadaan sebelum hamil, disebut dengan puerperium (Ladewig, Patricia W, 2005, hlm. 227).
Masa puerpurium atau  masa  nifas  mulasetelah partus selesai,  daberakhir setelah kira-kira 6 (enam) minggu. Akan tetapi, seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 ( tiga ) bula(Sarwono, 2006, hlm. 237).
Pada awal tahun kehamilan dapat terjadi perubahan besar pada otot rahim yang mengalami pembesaran ukuran karena pembesaran selnya dan pembesaran ukuran- ukuran karena pertambahan jumlah selnya sehingga dapat menampung pertumbuhan dan perkembangan janin sampai cukup bulan dengan berat lebih dari 2500 gram. Berat rahim menjadi  sekitar  1  kg  ,  yang  semula  hanya  30  g  setelah  persalinaterjadi  proses sebaliknya           yang disebut  involusi ( kembalinya rahim keukuran semula ) dimana secara berangsur-angsur otot rahim mengecil kembali sampai berat semula pada minggu ke tujuh ( 42 hari )
Pemeriksaan setelah kala nifas tidak banyak mendapat perhatian para ibu karena sudah merasa baik dan selanjutnya semua berjalan lancar. Pemeriksaan setelah kala nifas sebenarnya sangat penting dilakukan untuk mendapatkan penjelasan yang berharga dari bidan atadokter yang  menolonpersalinaitu.  Diantara  masalah pentintersebut adalah melakukan evaluasi secara menyeluruh tentang alat kelamin dan terutama mulut rahim  yang  mungkin  masih  luka  akibat  proses  persalinan.       Penyembuhan  yanmenyebabkan  mulut  rahim  kaku,  dan  menyulitkan  persalinan  yang  akan  datang (Manuaba, Ida Bagus Gde, 1999, hlm. 151).

2.   Perubaham anatomi dan fisiologi pada masa nifas

Untuk  memberikan  perawatan  yang  menguntungkan  ibu,  bayi,  dan keluarganya, seorang perawat harus memanfaatkan pengetahuannya tentang anatomi dan fisiologi ibu antara lain:
a.  Uterus

Proses involusi ialah proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut involusi. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus.
Pada akhir tahap ketiga persalinan, uterus berada di garis tengah, kira-kira 2 cm dibawah umbilikus dengan bagian fundus bersandar pada promotorium sakralis. Pada saat ini besar uterus kira-kira sama dengan besar uterus sewaktu usia kehamilan  16  minggu  (kira-kira  sebesar  grapefruit  (  jeruk asam ))  dan beratnya kira-kira 1000 g.
Dalam waktu 12 jam , tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm di atas umbilikus.  Dalam  beberapa  harkemudian,  perubahan  evolusi  berlangsung dengan cepat. Fundus turun kira-kira 1 sampai 2 cm setiap 24 jam. Pada hari pascapartum keenam fundus normal akan berada di pertengahan antara umbilikus dan simfisis pubis. Uterus tidak bisa dipalpasi pada abdomen pada hari ke-9 pascapartum.  Uterus  yang  pada  waktu  hamil  penuh  beratnya  11  kali  berat sebelum hamil, berinvolusi menjadi kira-kira 500 g 1 minggu setelah melahirkan dan  350  g  (11  sampai  12  ons)  2  minggu  setelah  lahir.  Seminggu  setelamelahirkan uterus berada di dalam panggul sejati lagi. Pada minggu keenam, beratnya  menjadi 50  sampai 60 g. Subinvolusialah kegagalan uterus untuk kembali pada keadaan tidak  hamil. Penyebab subinvolusi yang  paling  sering ialah tertahannya fragmen plasenta dan infeksi (Bobak, 2004, hlm. 493).
b.  Lokia

Rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir seringka li disebut lokia, mula- mula berwarna merah, kemudian berubah menjadi merah tua atau merah coklat. Rabas  ini  dapat  mengandung  bekuan  darah  kecil.  Selama  dua  jam  pertama setelah lahir, jumlah cairan yang keluar dari uterus tidak boleh lebih dari jumlah maksimal yang keluar selama menstruasi. Setelah waktu tersebut, aliran lokia yang keluar harus semakin berkurang.
Lokia rubra  terutama  mengandundarah dan debris desidua  serta debris trofoblastik.  Aliran  menyembur,  menjadi  merah  muda  atau  coklat  setelah  3 sampai 4 hari (lokia serosa). Lokia serosa terdiri dari darah lama (old blood), serum, leukosit, dan debris jaringan. Setelah 10 hari setelah bayi lahir, warna cairan ini menjadi kuning sampai putih (lokia alba).
Lokia alba mengandung leukosit, desidua, sel epitel, mucus, serum, dan bakteri. Lokia alba bisa bertahan selama dua sampai enam minggu setelah bayi lahir.
Lokia  rubra  yang  menetap  pada  awal periode  pascapartumenunjukkan perdarahan berlanjut sebagai akibat fragmen plasenta atau membrane yang tertinggal.         Terjadinya        perdaraha ulang                    setelah          har ke-10               pascapartum menandakan  adanya  perdarahan  pad bekas   tampat   plasent yan mulamemulih. Namun, setelah 3 sampai 4 minggu, perdarahan mungkin disebabkan oleh infeksi atau subinvolusi. Lokia serosa atau lokia alba yang berlanjut bisa menandakan endometritis, terutama jika disertai demam, rasa sakit, atau nyeri tekan pada abdomen yang dihubungkan dengan pengeluaran cairan. Bau lokia menyerupai bau cairan menstruasi; bau yang tidak sedap biasanya menandakan infeksi.
Perlu diingat bahwa tidak semua perdarahan pervaginaan post partum adalah lokia. Sumber umum lain ialah laserasi vagina atau serviks yang tidak diperbaiki dan perdarahan bukan lokia (Bobak ,2004 ,hlm. 493).
c.  Serviks

Servik menjadi lebih tebal dan lebih keras; pada akhir minggu pertama post partum,  serviks  masih  akan  berdilatassekitar  1  cm.  involusi  serviks  yang lengkap bisa berlangsung 3 sampai 4 bulan. Kelahiran anak bisa mengakibatkan perubahan  permanen  pada  ostium  serviks  dari  bulat  menjadi  memanjang (Straight, Barbara R, 2004, hlm. 190).
Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. Delapan belas (18) jam postpartum, serviks memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali ke bentuk semula. Serviks setinggi segmen bawah uterus tetap edematosa, tipis, dan rapuh selama beberapa hari setelah ibu melahirkan. Ektoserviks (bagian serviks yang menonjol ke vagina) terlihat memar dan ada sedikit laserasi kecil kondisi yang optimal untuk perkembangan infeksi. Muara serviks, menutup secara bertahap. Dua jari mungkin masih dapat dimasukkan ke dalam  muara  serviks  pada  hari  ke-4  sampai  ke-6  postpartum,  tetapi  hanytangkai kuret terkecil yang dapat dimasukkan pada akhir minggu ke-2. Muara serviks eksterna tidak  akaberbentuk  lingkaraseperti sebelumelahirkan, tetapi terlihat memanjang seperti suatu celah, sering disebut seperti mulut ikan. Laktasi menunda produksi estrogeyang  mempengaruhi  mucus damukosa (Bobak, 2004, hlm. 493).
d.  Vagina dan Perineum

Segera setelah melahirkan, vagina tetap terbuka lebar. Mungkin mengalami beberapa derajaedema dan memar, dan celah pada                         introitus.            Setelah satu hingga dua hari pertama pascapartum, tonus otot vagina kembali, celah vagina tidak lebar dan vagina tidak lagi edema. Sekarang vagina menjadi berdinding lunak, lebih besar dari biasanya, dan umumnya longgar. Ukurannya menurun dengan  kembalinyrugae  vagina  sekitar  minggu  ketiga  postpartum.  Ruang vagina  selalu  sedikit  lebih  besar  daripada  sebelum kelahirapertama.  Akan tetapi,       latiha pengencangan   secar perlahan                                mengencangka vaginanya. Pengencangan ini sempurna pada akhir puerperium dengan latihan setiap hari (Varney, Helen, 2007, hlm. 960).
Pada masa postpartum, kadar estrogen menurun mengakibatkan penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula teregang akan kembali secara bertahap ke ukuran sebelum hamil, enam sampai 8 minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu keempat, walaupun tidak akan  semenonjol pada  wanita  nulipara.  Padumumnya rugae akamemipih secara permanen.  Penebalamukosa  vagina  terjadi seiring  pemulihafungsi ovarium. Kekurangan estrogen menyebabkan penurunan jumlah pelumas vagindan penipisan  mukosa vagina.  Kekeringan  lokal  dan rasa tidak  nyaman saat koitus (dispareunia) menetap sampai fungsi ovarium kembli normal dan menstruasi dimulai lagi. Biasanya wanita dianjurkan menggunakan pelumas larut air saat melakukan hubungan seksual untuk mengurangi nyeri.
Proses penyembuhan luka episiotomi sama dengan luka operasi lain. Tanda- tanda infeksi (nyeri, merah, panas, bengkak, atau rabas) atau tepian insisi tidak saling mendekat bisa terjadi. Penyembuhan harus berlangsung dalam dua sampai tiga minggu.
Hemoroid (varises anus) umumnya terlihat. Wanita sering mengalami gejala terkait, seperti rasa gatal, tidak nyaman, dan perdarahan berwarna merah terang pada waktu defecator. Ukuran hemoroid biasanya mengecil beberapa minggu setelah bayi lahir (Bobak, 2004, hlm. 495).
e.  Payudara

