KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI Pengetahuan Ibu Primigravida Tentang Tanda-Tanda Persalinan

Jumat, 29 Juni 2012


1.  Pengertian persalinan

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari        dalam          uterus    melaluvagina     ke           dunia           luar    (Prawirohardjo.
2005.hlm.180).

Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi persalinan sejati, dan diakhiri dengan pelahiran plasenta (Varney. 2007.hlm. 672).
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung selama 18 jam, tanpa komplikasi baik padaibu maupun pada janin.(Prawirohardjo.2005.hlm.180).
2.   Sebab-sebab mulanya persalinan

Sebab terjadinya persalinan sampai saat ini masih merupakan teori- teori  yang  komplek.   Faktor-faktor  humoral pengaruh  prostaglandin, struktur uterus, sirkulasi uterus, pengaruh saraf dan nutrisi disebut sebagai faktor yang mengakibatkan partus mulai. Perubahan-perubahan dalam biokomia   dan            biofisika             telah                       banyamengungkapkan      mulai   dan berlangsungnya partus, antara lain penurunan kadar hormon estrogen darogesteron.  Sepertdiketahui  progesterone  merupakan  penenang  bagi otot-otot uterus. Menurunnya kadar kedua hormon ini terjadi kira-kira 1 sampai 2 minggu sebelum partus dimulai. Kadar progesteron dalam kehamilan dari minggu ke 15 hingga aterm meningkat. Plasenta menjadi tua, dengan tuanya kehamilan. Villi koriales mengalami perubahan- perubahan, sehingga kadar estrogen dan progesteron menurun. Keadaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang mengakibatkan iskemia otot-otot uterus. Hal ini mungkin merupakan faktor yang dapat menganggu sirkulasi uteroplasenter, sehingga plasenta akan mengalami degenerasi. Berkurangnya nutrisi pada janin, maka    hasil konsepsi akan        segera dikeluarkan. Faktor lain yang dikemukakan ialah tekanan pada ganglion servikale dari Frankenhauser yang terletak di belakang. Bila ganglion tertekan maka   kontraks uterus   dapa dibangkitka (Prawirohardjo.2005.hlm.18    1).

3. Tanda-tanda persalinan

a. Adanya Kontraksi Rahim

Secara  umum,  tanda  awal  bahwa  ibu  hamil  untuk  melahirkan adalah mengejangnya rahim atau dikenal dengan istilah kontraksi. Kontraksi tersebut berirama, teratur, dan involuter, umumnya kontraksi bertujuan        untuk    menyiapkan     mulut           lahir untuk   membesar                   dan meningkatkan aliran darah di dalam plasenta.  Setiap  kontraksi uterus memiliki tiga fase. yaitu :
1. Increment : Ketika intensitas terbentuk
2. Acme : puncak atau maximum
3. Decement : Ketika otot relaksasi
  
Kontraksi yang  sesungguhnya  akan  muncul dan  hilang  secara teratur dengan intensitas makin lama makin meningkat. Perut akan mengalami kontraksi dan relaksasi, diakhir kehamilan proses kontraksi akan lebih sering terjadi (Huliana. 2001.hlm.118). Mulanya kontraksi terasa seperti sakit pada punggung bawah berangsur-angsur bergeser ke bagian bawah perut mirip dengan mules saat haid (Rose. 2007.hlm.120).                        Kontraksi terjadi simetris di kedua sisi perut mulai dari bagian atas dekat saluran telur ke seluruh rahim, kontraksi rahim terus berlangsung sampai bayi lahir (Indiarti.  2008.hlm.139).
Kontraksi uterus memiliki periode relaksasi yang memiliki fungsi pentin untuk   mengistirahatkan   otot   uterus member kesempatan istirahat  bagi  wanita,  damempertahankan kesejahteraan  bayi karena kontraksi uterus menyebabkan konstraksi pembuluh darah plasenta. Ketika otot uterus berelaksasi diantara kontraksi, uterus terasa lembut dan mudah ditekan, karena uterus berkontraksi, ototnya menjadi keras dan  lebih  keras,  dan  keseluruhan  uterus  terlihat  naik  ke  atas  pada abdomen         sampa ke                  ketinggian     yang             tertinggi.               Setiap    kali   otot berkontraksi, rongga uterus menjadi lebih kecil dan bagian presentasi atau  kantong  amnion  didorong  ke  bawah  ke  dalam  serviks.  Serviks

