KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI Hubungan antar waktu inisiasi menyusui dini (IMD)dengan involusi uterus pada ibu postpartum normal hari ke 7

Kamis, 14 Juli 2011

2.1    Konsep Dasar Menyusui
2.1.1        Pengertian Menyusui
Menyusui adalah suatu cara yang tidak ada duanya dalam memberikan makanan yang ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat serta mempunyai pengaruh biologis dan kewajiban yang unik terhadap kesehatan ibu dan bayi (WHO/UNICEF dalam Bennet & Brown, 1996). Menurut Suradi (1989:3)menyusui adalah suatu keadaan alamiah yang terjadi sejak jaman dulu dan tidak menjadi masalah pada jaman ini.
Meneteki dini adalah pemberian ASI segera setelah lahir (30 menit pertama bayi sudah disusukan) (Padmawati, 1997:77). Penyusuan secara dini adalah bayi diberikan kepada ibu untuk dirangkul segera setelah lahir untuk memberikan kontak kulit ke kulit dan untuk bayi memulai penyusuannya segera setelah bayi menunjukkan kesiapannya untuk minum, biasanya antara ½ -1 jam setelah kelahirannya (WHO/UNICEF dalam Suradi, 1989:8-14).
Penelitian membuktikan bahwa bayi yang disusui segera setelah lahir lebih jarang menderita penyakit infeksi dan status gizi bayi pada tahun pertama jauh lebih baik dibandingkan dengan bayi yang terlambat diberi ASI (Syahlan, 1993).
2.1.2        Kelenjar susu manusia




 
Payudara terdiri dari 15-25 lobus. Masing-masing lobus terdiri dari 20-40 lobulus, selanjutnya masing-masing lobulus terdiri dari 10-100 alveoli dan masing-masing dihubungkan dengan saluran air susu (sistem duktus) sehingga merupakan suatu pohon. Bila diikuti pohon tersebut dari akarnya pada puting susu, akan didapatkan saluran air susu yang disebut duktus laktiferus. Di daerah kalang payudara duktus laktiferus ini melebar membentuk sinus laktiferus, tempat penampungan air susu, selanjutnya duktus laktiferus bercabang-cabang menjadi duktus dan duktulus. Tiap-tiap duktulus yang pada perjalanan selanjutnya disusun oleh sekelompok alveoli. Didalam alveoli terdiri dari duktulus yang terbuka, sel-sel kelenjar yang menghasilkan air susu dan mioepitelium yang berfungsi memeras air susu keluar dari alveoli ( Soetjiningsih, 1997 : 3).
Menurut Soetjiningsih (1997:5-7)  terjadi perubahan dalam kelenjar susu manusia antara lain:
1.      Masa kehamilan
Pada permulaan kehamilan terjadi peningkatan yang jelas dari duktulus yang baru, percabangan-percabangan dan lobulus yang dipengaruhi oleh hormon-hormon plasenta dan korpus luteum. Hormon-hormon yang ikut membantu mempercepat pertumbuhan adalah prolaktin, laktogen plasenta, koreonik gonadotropin, insulin, kortisol, hormon tyroid, hormon paratiroid dan hormon pertumbuhan.
2.      Pada 3 bulan kehamilan
Prolaktin dari adenohipofise (hipofise anterior) mulai merangsang kelenjar air susu untuk menghasilkan air susu yang disebut kolostrum. Pada masa ini pengeluaran kolostrum masih dihambat oleh estrogen dan progesteron, tetapi jumlah prolaktin meningkat hanya aktifitas dalam pembuatan kolostrum yang ditekan.
3.      Pada trimester kedua kehamilan
Laktogen plasenta mulai merangsang untuk pembuatan kolostrum keaktifan dari rangsangan hormon-hormon terhadap pengeluaran air susu telah didemonstrasikan kebenarannya bahwa seorang ibu yang melahirkan bayi berumur 4 bulan dimana bayinya meninggal, tetap keluar kolostrum.
2.1.3        Mekanisme menyusui
Menurut Soetjiningsih (1997:12-13) bayi yang sehat mempunyai 3 reflek intrinsik yang diperlukan untuk berhasilnya menyusui seperti :
1.      Reflek mencari (rooting refleks)
Payudara ibu yang menempel pada pipi atau daerah sekeliling mulut merupakan rangsangan yang menimbulkan reflek mencari pada bayi. Ini menyebabkan kepala bayi berputar menuju puting susu yang menempel tadi diikuti dengan membuka mulut dan kemudian puting susu masuk ke dalam mulut.
2.      Reflek menghisap (sucking refleks)
Teknik menyusu yang baik adalah apabila kalang payudara sedapat mungkin semuanya masuk kedalam mulut bayi, tetapi hal ini tidak mungkin dilakukan pada ibu yang kalang payudaranya besar. Untuk ini maka sudah cukup bila rahang bayi supaya menekan sinus laktiferus yang terletak dipuncak kalang payudara dibelakang puting susu, tidak dibenarkan bila rahang bayi hanya menekan puting susu  karena akan timbul lecet-lecet pada puting susu.
Puting susu yang sudah masuk kedalam mulut dengan bentuk lidah, dimana lidah dijulurkan diatas gusi bawah puting susu ditarik lebih jauh sampai pada orofaring dan rahang menekan kalang payudara dibelakang puting susu yang pada saat itu sudah terletak pada langit-langit keras (palatum durum). Dengan tekanan bibir dan gerakan rahang berirama, maka gusi akan menjepit kalang payudara dan sinus laktiferus, sehingga air susu akan mengalir ke puting susu, selanjutnya bagian belakang lidah menekan puting susu pada langit-langit yang mengakibatkan air susu keluar dari puting susu. Cara yang dilakukan oleh bayi ini tidak akan menimbulkan cedera puting susu.
3.      Reflek menelan (swallowing refleks)
Pada saat air susu keluar dari puting susu, akan disusul dengan gerakan menghisap (tekanan negatif) yang ditimbulkan oleh otot-otot pipi sehingga pengeluaran air susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk ke lambung.