Ibu  menyusui,  untuk  dua  puluempat  jasampai tujupuludua  jam pertama  sesudah  melahirkan,  payudara  akan  mengeluarkan  kolostrum  suatu cairan kuning jernih yang merupakan susu pertama untuk bayi. Air susu yang lebih matang akan muncul antara hari kedua sampai kelima. Pada saat ini payudara akan membesar (penuh, keras, panas, dan nyeri) yang dapat menimbulkan kesulitan dalam menyusui. Menyusui dengan interval waktu yang sering       akan     dapat   mencegah             pembengkakan                    payudara             atau            membantu meredakan.
Ibu   yan tidak   menyusui payudar dari   ibu    yan tidak   menyusui kemungkinan  akan  mengalami  perubahan  awal  yang  sama  dengan  ibu  yanmenyusui. Mengikat payudara, memberi kompres  es, dan menghindari stimulasi pada payudara adalah cara-cara efektif untuk mengurangi produksi air susu dan meningkatkan         kenyamanan.                           Tindakan           ini                sama             membantunya    seperti penggunaaobat-obat  penghenti  ASI  yang  dahulu  biasa  diberikan,  tetapi sekarang sudah dihentikan karena efek sampingnya serius (Simkin, Penny, 2007, hlm. 321).
Laktasi dimulai pada semua wanita dengan perubahan hormon saat melahirkan. Apakah wanita memilih menyusui atau tidak, ia dapat mengalami kongesti payudara selama beberapa hari pertama post partum karena tubuhnya mempersiapkan untuk memberikan nutrisi kepada bayi. Wanita yang menyusui berespons  terhadap  menstimulus  bayi  yang  disusuakaterus  melepaskan hormon  dan  stimulasi  alveoli  yang  memproduks i  susu.  Bagi  wanita  yang memilih  memberikan  makanan  formula,  involusjaringapayudara  terjadi dengan menghindari stimulasi (Varney, Helen, 2007, hlm. 960).





KONSEP SENAM NIFAS

1.  Pengertian senam nifas

Senam nifas adalah gerakan untuk mengembalikan otot perut yang kendur karena peregangan selama hamil. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dalam melakukan latihan ini jika timbul rasa nyeri sebaiknya dilakukan perlahan tapi jangan tidak melakukannya sama sekali.
Senam ini dilakukan sejak hari setelah melahirkan hingga hari kesepuluh, dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara bertahap yang dimulai dari tahap yang paling sederhana hingga yang dengan mengulang gerakan (Hariningsih, 2004)
Senam nifas adalah senam yang dilakukan untuk mengembalikan kekendoran otot dinding perut dan mengembalikan kekencangan otot dasar panggul dan otot liang senggama (Mochtar, Rustam, 1998, hlm. 229).
Senam nifas adalah senam yang dilakukan sejak hari pertama melahirkan setiap hari sampai hari yang kesepuluh. Tentu saja senam ini dilakukan pada saat sang ibu benar-benar   pulih     (Muhammad     Taufik,                       2008,    Seputar            senam      nifas,                  1, http://www.ibudananak.com diperoleh tanggal 19 September 2008).
Setelah persalinan seorang ibu baru memasuki masa pemulihannya dan perlahan kembali kekondisi semula, tindakan tirah baring dan senam pasca persalinan membantu proses fisiologis ini secara perlahan. Senam nifas adalah untuk mempertahankan dan untuk  meningkatkan sirkulasi ibu pada  masa post  partum segera ketika ia  mungkin beresiko mengalami trombosis vena atau komplikasi sirkulasi lain (Eileen Brayshaw, 2007, hlm. 105).


