KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI Dismeorea Primer

Jumat, 29 Juni 2012


     Pengertian Dismenorea

Dismenorea atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi kedokter untuk konsultasi dan pengobatan. Gangguan ini bersifat subyektif, berat atau intensitasnya sukar dinilai (Winkjosastro,1999).
Dismenorea adalah menstruasi yang menimbulkan rasa nyeri, keadaan ini mengenai 60-70% dari wanita yang mengalami menstruasi (Rayburn, 2002). Sedangkan menurut Baziad (2003), dismenorea artinya adalah nyeri haid yang merupakan suatu gejala dan bukan suatu penyakit. Nyeri haid ini timbul akibat kontraksi distrimik miometrium yang menampilkan satu atau lebih gejala mulai dari nyeri yang ringan sampai berat.
Menurut Price (1995), dismenorea adalah menstruasi yang sangat nyeri disebabkan oleh kejang otot uterus. Derajat rasa nyerinya bervariasi mencakup ringan (berlangsung beberapa saat dan masih dapat meneruskan aktivitas sehari- hari), sedang (karena sakitnya diperlukan obat untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi masih  dapat  meneruskan  pekerjaannya),  berat  (rasa  nyerinya  demikian beratnya sehingga memerlukan istirahat dan pengobatan untuk menghilangkan nyerinya).
Istiladismenorea  biasa  dipakai  untuk  nyeri  haid  yang  cukup  berat dimana penderita mengobati sendiri dengan analgesik atau sampai memeriksakan diri kedokter. Dismenorea berat adalah nyeri haid yang disertai mual, muntah, diare, pusing, nyeri kepala, dan (terkadang) pingsan (Manuaba, 2002).

Dismenorea adalah gejala yang lazim dijumpai. Sering sulit untuk menentukannya sebagai abnormal, karena banyak wanita sehat sampai batas tertentu mengalami rasa tidak enak selama haid. Pada kebanyakan wanita, nyeri ringan seperti krainmereda  segera  setelah  keluarnya darah  haid  (Swartz,
1995).


Dismeorea Primer
       Pengertian Dismenorea Primer

Dismenorea   prime adala nyer hai yang   dijumpai  tanpa kelainan pada alat-alat genital yang nyata. Dismenorea primer terjadi beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena siklus- siklus haid pada bulan-bulan pertama setelah menarche umumnya berjenis anovulator yang tidak disertai dengan rasa nyeri (Winkjosastro, 1999).
Menurut  Baziad  (2003),  dismenorea  primer  adaladismenorea yang terjadi sejak usia pertama sekali datang haid yang disebabkan oleh faktor intrinsik uterus, berhubungan erat dengan ketidakseimbangan hormone steroid seks ovarium tanpa adanya kelainan organik dalam pelvis. Menurut Winkjosastro, (1999) , dismenorea primer timbul sejak menarche, biasanya pada tahun pertama atau kedua haid. Biasanya terjadi pada usia antara15-25 tahun dan kemudian hilang pada usia akhir 20-an atau awal 30-an. Nyeri biasanya terjadi beberapa jam sebelum atau setelah periode menstruasi dan dapat berlanjut hingga 48-72 jam.
Biasanya  dismenorea  primer  timbul  pada  masa  remaja,  yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi pertama. Pertambahan umur dan kehamilan akamenyebabkamenghilangnya dismenorea primer.  Hal ini diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuan dan hilangnya sebagian saraf  pada  akhir  kehamilan  (Maulana,  2008).  Dismenorea  primer  mengenai sekitar 50-75% wanita yang masih menstruasi (Baradera, 2002).

         Patofisiologi dismenorea primer
       Patofisiologi  terjadinya  dismenorea  hingga  kini  belum  jelas.

Beberapa faktor diduga berperan dalam timbulnya dismenorea primer yaitu :

a Faktor psikis dan konstitusi

Pada wanita yang secara emosional tidak stabil, dismenorea primer mudah terjadi. Faktor konstitusi erat kaitannya dengan faktor psikis, faktor ini dapat menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Sering kali segera setelah perkawinan dismenorea hilang, dan jarang sekali dismenorea menetap setelah melahirkan. Mungkin kedua keadaaan tersebut (perkawinan dan melahirkan) membawa perubahan fisiologis pada genitalia maupun psikis. Disamping itu, psikoterapi terkadang mampu menghilangkan dismenorea primer. Pada gadis- gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid, mudah timbul dismenorea. Faktor konstitusi erat hubungannya dengan kejiwaan (Winkjosastro, 1999).
b Faktor obstruksi canalis cervikalis

Dismenorea seringkali terjadi pada wanita yang memiliki uterus posisi hiperantefleksi dengan stenosis pada servikalis. Namun, hal ini tidak dianggap sebagai  faktor  yang  penting  dalaterjadinya  dismenorea  sebab  banyak wanita yang mengalami dismenorea tanpa adanya stenosis canalis servikaliataupun uterus hiperantefleksi (Winkjosastro,1999).

c Faktor alergi

Teori  ini  dikemukakasetelamemperhatikaadanya  hubungan antara              dismenorea    dengan   urtikaria,    migraine    atau    asma    bronchial (Winkjosastro,1999).
d.   Faktor neurologis