pertama-tama menipis, mendatar, dan kemudian terbuka, dan otot pada fundus menjadi lebih tebal. Durasi kontraksi uterus sangabervariasi, tergantun pada   kal persalina wanit tersebut Kontraks pada persalinan aktif berlangsung dari 45 sampai 90 detik dengan durasi rata- rata  60         detik.          Pada    persalinan        awal,     kontraksi         mungkin      hanya berlangsung 15 sampai 20 detik. Frekuensi kontraksi ditentukan  dengan mengukur waktu dari permulaan satu kontraksi ke permulaan kontraksi selanjutnya.         Kontraks biasany diserta rasa      sakit,   nyeri,   makin mendekati kelahiran. Kejang nyeri tidak akan berkurang dengan istirahat atau elusan, wanita primipara ataupun yang sedang dalam keadaan takut da tida mengetahui  apa   yan terjad pad diriny sert tidak dipersiapkan dengan teknik relaksasi dan pernapasan untuk mengatasi kontraksinya akan menagis dan bergerak tak terkendali di tempat tidur hanya karena kontraksi ringan, sebaliknya wanita  yang  sudah  memiliki pengalaman  atau  telah  dipersiapkan  dalam  menghadapi  pengalaman kelahiran  dan  mendapat  dukungan  dari  orang  terdekat  atau  tenaga professional       yanterlatih memimpin                    perslinan,                 atau      wanita berpendidikan  tidak  menunjukkan  kehilangan  kendali  atau  menagis bahkan pada kontraksi yang hebat sekalipun (Varney. 2007.hlm.675).
Ketika  merasakan  kontraksi uterus,  mulailauntuk  menghitung waktunya Catatla lamany wakt antara   sat kontraksi  dengan kontraksi  berikutnya,  dan  lamanya  kontraksi  berlangsung.  Jika  ibu merasakan  mulas  yang  beluteratur  akan  lebih  baik  menunggu  di rumah sambil beristirahat dan mengumpulkan energi untuk persalinan. Jika kontraksi sudah setiap 5 menit sekali atau sangat sakit dapat berangkat ke rumah sakit dengan membawa perlengkapan yang sudah dipersiapkan (Indiarti. 2008.hlm. 140).
b. Keluarnya lendir bercampur darah

Lendir  disekresi  sebagai  hasil  proliferasi  kelenjar  lendir  servik pada   awa kehamilan Lendir                         mulanya    menyumbat   lehe rahim, sumbatan yang tebal pada mulut rahim terlepas, sehingga menyebabkan keluarnya  lendir  yang  berwarna  kemerahan  bercampur  darah  dan terdorong  keluar  oleh  kontraksi  yang  membuka  mulut  rahim  yang menandakan bahwa mulut rahim menjadi lunak dan membuka.  Lendir inilah yang dimaksud sebagai bloody slim.
Blood slim paling sering terlihat sebagai rabas lendir bercampur darah yang lengket dan harus dibedakan dengan cermat dari perdarahan murni. Ketika melihat  rabas sering, wanita sering kali berpikir bahwa ia melihat tanda persalinan. Bercak darah tersebut       biasanya akan terjadi beberapa hari sebelum kelahiran tiba, tetapi tidak perlu khawatir dan tidak perlu tergesa-gesa ke rumah sakit, tunggu sampai rasa sakit di perut atau bagian belakang dan dibarengi oleh kontraksi yang teratur. Jika keluar pendarahan hebat, dan banyak seperti menstruasi segera ke rumah sakit (Maulana. 2008.hlm. 205).


c.  Keluarnya air-air ( ketuban )

