KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

MAKALAH PENGARUH TINGKAT KEDISIPLINAN PERAWAT TERHADAP PASIEN DI RUMAH SAKIT

Senin, 07 Maret 2011


BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Mutu pelayanan di rumah sakit sangat ditentukan oleh pelayanan keperawatan atau asuhan keperawatan. Perawat sebagai pemberi jasa keperawatan merupakan ujung tombak pelayanan di rumah sakit, sebab perawat berada dalam 24 jam memberikan asuhan keperawatan. Tanggung jawab yang demikian berat jika tidak ditunjang dengan sumber daya manusia yang memadai, dapat menimbulkan sorotan publik (pasien dan keluarga) maupun profesi lain terhadap kinerja perawat.
Kondisi di atas menuntut perawat bekerja secara sungguh-sungguh dan penuh motivasi. Tanpa motivasi orang tidak akan dapat berbuat apa-apa dan tidak akan bergerak, jadi suatu pekerjaan dapat berhasil bila dilakukan dengan motivasi yang tinggi. Seperti yang dijelaskan oleh Sarwono (2000) bahwa motivasi menunjuk pada proses gerakan, termasuk situasi yang mendorong yang timbul dalam diri individu, tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut dan tujuan atau akhir daripada gerakan atau perbuatan (Sunaryo, 2004:143).
Tanggung jawab tersebut membutuhkan suatu etos kerja dan kedisiplinan pada diri perawat, sehingga diperlukan suatu pemantauan kedisiplinan dari pimpinan rumah sakit. Pimpinan bertanggung jawab terhadap pengelolaan ukuran kedisiplinan (peraturan, sanksi dan penghargaan) yang diberlakukan secara seragam, pantas, konsisten dan tidak diskriminatif untuk mencapai sasaran-sasaran rumah sakit (Gillies, 1996).
1.2        Tujuan Makalah
Untuk mengetahui pengaruh tingkat kedisiplinan perawat terhadap pasien di rumah sakit.

 
BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Kedisiplinan
Disiplin berasal dari bahasa latin Discere yang berarti belajar. Dari kata ini timbul kata Disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Dan sekarang kata disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peratuaran atau tunduk pada pengawasan, dan pengendalian. Kedua disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib.
Sedangkan perawat  adalah tenaga kesehatan profesional dengan tugas utama memberikan asuhan keperawatan kepada pasien
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan. Kedisiplinan perawat adalah sikap penuh kerelaan dalam mematuhi semua aturan dan norma yang ada dalam menjalankan tugasnya sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap pelayanan kesehatan. Karena dengan kedisiplinan perawat akan berpengaruh terhadap kepuasan pasien dan proses penyembuhan pasien.

2.2        Macam-Macam Kedisiplinan
1.      Disiplin dalam menggunakan waktu
      Maksudnya bisa menggunakan dan membagi waktu dengan baik. Karena waktu amat berharga dan salah satu kunci kesuksesan adalah dengan bisa menggunakan waktu dengan baik. Dan melakukan tugasnya tepat waktu.
2.      Disiplin Diri Pribadi
Apabila dianalisi maka disiplin mengandung beberapa unsur yaitu adanya sesuatu yang harus ditaati atau ditinggalkan dan adanya proses sikap seseorang terhadap hal tersebut. Disiplin diri merupakan kunci bagi kedisiplinan pada lingkungan yang lebih luas lagi. Contoh disiplin diri pribadi yaitu tidak pernah meninggalkan Ibadan lepada Tuhan Yang Maha Kuasa
3.      Disiplin Sosial
Pada hakekatnya disiplin sosial adalah Disiplin dari dalam kaitannya dengan masyarakat atau dalam hubunganya dengan. Contoh prilaku disiplin social hádala melaksanakan siskaling verja bakti. Senantiasa menjaga nama baik masyarakat dan sebagaiannya.
4.      Disiplin dalam mengikuti aturan yang telah ditetapkan
Taat dengan penuh kesadaran terhadap peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh institusi tempat bekerja khususnya di rumah sakit.

2.3    Prinsip-Prinsip Disiplin
1.   Pemimpin mempunyai  prilaku  positif
Untuk dapat  menjalankan  disiplin  yang  baik  dan benar,  seorang  pemimpin  harus dapat menjadi  role model/panutan  bagi bawahannya. Oleh karena  itu  seorang   pimpinan  harus dapat mempertahankan  perilaku yang positif  sesuai  dengan  harapan staf.

