KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

ASPEK SOSIAL BUDAYA BERKAITAN DENGAN PRA PERKAWINAN DAN PERKAWINAN

Rabu, 23 Maret 2011

Masa pra perkawinan adalah masa pasangan untuk mempersiapkan diri ke jenjang perkawinan dimana individu mengalami perubahan-perubahan sikap untuk lebih dewasa dan saling terbuka dan mengerti satu sama lain.
Program kesehatan komunitas berfokus pada promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. Disini dibutuhkan peran bidan dalam memberikan promosi kesehatan melalui program deteksi dini dan pengajaran. Misalnya deteksi dini penyakit kanker payudara, dan penyakit-penyakit lain pada pasangan pra perkawinan.
Juga termasuk pengajaran bagi pasangan pra perkawinan dengan usia dini dimana perkawinan dini masih menjadi masalah penting dalam kesehatan reproduksi perempuan di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mencatat, anak perempuan yang menikah pertama kali pada usia sangat muda, 10-14 tahun, cukup tinggi, jumlahnya 4,8 persen dari jumlah perempuan usia 10-59 tahun. Sedangkan yang menikah dalam rentang usia 16-19 tahun berjumlah 41,9 persen. Dengan demikian, hampir 50 persen perempuan Indonesia menikah pertama kali pada usia di bawah 20 tahun. Provinsi dengan persentase perkawinan dini tertinggi adalah Kalimantan Selatan (9 persen), Jawa Barat (7,5 persen), serta Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah masing-masing 7 persen ini sangat berhubungan dengan sosial budaya pada daerah tersebut.
Usia perkawinan dini yang cukup tinggi pada perempuan mengindikasikan rentannya posisi perempuan di masyarakat. Sedangkan bagi perempuan, menikah artinya harus siap hamil pada usia sangat muda. Bila disertai kekurangan energi dan protein, akan menimbulkan masalah kesehatan yang dapat berakibat kematian bagi ibu saat melahirkan dan juga bayinya dan resiko hamil muda sangat tinggi.
Peran layanan kesehatan menjadi sangat penting, termasuk peran bidan, seperti tecermin dalam program Pos Bhakti Bidan-Srikandi Award 2010 pada Desember lalu. Para bidan dalam Pos Bhakti Bidan—program yang dicanangkan Ikatan Bidan Indonesia untuk layanan kesehatan perempuan bersama tokoh dan anggota masyarakat di tempat bidan berada—menjadi tumpuan ibu hamil dan remaja putri yang membutuhkan layanan kesehatan reproduksi.
Inisiatif bidan sangat menentukan derajat kesehatan perempuan pra perkawinan dan perkawinan. Bidan Asiwei E Tigoi dari Palangkarya, Kalimantan Tengah, misalnya, harus mengubah adat setempat memberikan santan segar kepada bayi baru lahir. Bidan Nuryati Alinti dari Kota Gorontalo berhadapan dengan masalah anemia remaja putri karena kehamilan pada usia belum 15 tahun.
Tantangan konkret yang dihadapi bidan adalah kemiskinan, pendidikan rendah, dan budaya. Karena itu, kemampuan mengenali masalah dan mencari solusi bersama masyarakat menjadi kemampuan dasar yang harus dimiliki bidan.

Kunjungi : KTI Kebidanan terbaru

0 comments:

Poskan Komentar