Proses penting menjelang persalinan adalah pecahnya air ketuban. Selama sembilan bulan masa gestasi bayi aman melayang dalam cairan amnion. Keluarnya air-air dan jumlahnya cukup banyak, berasal dari ketuban yang pecah akibat kontraksi yang makin sering terjadi (Maulana.  2008.hlm.205-206).  Ketubamulai pecah sewaktu-waktu sampai pada saat persalinan. Kebocoran cairan amniotik bervariasi dari yang  mengalir  deras  sampayang  menetes  sedikit  demi  sedikit, sehingga dapat ditahan dengan memakai pembalut yang bersih. Tidak ada rasa sakit yang menyertai pemecahan ketuban dan alirannya tergantung pada ukuran, dan kemungkinan kepala bayi telah memasuki rongga panggul ataupun belum (Stoppard. 2008.hlm.253-254). Jika ketuban yang menjadi tempat perlindungan bayi sudah pecah, maka sudah saatnya bayi harus keluar. Bila ibu hamil merasakan ada cairan yang merembes keluar dari vagina dan keluarnya tidak dapat ditahan lagi,  tetapi tidak  disertamulas  atau  tanpa  sakit,  merupakatanda ketuban pecah dini, yakni ketuban pecah sebelum terdapat tanda-tanda persalinan, sesudah itu akan terasa sakit karena ada kemungkinan kontraksi. Bila ketuban pecah dini terjadi, terdapat bahaya infeksi terhadap bayi. Ibu akan dirawat sampai robekannya sembuh dan tidak ada  lagi cairayang  keluar  atasampabayi  lahir.  Normalnya air ketuban  ialah  cairan  yang  bersih,  jernih,  datidak  berbau.  Segerhubungi dokter bila dicurigai ketuban pecah, dan jika pemecahan ketuban tersebut disertai dengan ketuban yang berwarna coklat kehijauan, berbau tidak enak, dan jika ditemukan warna ketuban kecoklatan berarti bayi sudah buang air besar di dalam rahim, yang sering sekali menandakan bahwa bayi mengalami distres (meskipun tidak  selaldan perlu  segera dilahirkan),  pemeriksaan  dokter  akan menentukan apakah janin masih aman untuk tetap tinggal di rahim atau sebaliknya (Nolan. 2003.hlm.69).
d. Pembukaan servik

Penipisan mendahului dilatasi servik, pertama-pertama aktivitas uterus dimulai untuk mencapai penipisan, setelah penipisan kemudian aktivita uterus   menghasilka dilatas servik                     yang                                              cepat   (Liu. 2002.hlm.70). Membukanya leher rahim sebagai respon terhadap kontraksi yang  berkembang.  Tanda  ini tidak  dirasakan oleh  pasien tetapi dapat diketahui dengan pemeriksaan dalam. Petugas akan melakukapemeriksaauntuk  menentukan  pematangan,  penipisan, dan pembukaan leher rahim (Simkin. 2008.hlm.190). Servik menjadi matang selama periode yang berbeda-beda sebelum persalinan, kematangan servik mengindikasikan kesiapanya untuk persalinan (Varney. 2007.hlm. 673).


4.   Tanda persalinan palsu

Ketika mendekati kehamilan aterem, banyak wanita mengeluhkan kontraksi uterus yang terasa nyeri, yang mungkin menunjukkan permulaan persalinan tetapi meskipun terjadi kontraksi kemajuan dilatasi servik tidak terjadyang  disebut  dengaPersalinan  palsu  atau  false  labour.  Disini terjadaktivitas  uterus  yang  kekuatan  kontraksi  bagian  bawah  uterus hampir sama besar dengan kontraksi bagian atas, karena itu dilatasi servik tidak terjadi dan nyeri karena kontraksi uterus sering dirasakan pada panggul bawah, dan tidak menyebabkan nyeri dari pinggang sampai ke perut bagian bawah., lama kontraksi pendek dan tidak begitu kuat, bila dibawa  berjalan kontraksi biasanya menghilang.  Kontraksi lebih sering terjadi pada malam hari tetapi frekwensi dan intensitasnya tidak meningkat dari waktu ke waktu (Liewellyn.2001.hlm 80).
Kontraks ini   terjad pada    trimeste tiga    da sering    salah memperkirakan kontraksi Braxton Hicks yang kuat sebagai kontraksi awal persalinan.  KontraksBraxton  Hicks  yang  kuat  dapat  disalah  artikan sebagai tanda datangnya persalinan, daini dikenal sebagai persalinan palsu. Menghitung waktu awal kontraksi selama lebih dari satu jam dan jika kontraksi tersebut terjadi berdekatan satu sama lain dan berlangsung lama, mungkin memasuki persalinan (Stoppard. 2008.hlm.254). Persalinan palsu dapat terjadi selama berhari-hari atau secara intermiten bahkan tiga atau empat minggu sebelum persalinan yang sebenarnya. Persalinan palsterasa sangat nyeri dan wanita dapat mengalami kurang tidur dan kekurangan energi dalam menghadapinya. Wanita tidak tahu cara memastikan apakah ia benar-benar mengalami persalinan yang sebenarnya karena hal tersebut hanya dapat dipastikan dengan pemeriksaan dalam.. Persalinan palsu dapat memberikan indikasi bahwa persalinan sudah dekat (Varney. 2007.hlm. 653).
5.   Pemeriksaan menjelang persalinan