   
2.   Manfaat senam nifas

Adapun beberapa manfaat senam nifas adalah :

a. Memperbaiki elastisitas otot-otot yang telah mengalami penguluran
b. Meningkatkan ketenangan dan mempelancar sirkulasi darah.
c. Mencegah pembuluh darah menonjol, terutama di kaki
d. Menghindari pembengkakan pada pergelangan kaki.
e. Mencegah kesulitan buang air besar dan buang air kecil
f. Mengembalikan rahim pada posisi semula.
g. Mempertahankan postur tubuh yang baik. 
h. Mengembalikan kerampingan tubuh.
i. Membantu kelancaran pengeluaran ASI (Huliana,Mellyana, 2003, Hlm. 95) Manfaat  senam  nifas  adalah  untuk  membantu  memperbaiki  sirkulasi  darah, memperbaiki sikap tubuh dan punggung setelah melahirkan, memperbaiki otot tonus, pelvis,  dan  perenggangan  otot  abdomen  atau  disebut  juga  pasca  persalinan  dan memperbaiki juga memperkuat otot panggul (Muhammad Taufik, 2008, Senam Nifas, 
4, http://www.ibudananak.com diperoleh tanggal 19 September 2008).

Umumnya, wanita yang habis melahirkan kerap mengeluhkan bentuk tubuhnya yang melar. Meski harusnya dimaklumi, akibat membesarnya otot rahim karena pembesaran sel maupun pembesaran ukurannya selama hamil. Selain otot perut pun jadi memanjang sesuai pertumbuhan kehamilan. Setelah melahirkan, otot-otot tersebut akan mengendur. Belum lagi kondisi tubuh yang kurang prima lantaran letih dan tegang. Sementara  peredaran  darah  dan  pernapasan  belum  kembali  normal.  Hingga  untuk membantu mengembalikan tubuh ke bentuk dan kondisi semula, tak bisa lain harus dengan latihan senam nifas yang teratur .
Manfaat lain senam nifas juga untuk mengencangkan otot perut, liang sanggama, otot-otot  sekitar  vagina  maupuotot-otot  dasar  panggul,  disamping  melancarkan sirkulasi darah. Senam nifas sebaiknya dilakukan dalam waktu 24 jam setelah melahirkan,  lalsecara teratur  setiahari.  Sayangnya,  para  ibkerap  merasa takut melakukan gerakan demi gerakan setelah persalinan. Padahal 6 jam setelah persalinan normal atau 8 jam setelah operasi sesar, ibu sudah boleh melakukan mobilisasi dini, termasuk senam nifas. Dengan melakukan senam nifas segera mungkin, hasil yang didapat  pun diharapkan  bisa optimal.  Tentunya  lakukan secara bertaha(Khasanah,
2008, senam nifas, 2, http://www.tabloid-nakita.com diperoleh tanggal 2 Septembe2008).

Dengan melakukan senam nifas, kondisi umum ibu jadi lebih baik. Rehabilitasi atau pemulihan jadi bisa lebih cepat, contohnya kemungkinan terkena infeksi pun kecil karena               sirkulasi  darahnya                                          bagus. Selain menumbuhkan atau memperbaiki nafsu makan, hingga asupan makannya bisa mencukupi kebutuhannya. Paling tidak, dengan melakukan senam nifas, ibu tak terlihat lesu ataupun emosional.
Bentuk latihan senam antara ibu yang habis melahirkan normal dengan yang sesar tidaklah sama. Pada mereka yang sesar, beberapa jam setelah keluar dari kamar operasi, pernapasanlah yang dilatih guna mempercepat penyembuhan luka. Sementara latihan untuk mengencangkan otot perut dan melancarkan sirkulasi darah di tungkai bardilakukan  2-3  hari  setelah  ibu  dapat  bangun  dari  tempat  tidur.  Sedangkan  pada persalinan normal, bila keadaan ibu cukup baik, semua gerakan senam bisa dilakukan.
Secara umum melahirkan adalah peristiwa berdurasi panjang, yang berarti bahwa ibu mungkin merasa lelah dan sakit serta sistem reproduksinya akan memerlukan waktu untuk pulih dari melahirkan itu sendiri (Helen, Varney, 2003, hlm. 197)