2.   Penelitian  yang  Cermat
Dampak  dari tindakan  indisipliner  cukup serius, pimpinan harus memahami akibatnya. Data dikumpulkan  secara faktual, dapatkan informasi  dari  staf yang lain, tanyakan secara  pribadi  rangkaian pelanggaran yang telah  dilakukan, analisa, dan bila perlu  minta pendapat  dari  pimpinan  lainnya.
3.     Kesegeraan  
Pimpinan  harus  peka  terhadap pelanggaran  yang  dilakukan  oleh bawahan sesegera mungkin  dan  harus diatasi  dengan  cara yang bijaksana. Karena,  bila dibiarkan  menjadi kronis, pelaksanaan disiplin yang  akan  ditegakkan  dapat dianggap lemah,   tidak jelas,  dan akan mempengaruhi  hubungan  kerja dalam organisasi  tersebut.
4.     Lindungi  Kerahasiaan  (privacy)
Tindakan indisipliner akan  mempengaruhi  ego staf, oleh karena itu  akan lebih baik apabila permasalahan didiskusikan secara pribadi, pada ruangan  tersendiri dengan suasana yang rileks dan tenang.  Kerahasiaan harus tetap  dijaga karena mungkin dapat mempengaruhi  masa depannya .
5.     Fokus  pada  Masalah. 
Pimpinan  harus  dapat  melakukan  penekanan  pada kesalahan  yang dilakukan bawahan dan bukan pada pribadinya, kemukakan  bahwa  kesalahan yang dilakukan  tidak dapat dibenarkan.



6.     Peraturan   Dijalankan  Secara  Konsisten
Peraturan  dijalankan secara konsisten, tanpa pilih kasih. Setiap  pegawai yang bersalah harus dibina sehingga mereka tidak merasa dihukum dan dapat menerima sanksi yang dilakukan secara wajar.
7.     Fleksibel
Tindakan disipliner  ditetapkan apabila  seluruh  informasi  tentang  pegawai telah di analisa  dan dipertimbangkan. Hal yang menjadi pertimbangan antara lain adalah tingkat kesalahannya,  prestasi pekerjaan yang lalu,  tingkat kemampuannya dan pengaruhnya terhadap organisasi  
8.     Mengandung  Nasihat
Jelaskan secara  bijaksana  bahwa pelanggaran yang dilakukan  tidak dapat diterima. File pegawai  yang berisi  catatan  khusus  dapat digunakan sebagai acuan, sehingga mereka  dapat memahami  kesalahannya.
9.     Tindakan   Konstruktif
Pimpinan harus yakin  bahwa bawahan  telah  memahami perilakunya bertentangan  dengan tujuan organisasi dan  jelaskan kembali   pentingnya  peraturan  untuk staf maupun organisasi. Upayakan   agar  staf  dapat merubah perilakunya   sehingga  tindakan indisipliner  tidak terulang lagi.

 
10. Follow Up  (Evaluasi)

Pimpinan  harus secara cermat  mengawasi dan  menetapkan  apakah  perilaku bawahan sudah  berubah. Apabila perilaku bawahan  tidak berubah, pimpinan harus  melihat kembali penyebabnya  dan mengevaluasi kembali  batasan  akhir tindakan indisipliner.


2.4    Dimensi Disiplin Keperawatan
Disiplin merupakan arahan untuk melatih dan membentuk seseorang melakukan sesuatu menjadi lebih baik. Disiplin adalah suatu proses yang dapat menumbuhkan perasaan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan tujuan organisasi secara obyektif, melalui kepatuhannya menjalankan peraturan organisasi.
Pelanggaran  dimensi disiplin adalah pelanggaran yang dilakukan terhadap standar profesi yang ditetapkan termasuk aturan pada institusi tempat kerja.  Praktik keperawatan adalah tindakan perawat melalui kolaborasi dengan klien dan atau tenaga kesehatan lain dalam memberikan asuhan keperawatan pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan yang dilandasi dengan substansi keilmuan khusus, pengambilan keputusan dan keterampilan perawat berdasarkan aplikasi prinsip-prinsip ilmu biologis, psikolologi, sosial, kultural dan spiritual.Penilaian benar salah dilakukan oleh Majelis disiplin. Sanksi yang dikenakan berupa kewenangan bekerja sampai pemberhentian sebagai profesi.