Jeffcoate   mengemukakan    bahwa    dismenorea    ditimbulkan    oleh ketidakseimbangan                              pengendalian            system     syaraf     otonom      terhadap miometrium.  Pada keadaaini terjadi perangsangayang  berlebihan oleh syaraf simpatis sehingga serabut-serabut sirkuler pada istmus dan ostium uteri internum menjadi hipertonik (Winkjosastro,1999).


e Vasopressin

Kadar  vasopressin  pada  wanita  dengadismenorea  primer  sangat tinggi dibandingkan dengan wanita tanpa dismenorea. Pemberian vasopressin pada           saat   menstruasi                   menyebabkan       meningkatnya       kontraksi    uterus, menurunnya  aliradarah  pada  uterus,  dan  menimbulkan  nyeri.  Namun, hingga           kini               peranan       pasti            vasopressin           dalamekanisme     terjadinya dismenorea masih belum jelas (Winkjosastro,1999).
f.    Faktor hormonal
Umumnya  kejang  yang  terjadi  pada  dismenorea  primer  dianggap terjadi akibat  kontraksi uterus yanberlebihan.  Peningkatan prostaglandin pada endometrium yang mengikuti turunnya kadar progesterone pada fase luteal akhir menyebabkan peningkatan tonus miometrium dan kotraksi uterus (Winkjosastro,1999).

Dismenorea primer timbul setelah hari pertama atau hari kedua dari menstruasi, nyeri bersifat kolik atau kram dan dirasakan pada abdomen bawah
(Baradera, 2002).

Diagnosis dismenorea primer

a Dismenorea primer sering ditemukan pada usia muda.

b Nyeri sering timbul segera setelah mulai timbul  haid teratur
c Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus dan spastic.
d.   Kelelahan dan nyeri kepala.
                   e Nyeri haid timbul mendahului haid dan meningkat pada hari pertama atau hari kedua haid.

                         f.    Pada pemeriksaan ginekologik jarang ditemukan kelainan genitalia.

g.   Cepat  memberikan  respon  terhadap  pengobatan  medikamentosa  (Baziad, 2003).
               
                   Gambaran  klinik

Menurut Rayburn (2002), gambaran klinik dismenorea primer  ditemukan dengan gejala-gejala sebagai berikut :
a.   Kram pada perut bagian bawah terutama 2 hari petama haid, dan bisa menjalar ke punggung.
b Rasa mual dan muntah. 
c Diare.
d.   Lesu.

e Sakit kepala adalah salah satu gejala yang menyertainya.

Menurut Price (1995), Gejala utama dismenorea primer adalah nyeri, dimulai pada saat permulaan menstruasi. Nyeri dapat tajam, tumpul, siklik, atau menetap. Dapat berlangsung dalam beberapa jam sampai 1 hari. Kadang-kadang gejala dapat lebih lama tapi jarang melebihi 72 jam. Gejala-gejala sistemik yang
menyertainya berupa mual, diare, sakit kepala, dan perubahan emosional.

    Penanganan

a Penerangan dan nasehat

Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa dismenorea adalah gangguan yang tidak berbahaya untuk kesehatan. Harusnya diberikan penjelasan dan diskusi mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan, dan lingkungan penderita. Nasehat-nasehat mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup, dan olahraga mungkin  berguna.  Kadang-kadang  diperlukan  psikoterapi  (Winkjosastro1999).


b Pemberian obat analgesic

Dewasa ini banyak beredar obat-obat analgesic yang dapat diberikan sebagai terapi simptomatik. Jika rasa nyerinya berat, diperlukan istirahat di tempat  tidur  dan  kompres  panas  pada  perut  bawah  untuk  mengurangpenderitaan (Winkjosastro, 1999).

c Terapi hormonal

Terapi     hormonal    telah    banyak    digunakan    dalam    pengobatan dismenorea primer. Tujuannya adalah untuk menghasilkan siklus haid anovulatorik, sehingga nyeri haid dapadikurangi. Pemberian progestogen mengurangi sintesis prostaglandin di endometrium (Baziad, 2003). Tindakan ini bersifat sementara dengan maksud untuk membuktikan bahwa gangguan benar-bena dismenore prime ata untuk       memunggkinka penderita melaksanakan pekerjaan penting pada waktu haid tanpa gangguan. Tujuan ini dapat dicapai dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontrasepsi (Winkjosastro, 1999).
d.   Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin

Obat anti-inflamasi nonsteroid adalah obat yang efektif untuk menghambat sintesis prostaglandin (Baradera, 2002). Terapi ini memegang peranan  yang  makin  penting  terhadap  dismenorea  primer  (Winkjosastro,
1999).  Untuk  dismenorea  primer  dapat  diberikan  obat-obat  penghambat

sintesis prostaglandin seperti asam mefenamat, asetaminofenindometasin, fenilbutazon, asam arialkanoat (ibuprofen, fenoprofen, naproxen). Obat-obat jenis inidiberikan 1-2 hari menjelang haid dan diteruskan sampai hari kedua atau ketiga siklus haid (Baziad, 2003).
e Dilatasi kanalis servikalis

Dilatasi    kanalis     servikalis    dapat    memberi    keringanan    karena memudahkan pengeluaran darah haid dan prostaglandin di dalamnya (Winkjosastro, 1999).
Dismenorea primer dapat diatasi dengan inhibator prostaglandin. Obat anti inflamasi nonsteroid (nonsteroid anti-inflammatory drugs, NSAID) (Baradera, 2002).


Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 432

0 comments:

Poskan Komentar