2.2        Involusi organ reproduksi
Involusi yang terjadi pada organ reproduksi antara lain:
1.      Uterus
Setelah bayi lahir yang selama persalinan mengalami kontraksi dan retraksi akan menjadi keras, sehingga dapat menutup pembuluh darah besar yang bermuara pada bekas implantasi plasenta. Otot rahim yang terdiri tiga lapisan otot yang membentuk anyaman sehingga pembuluh darah dapat menutup sempurna, dengan demikian dapat terhindar dari perdarahan post partum (Manuaba, 1998 : 192). Dalam waktu 0-4 jam setelah persalinan tinggi fundus uteri meningkat menjadi 2 cm diatas pusat (12 cm diatas sympysis pubis). Selanjutnya tinggi fundus uteri menurun 1 jari (1 cm) tiap hari. Pada hari ke 7 pasca salin tinggi fundus uteri tidak dapat diraba lagi melalui dinding perut (Reeder, 1997 : 668).
Setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras, karena kontraksi dan retraksi otot-ototnya. Fundus uteri ± 3 jari dibawah pusat, selama 2 hari berikutnya besarnya tidak seberapa berkurang, tetapi sesudah 2 hari ini uterus mengecil dengan cepat, sehingga pada hari 10 tidak teraba lagi dari luar (Sastrawinata, 1983).
Sedangkan menurut Prawirohardjo (2005) setelah plasenta lahir tinggi fundus uteri ± jari bawah pusat. Uterus menyerupai suatu buah advokat gepeng berukuran panjang ± 15 cm, lebar ± 12 cm, dan tebal ± 10 cm. Pada hari pertama post partum tinggi fundus uteri kira-kira 1 jari bawah pusat. Pada hari simfilis pusat, sesudah 12 hari uterus tidak dapat diraba lagi diatas simfisis.
2.      Lochea
Lochea tidak lain adalah sekret luka yang berasal dari luka dalam rahim terutama luka plasenta. Maka sifat lochea berubah seperti luka berubah menurut tingkat penyembuhan luka. (Sastrawinata, 1983). Dalam keadaan normal jumlah lochea yang keluar dan komponen darah didalamnya berubah secara bertahap disertai dengan perubahan warna yang semakin memucat.
3.      Luka pada jalan lahir
Organ yang sering mengalami perlukaan pada persalinan adalah serviks, vulva, vagina, dan perineum. Semua itu merupakan tempat masuknya kuman-kuman patogen. Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau dapat menyebar keluar luka asalnya bila luka tidak disertai infeksi yang sembuh dalam 6-7 hari (Mochtar, 1998 : 116). Luka-luka jalan lahir seperti bekas episiotomi yang telah dijahit, luka pada vagina dan serviks umumnya bila tidak seberapa luas akan sembuh prepilitis yang dapat menjalar sampai keadaan sepsis (Winkjosastro, 1994 : 239).
4.      After pain pasca salin
After pain adalah mules-mules sesudah partus akibat kontraksi uterus kadang-kadang sangat mengganggu selama 2-3 hari post partum. Perasaan mules ini lebih terasa bila wanita tersebut sedang menyusui. Perasaan sakit itupun timbul bila masih ada sisa-sisa selaput ketuban, sisa plasenta atau gumpalan darah didalam kavum uteri (Winkjosastro, 1994 : 239).
