KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI BLADDER TRAINING PADA IBU-IBU PASCA SEKSIO SESAREA DI RSUD. DR. PIRNGADI MEDAN

Kamis, 14 Juli 2011

Bladder Training

1. Defenisi

Bladder     training     (melatih      kembali      kandung      kemih)      ialah      untuk mengembalikan pola normal perkemihan dengan menghambat atau menstimulasi pengeluaran air kemih (AHCPR, 1992).
2. Tujuan bladder training

Mengembalikan pola kebiasaan berkemih.

3. Proses Berkemih

Berkemih (mictio, mycturition, voiding, atau urination) adalah proses pengosongan            vesikurinaria                        (kandung                kemih).       Proses      ini           dimulai             dengan terkumpulnya  urine  dalam  vesika  urinaria  yang  merangsang  saraf-sarasensorik dalam dinding vesika urinaria (bagian reseptor). Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan saraf bila berisi kurang lebih 250-450 cc (pada orang dewasa) dan 200-
250 cc (pada anak-anak). Mekanisme berkemih terjadi karena vesika urinaria berisi urine  yang  dapat  menimbulkan rangsangan,  melalumedulla  spinalis  dihantarkan kepusat pengontrol berkemih yang terdapat dikorteks serebral, kemudian otak memberikan implus/rangsangan melalui medulla spinalis ke neuromotoris  didaerah sakral, serta terjadi koneksasi otot detrosor dan relaksasi otot sfingter internal.
4. Komposisi urine

1.   Air (96 %)

2.   Larutan (4%)

a Larutan organik (urea, ammonia, keratin, dan uric acid)

b Larutan anorganik (natrium (sodium), klorida, kalium, (potosium), sulfat, magnesium, dan fosfor
Natrium klorida merupakan garam anorganik yang paling banyak

5.    Faktor yang mempengaruhi Eliminasi Urine

1.   Diet dan asupan

Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang memengaruhi output atau jumlah urine. Protein dan natrium dapat menentukan jumlah urine yang dibentuk. Selain itu, kopi juga dapat meningkatkan pembentukan urine
2.   Respon keinginan awal untuk berkemih

Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat menyebabkan urine banyak tertahan di dalam vesika urinaria sehingga memengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah pengeluaran urine
3.   Gaya hidup

Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi, dalam kaitannya dengan ketersediaan fasilitas toilet
4.   Stres Psiko logis

Meningkatnya stress dapat mengakibatkan seringnya frekuensi keinginan berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih dan jumlah urine yang diproduksi
5.   Tingkat aktivitas

Eliminasi urine  membutuhkan tonus otot  vesika  urinaria  yang  baiuntuk fungsi sfingte. Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan kemampuan pengontrolan berkemih menurun dan kemampuan tonus otot didapatkan dengan beraktivitas.
6.   Tingkat perkembangan

Tingkat pertumbuhan dan perkembangan dapat memengaruhi pola berkemih, Ha tersebut          dapat                         ditemukan                  pada    anak-anak    yang    lebih    memiliki kecendrungan untuk mengalami kesulitan mengontrol buang air kecil. Namun dengan bertambahnya usia, kemampuan untuk mengontrol buang air kecil meningkat.
7.   Kondisi penyakit

Kondisi penyakit tertentu, seperti diabetes mellitus, dapat memengaruhi produksi urine.
8.   Sosiokultural

Budaya dapamemengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine, seperti adanya kultur masyarakat yang melarang buang air kecil ditempat tertentu.
9.   Kebiasaan seseorang

Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih ditoilet dapat mengalami kesulitan untuk berkemih dengan melalui urinal atau pot urine bila dalam keadaan sakit.
10. Tonus otot

Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah kandung kemih, otot abdomen dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi pengontrolan pengeluaran urine
11. Pembedahan

Efek    pembedahan     dapat   menurunkan     filtrasi      glomerolus      yang    dapat menyebabkan           penurunan        jumlah  produks urine karena    dampak          dari pemberian obat anestesi.
12. Pengobatan

Efek  pengobatan  menyebabkan  peningkataatau  penurunan  jumlah urine. misalnya, pemberian diuretic dapat meningkatkan jumlah urine, sedangkan pemberian obat antikolinergik atau antihipertensi dapat menyebabkan retensi urine
13. Pemeriksaan Diagnostik

Prosedur diagnostic yang berhubungan dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti intravenouspyelogram (IVP), dengan membatasi jumlah asupan dapat memengaruhi produksi urine. Kemudian, tindakan sistokopi dapat menimbulkan edema lokal pada uretra yang dapat mengganggu pengeluran urine.


Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 209

0 comments:

Poskan Komentar