KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI GAMBARAN PENGETAHUAN BIDAN TENTANG INISIASI MENYUSUI DINI DI RSU XXXXX

Minggu, 17 April 2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
            Pembangunan generasi yang sehat, cerdas, dan taqwa merupakan tanggung jawab seluruh komponen masyarakat, baik dari kalangan pejabat tingkat atas sampai pada rakyat jelata, bahkan dasar utama terletak pada kaum wanita, yaitu ibu. Ibu mempunyai peran dan tanggung jawab untuk melahirkan generasi yang cerdas dan taqwa sehingga mampu memberi warna bagi negeri tercinta dan mampu menjadikan tunas-tunas bangsa yang siap dan mampu memimpin bangsa. Kapan generasi tersebut akan dilahirkan dan bagaimana harus mempersiapkannya? Hal ini merupakan pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap individu dalam berbagai perannya (Purwanti, 2004).                       
Menurut WHO, ASI Eksklusif adalah air susu ibu yang diberikan pada enam bulan pertama bayi baru lahir tanpa adanya makanan pendamping lain. Menurut laporan WHO tahun 2000 hanya 15% bayi di  seluruh dunia diberi ASI Eksklusif selama 4 bulan dan sering kali pemberian makanan pendamping ASI yang tidak sesuai. Sebanyak 1,5 juta anak meninggal karena pemberian makanan yang tidak benar (Loebis, 2009).
Pada tahun 2000, survei kesehatan demografi WHO menemukan bahwa pemberian ASI Eksklusif selama 4 bulan pertama sangat rendah terutama di Afrika Tengah dan Utara, Asia dan Amerika Latin. Oleh karena itu, WHO menganjurkan agar bayi diberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama sebab terbukti bahwa menyusu eksklusif selama 6 bulan menurunkan angka kematian


dan kesakitan pada umumnya menyusu selama 4 bulan (Loebis, 2009).
Menurut penelitian yang dilakukan di Ghana dan di terbitkan dalam jurnal ilmiah “Pediatrics”, 22% kematian bayi yang baru lahir yaitu kematian bayi yang terjadi dalam satu bulan pertama dapat dicegah bila bayi disusui oleh ibunya dalam satu jam pertama kelahiran. Mengacu pada hasil penelitian itu, maka diperkirakan program “Inisiasi Menyusu Dini” dapat menyelamatkan sekurang-kurangnya 30.000 bayi Indonesia yang meninggal dalam bulan pertama kelahiran (Dinkes, 2008).
Di Indonesia saat ini tercatat Angka Kematian Bayi (AKB) masih sangat tinggi yaitu 35% tiap 1.000 kelahiran hidup, itu artinya setiap hari 250 bayi meninggal, dan sekitar 175.000 bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun. Melakukan Inisiasi Menyusu Dini dipercaya akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh si bayi terhadap penyakit-penyakit beresiko kematian tinggi. Misalnya kanker syaraf, leukemia, dan beberapa penyakit lainnya. Tidak hanya itu, Inisiasi Menyusu Dini juga dinyatakan menekan Angka Kematian Bayi (AKB) baru melahirkan hingga mencapai 22% . Dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama, bayi akan mendapat zat-zat gizi yang penting dan mereka terlindung dari berbagai penyakit berbahaya pada masa  yang paling rentan dalam kehidupannya (Dinkes, 2008).


 
Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003 hanya ada 4% bayi yang mendapatkan ASI dalam satu jam kelahirannya. Sedemikian pentingnya pemberian ASI secara dini tersebut, Ibu Negara Ani Yudhoyono sampai menghimbau semua petugas kesehatan yang terlibat dalam persalinan, termasuk dokter, bidan dan perawat agar membantu ibu-ibu melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini  segera setelah melahirkan. Kelanjutan dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), hanya 8% bayi Indonesia yang mendapat ASI Eksklusif selama 6 bulan, sedangkan pemberian susu formula terus meningkat hingga tiga kali lipat dalam kurun waktu lima tahun terakhir (Dinkes, 2008).
Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO dan UNICEF yang merekomendasikan Inisiasi Menyusu Dini sebagai tindakan life saving, karena Inisiasi Menyusu Dini dapat menyelamatkan 22% dari bayi yang meninggal sebelum usia satu bulan. Menyusui satu jam pertama kehidupan yang di awali dengan kontak kulit antara ibu dan bayi dinyatakan sebagai indikator global. Ini merupakan hal baru bagi Indonesia dan merupakan program pemerintah, sehingga diharapkan semua tenaga kersehatan di semua tingkatan pelayanan kesehatan baik swasta, maupun masyarakat dapat mensosialisasikan dan melaksanakan mendukung suksesnya program tersebut, sehingga diharapkan akan tercapai sumber daya Indonesia yang berkualitas (Yudhoyono, 2007).