Saat mulai terasa mulas dan mengalami kontraksi secara teratur sebagatanda  akan  segera  melahirkan,  perlu  dilakukan  pemeriksaan dalam. Tujuannya untuk mengetahui kemajuan persalinan, yang meliputi pembukaan  servik,  masih  ada  atau  tidaknya  selaput  ketuban  karena, apabila sudah pecah harus diberi tindakan. Dengan  pemeriksaan       dalam dapat dinilai juga tentang kepala bayi, apakah sudah memutar atau belum, sampai  mana  putaran  tersebut  karena  kondisi  ini  akan  menentukan jalannya persalinan (Indiarti, 2008). Jantung janin akan dimonitor secara teratur dengan fetoscope  yang  akadiperiksa  secara  rutioleh  petugas kesehatan untuk mengetahui  kesejahteraan      janin.      Kontraksi     uterus dihitung setiap kali ibu merasakan mulas, dan pada perut ibu teraba keras. Mengukur waktunya dan mencatat jarak antar kontraksi   (dari akhir satu kontraksi sampai awal kontraksi yang lain). Tanda-tanda vital, intake dan out take ibjuga diperiksa selama proses persalina (Miriam Stoppard, 2008).



6.   Faktor-faktor yang berperan dalam persalinan a.  Power (Tenaga yang mendorong bayi keluar)
Seperti his atau kontraksi uterus kekuatan ibu mengedan, kontraksi diafragma, dan ligamentum action terutama ligamentum rotundum.
b.  Passage (Faktor jalan lahir)

Perubahan pada serviks, pendataran serviks, pembukaan servik dan perubahan pada vagina dan dasar panggul
c.    Passanger

Passenger utama lewat jalan lahir adalah janin. Ukuran kepala janin lebih lebar daripada  bagia bahu,   kurang    lebi seperempat   dari panjang ibu. 96% bayi                            dilahirkan           dengan    bagian    kepala     lahir pertama. Passanger terdiri dari janin,                plasenta, dan selaput ketuban (Helen, 2002).
d.  Psikis ibu

Penerimaan klien atas jalanya perawatan antenatal (petunjuk dan persiapan untuk menghadapi persalinan), kemampuan klien untuk bekerjasama dengan penolong, dan adaptasi terhadap rasa nyeri persalinan.
e. Penolong

Meliputi ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, kesabaran, pengertiannya dalam menghadapi klien baik primipara dan multipara.


7.   Tahapan persalinan normal
a. Kala I
Mulai  dari  tanda-tanda  persalinan  dan  berakhir  ketika  pembukaan mulut rahim sudah lengkap.
Kala I dibagi menjadi 2 fase yaitu :

1)  Fase laten

Fase laten adalah periode waktu dari awal persalinan hingga ketika pembukaa mula berjala secara   progresif yan umumnya dimulai sejak kontraksi muncul hingga pembukaan tiga sampai empat  sentimeter  atau  permulaan  fase  aktif.  Selama  fase  laten bagian presentasi mengalami penurunan sedikit hingga tidak sama sekali (Varney. 2007.hlm.679). Pembukaan serviks berlangsung lambat,        membuka           sampai 3               cm,              dan         berlangsung     8                     jam (Prawirohardjo, 2001). Pada fase laten servik membuka dan melunak,  bergerak  dari posterior  ke anterior  dan dilatasi servik antara 0 sampai 4 cm, tempat terbaik menghabiskan masa laten adalah  drumah  dan  tidak  di  lingkungan    rumah  sakit  karena kecemasan  bisa  menghambat  persalinan (Chapman.2000.hlm.11- 12)

2)  Fase aktif

Fase aktif adalah periode waktu dari awal kemajuan aktif pembukaan            sampai                       hingga     pembukaan                    menjadi     komplit.