2.5    Penilaian Kerja Perawat Dalam Melaksanakan Asuhan Keperawatan Kepada Klien
            Dalam menilai kualitas pelayanan keperawatan kepada klien digunakan standar praktik keperawatan yang merupakan pedoman bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Standar praktik keperawatan telah dijabarkan oleh PPNI (2000) yang mengacu dalam tahapan proses keperawatan, yang meliputi : (1) Pengkajian, (2) Diagnosa keperawatan, (3) Perencanaan, (4) Implementasi, (5) Evaluasi.
            Standar I: pengkajian keperawatan. Perawat mengumpulkan data tentang status kesehatan kilen secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat, dan berkesinambungan. Kriteria pengkajian keperawatan, meliputi: Pengumpulan data dilakukan dengan cara anamnesis, observasi, pemeriksaan fisik serta dan pemeriksaan penunjang. Sumber data adalah klien, keluarga, atau orang yang terkait, tim kesehatan, rekam medis, dan catatan lain. Data yang dikumpulkan, difokuskan untuk mengidentifikasi: Status kesehatan klien masa lalu. Status kesehatan klien saat ini. Status biologis-psikologis-sosial-spiritual. Respon terhadap terapi. Harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal. Resiko-resiko tinggi masalah.
            Standar II: diagnosa keperawatan. Perawat menganalisa data pengkajian untuk merumuskan diagnosis keperawatan. Kriteria proses meliputi: Proses diagnosis terdiri dari analisis, interpretasi data, identifikasi masalah klien, dan perumusan diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan terdiri dari: masalah (P), Penyebab (E), dan tanda atau gejala (S), atau terdiri dan masalah dan penyebab (PE). Bkerjasama dengan klien, dan petugas kesehatan lain untuk memvalidasi diagnosa keperawatan. Mlakukan pengkajian ulang dan merevisi diagnosa berdasarkan data terbaru.
Sandar III: erencanaan keperawatan. Prawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah dan peningkatkan kesehatan klien. Kriteria prosesnya, meliputi: Perencanaan terdiri dan penetapan prioritas masalah, tujuan, dan rencana tindakan keperawatan. Bekerjasama dengan klien dalam menyusun rencana tindakan keperawatan. Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi atau kebutuhan klien. Mendokumentasi rencana keperawatan.
            Standar IV: Implementasi. Perawat mengimplementasikan tindakan yang telah diidentifikasi dalam rencana asuhan keperawatan. Kriteria proses, meliputi: Bekerjasama dengan klien dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain. Melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi kesehatan klien. Memberikan pendidikan pada klien dan keluarga mengenai konsep, ketrampilan asuhan din serta membantu klien memodifikasi lingkungan yang digunakan. Mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan berdasarkan respon klien.
            Standar V: evaluasi keperawatan. Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap tindakan keperawatan dalam pencapaian tujuan dan merevisi data dasar dan perencanaan. Adapun kriteria prosesnya adalah: Menyusun perencanaan evaluasi hasil dan intervensi secara komprehensif, tepat waktu dan terus menerus.
Menggunakan data dasar dan respon klien dalam mengukur perkembangan kearah pencapaian tujuan. Memvalidasi dan menganalisis data baru dengan teman sejawat.
Bekerjasama dengan klien keluarga untuk memodifikasi rencana asuhan keperawatan. Mendokumentasi hasil evaluasi dan memodifikasi perencanaan.
            Dengan standar asuhan keperawatan tersebut, maka pelayanan keperawatan menjadi lebih terarah. Standar adalah pernyataan deskriptif mengenai tingkat penampilan yang diinginkan ada kualitas struktur, proses, atau hasil yang dapat dinilai. Standar pelayanan keperawatan adalah pernyataan deskriptif mengenai kualitas pelayanan yang diinginkan untuk mengevaluasi pelayanan keperawatan yang telah diberikan pada pasien (Gillies, 1989).

2.6        Pengaruh Tingkat Kedisiplinan Perawat Terhadap Pasien di Rumah Sakit
Kedisiplinan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien sangat berpengaruh besar terhadap peningkatan kualitas pelayanan yang diberikan rumah sakit terhadap kliennya. Juga hal ini berpengaruh terhadap proses penyembuhan pasien. Perawat yang disiplin adalah perawat yang mentaati peraturan rumah sakit dan peraturan profesi keperawatan. Perawat yang selalu ada tepat waktu untuk pasien sangat memberikan kepuasan terhadap pasien akan pelayanan rumah sakit. Dimana perawat selalu datang tepat waktu, selalu melakukan kunjungan ke pasein secara rutin, memberikan pengobatan sesuai dengan aturan medis, datang tepat waktu saat pasien memerlukan pertolongan perawat.
Kedisiplinan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien secara psikologis sangat membantu dalam memberikan kenyamanan dan keamanan kepada pasien sehingga pasien sangat terbantu dalam proses penyembuhan sakit yang diderita. Perasaan nyaman dan aman ini timbul karena perawat yang selalu ada.
BAB III
PENUTUP

3.1        Kesimpulan
Kedisiplinan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien secara psikologis sangat membantu dalam memberikan kenyamanan dan keamanan kepada pasien sehingga pasien sangat terbantu dalam proses penyembuhan sakit yang diderita. Perasaan nyaman dan aman ini timbul karena perawat yang selalu ada.

3.2        Saran
Perawat agar selalu menjaga kedisiplinan dalam bekerja karena kedisiplinan sangat besar pengaruhnya terhadap kepuasan pasien.

 

DAFTAR PUSTAKA






Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan

0 comments:

Poskan Komentar