Menurut Sastrawinata (1983) his pengiring  terutama terasa oleh multipara, karena rahimnya berkontraksi dan berelaksasi, yang menimbulkan perasaan nyeri. His pengiring terutama terasa waktu menyusukan anaknya. Biasanya setelah 48 jam post partum tidak seberapa mengganggu lagi. Primipara kurang diganggu oleh his pengiring, karena uterusnya dalam kontraksi dan retraksi yang tonis (terus-menerus).
5.      Serviks
Setelah bersalin bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarma merah kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi lahir tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui 2-3 jari dan setelah 7 hari dapat dilalui 1 jari (Mochtar, 1998)
6.      Ligamen-ligamen
Ligamen facial dan diafragma pelvis yang meregang saat partus setelah bayi lahir secara berangsur-angsur ciut dan pulih kembali. Tidak jarang uterus jatuh kebelakang menjadi retrofleksi karena ligamen rotundum menjadi longgar apabila suatu kebiasaan wanita di Indonesia setelah melahirkan pijat dimana waktu dipijat tekanan abdominal bertambah tinggi, oleh karena setelah melahirkan ligamenta, fasia dan jaringan penunjang menjadi kendor maka tidak heran kalau wanita mengeluh kandungannya turun atau terbaik. Untuk memulihkan perlu diadakan latihan-latihan pasca salin (Prawirohardjo, 2005).
7.      Endometrium
Perubahan pada endometrium adalah timbulnya trombosis degenerasi dan nekrosis ditempat implantasi plasenta. Pada hari pertama masa nifas endometrium yang kira-kira 2-5 mm itu mempunyai pembukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput. Setelah tiga hari permukaan endometrium mulai rata akibat lepasnya sel-sel yang mengalami degenarasi. Sebagian endometrium terlepas oleh proses itu. Regenerasi endometrium terjadi dari sisa-sisa sel desidua basalis yang memakan waktu 2-3 minggu (Winkjosastro, 1994 : 237).
8.   Hemokonsentrasi 
Pada masa hamil didapat hubungan yang dikenal dengan shunt antara sirkulasi ibu dan plasenta. Setelah persalinan shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relatif bertambah, dengan mekanisme kompensasi timbulnya hemokonsentrasi kembali normal, terjadi pada hari ke 3-5 pasca salin (Winkjosastro, 1994 : 239).
9.   Laktasi
Menurut Mochtar (1998 : 131) untuk menghadapi laktasi sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mammae. Setelah persalinan pengaruh supresi estrogen dan progesteron hilang, maka timbul laktogenik hormone (LH) atau prolaktin yang akan merangsang pembentukan ASI. Disamping itu pengaruh oksitosin menyebabkan mioepitel kelenjar susu berkontraksi sehingga ASI keluar. Produksi ASI akan maksimal sesudah 2-3 hari post partum.
Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 199

0 comments:

Poskan Komentar