Pembukaan umumnya dimulai dari tiga sampai empat sentimeter (akhir fase laten) hingga 10 sentimeter (akhir kala satu persalinan). Penurunan kepala yang progresif terjadi pada akhir fase aktif dan selama kala dua persalinan. Kontraksi selama fase aktif menjadi lebih sering dengan durasi yang lebih panjang dan intensitas yang lebih kuat (Varney. 2007.hlm.679).
Dibagi 3 fase lagi , yaitu :

a). Fase akselerasi : Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi

4 cm.

b).  Fase  dilatasi  maksimal  :  Dalam  waktu  2  jam  pembukaan berlagsung                         sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.
c). Fase  deselerasi  :  Pembukaan  menjadi  lambat  sekali.  Dalam waktu jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.
Kala I pada primipara berlangsung 13 jam dan pada multipara 7 jam (Prawirohardjo. 2005.hlm 82).
b. Kala II

Mulai dari pembukaan lengkap sampai bayi lahir. Kala II adalah kala pengeluaran ditandai  dengan  pembukaan  leher  rahim  yang  sudah lengkap  (10  cm),  kontraksmasih  berlangsung  sepanjang  60-90 menit  lebiteratur,  his  menjadlebih  kuat  dacepat  kira-kira  2 sampai 3 menit sekali, perineum mulai menonjol dan menjadi lebar dengan  anus  membuka,  labia  mulai  membuka  dan  tidak  lamkemudian kepala janin tampak dalam vulva pada waktu his (Saifuddin, 2000). Adapun tanda-tanda kala II adalah his lebih sering dan kuat, adanya dorongan untuk mengedan, pengejanan ini timbul secara reflektoris karena kepala janin telah sampi di dasar panggul, sholebibanyak kadang-kadandiikuti sedikit  perdarahan, ada rasa seperti ingin buang air besar, hal ini disebabkan karena tekanan kepala pada dasarpanggul dan juga pada rectum,  perineum mulai menonjol dan anus mulai membuka. Tanda ini mulai tampak bila betul-betul kepala sudah di dasar panggul dan mulai membuka pintu (Saifuddin. 2000.hlm 45). Kala II berlangsung rata-rata 1,5 jam pada primigravida dan pada multipara rata-  rata 0,jam (Prawirohardjo,
2005).

c Kala III

Kala III dimulai saat proses kelahiran bayi selesai dan berakhir dengan lahirnya plasenta. Kala III berlangsung rata-rata 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri,            pengeluaran                   plasenta           disertai            dengan           pengeluaran             darah (Prawirohardjo, 2005). Kisaran normal kala tiga sampai 30 menit, resiko perdarahan meningkat apabila kala tiga lebih lama dari 30 menit terutama antara 30 dan 60 menit (Varney, 2007).


d.  Kala IV

Kala pengawasan selama 2 jam setelah bayi dan plasenta lahir untuk mengamati keadaaibu  terutama  terhadap  bahaya pendarahan post partum (Prawirohardjo, 2005). Perdarahan post partum terjadi pada 2 jam pertama, observasi yang dilakukan adalah untuk menilai kesdaran penderita, tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, kontraksi uterus, jumlah pendarahan). Perdarahan normal bila tidak melebihi 400 s/d 500 cc. Sebelum meninggalkan ibu                                      yan pos partum petugas harus memantau ibu setiap 15 menit pada satu jam pertama setelah kelahiran plasenta dan 30 menit  pada jam kedua setelah persalinan (Saifuddin, 2000).

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 439

0 comments:

Poskan Komentar