3.  Cara dan metode senam nifas

  
Umumnya, para ibu post  partum takut melakukan banyak gerakan. Sanibu biasanya khawatir gerakan-gerakan yang dilakukannya akan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Padahal, apabila ibu bersalin melakukan ambulasi dini, itu bisa memperlancar terjadinya proses involusi uteri (kembalinya rahim ke bentuk semula). Salah satu aktivitas yang dianjurkan untuk dilakukan para ibu setelah persalinan adalah senam nifas. Senam ini dilakukan sejak hari pertama setelah melahirkan hingga hari kesepuluh. Dalam pelaksanannya, harus dilakukan secara bertahap, sistematis, dan kontinyu Tujua sena nifas   ini  di  antaranya   memperbaik sirkulasi  darah, memperbaiki sikap tubuh setelah hamil dan melahirkan, memperbaiki tonus otot pelvis, memperbaiki regangan otot abdomen atau perut setelah hamil, memperbaiki regangan otot tungkai bawah, dan meningkatkan kesadaran untuk melakukan relaksasi otot-otot dasar panggul.
Ada beberapa cara senam nifas :

a Asuhan senam nifas atau latihan fisik:

1)  Mengajarkan latihan ringan tertentu yang membantu memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar panggul.

2)  Menjelaskan  pentingnya  pengembalian  otot-otot  perut  dan  panggul kembali  normal.  Ibu  akan  merasa  telah  kuat  dan  menyebabkan  otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung. Jelaskabahwa latihan atau senam beberapa  menit  setiahari sangat membantu, seperti:
a)  Latihan pernapasan dan otot perut
      (1) Dengan tidur telentang
(2) Lengan disamping

(3) Menarik otot selagi menarik nafas

(4) Tahan napas kedalam dan angkat dagu ke dada; tahan 1 hitungan sampai 
b)  Latihan memperkuat tonus otot vagina (latihan kegel)

(1) Kerutkan  otot  vagina  dan  anus  seperti  menahan  kencing  dan buang air besar dan tahan sampai hitungan 5.
(2) Kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.

(3) Mulai dengan menggerakkan 5 kali latihan untuk setiap gerakan, setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak.
(4) Pada minggu ke 6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali.
b Menurut Mellyna Huliana :

1). Pakaian dilonggarkan, tidur telentang dengan satu bantal kedua lutut lurus dan          tangan disamping badan.

2). Letakkan kedua telapak tangan diatas perut, yaitu di sekitar pusat sebagai perangsang.
3). Tidur telentang dengan satu bantal, kedua lutut dibengkokkan setengah tinggi dan telapak kaki rata pada kasur.
4). Tidur telentang dengan satu bantal, kedua lutut dibengkokkan setengah tinggi, lurus dan dirapatkan. Tangan terentang di samping dengan bahu lurus.
5). Duduk tegak berdiri, kedua tangan saling berpegangan pada lengan bawah dekat siku. Angkat siku sejajar dengan bahu.
6). Berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.

7). Tidur terlentang tanpa bantal dan tangan di sampinbadan, kerutkan pantat, kempeskan perut sehingga bahu menekan kasur, ulurkan leher dan lepaskan.
8). Posisi duduk atau berdiri, kedua tangan diletakkan di atas sendi bahu.

9). Berdiri dengan kaki sedikit direnggangkan. (Mellyna, Huliana, 2003, hlm.

96-103)

c Menurut Biro Hukum Dan Humas Dep.Kes. RI, latihan senam nifas terdiri dari :
1). Latihan menarik nafas.

Bantal kecil diletakkan dibawah bahu dengan kedua tangan dibawah kepala, wanita menarik nafas panjang dan pelan-pelan.
2). Berulang-ulang  mengangkat dan menurunkan tungkai, untuk memperkuat otot-otot perut.
3). Mengangkat tungkai untuk kemudian secara pelan-pelan menurunkannya.



4). Mengangkat kepala dan bahu untuk memperkuat tonus otot-otot perut.

5). Bangun dari sikap berbaring ke sikap duduk dengan meluruskan kedua lengan.
6). Bangun dari sikap berbaring ke sikap duduk dengan menarik kedua tangan dibelakang kepala (Biro Hukum Dan Humas Dep.Kes. RI, 1997, hlm. 162- 163)

Latihan senam post partum harus dilakukan sesegera mungkin. Ibu harus mulai dengan latihan senam yang sederhana kemudian dilanjutkan dengan gerakan yang lebih berat, yang dijelaskan dalam bentuk lampiran(Bobak, 2002, hlm. 53
Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 437

0 comments:

Poskan Komentar