 
Dr. Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC, yang merupakan pelopor Inisiasi Menyusu Dini, menekankan betapa pentingnya seorang ibu melakukan Inisiasi Menyusu Dini demi mengoptimalkan tumbuh kembang anak serta menurunkan angka kematian bayi dan balita. Meskipun Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara luar, terutama Skandinavia yang sudah melancarkan program tersebut pada tahun 1987, namun pada tahun 2006 ini mulai dipromosikan dengan gencar  di Indonesia oleh Dr. Utami. Di Indonesia sudah ada Rumah Sakit yang menerapkan Inisiasi Menyusu Dini yaitu RS. St. Carolus Jakarta (Detik.com, 2010).  
Air Susu Ibu merupakan makanan paling cocok bagi bayi untuk memenuhi kebutuhan gizi dan melindunginya dalam melawan kemungkinan serangan penyakit. Untuk bayi hingga usia 6 bulan, ASI sudah mencukupi kebutuhan karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan antibodi yang tidak dimiliki susu formula (Rusmawati, 2008).
Komponen dalam ASI sangat spesifik, disiapkan untuk memenuhi kebutuhan dan perkembangan bayi. ASI mengandung antibodi (zat kekebalan tubuh) yang merupakan perlindungan alami bagi bayi baru lahir (Kompas, 2000). 
            Dalam Inisiasi Menyusu Dini, bidan seharusnya memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu hamil tentang Inisiasi Menyusu Dini, membicarakan dengan keluarga bagaimana pelaksanaannya, serta  membahas keuntungan ASI dan mendukung ibu untuk menyusui.
            Pada saat dilakukan survei di ruang V RSUD Dr. Pirngadi Medan, peneliti langsung melihat dan mewawancarai bidan di ruang tersebut dan hasilnya bahwa bayi yang baru lahir tidak segera disusukan, tetapi setelah dikeringkan langsung di bawa ke ruangan bayi.
            Berdasarkan hal tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul ”Gambaran Pengetahuan Bidan Tentang Inisiasi Menyusu Dini di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2010”.
   1.2. Perumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah  “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Bidan Tentang Inisiasi Menyusu Dini di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Medan Tahun 2010”.

      1.3. Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui gambaran pengetahuan bidan praktek swasta tentang Inisiasi Menyusui Dini di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Medan Tahun 2010.
2.      Untuk mengetahui gambaran pengetahuan bidan tentang Inisiasi Menyusui Dini berdasarkan umur di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Medan Tahun  2010.
3.      Untuk mengetahui gambaran pengetahuan bidan tentang Inisiasi Menyusui Dini berdasarkan pendidikan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Medan Tahun 2010.
4.      Untuk mengetahui gambaran pengetahuan bidan tentang Inisiasi  Menyusui Dini berdasarkan pelatihan yang pernah di ikuti di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Medan   Tahun 2010.
1.4. Manfaat Penelitian
1.      Sebagai masukan bagi Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Medan untuk mensosialisasikan program Inisiasi Menyusu Dini dalam pertolongan persalinan oleh bidan.
2.      Menambah pengetahuan, pengalaman, dan wawasan peneliti tentang penulisan karya ilmiah dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang di dapat di bangku kuliah tentang praktek kebidanan dalam pertolongan persalinan dengan  Inisiasi Menyusu Dini.
3.      Sebagai sumber bacaan di instansi/perpustakaan Akademi Kebidanan  ........................ Medan dan sebagai bahan acuan untuk peneliti selanjutnya.
4.      Sebagai masukan kepada bidan di ruang V RSUD Dr. Pirngadi Medan agar lebih meningkatkan program Inisiasi Menyusu Dini dalam pertolongan persalinan.
5.      Sebagai salah satu syarat kelulusan untuk menjadi Ahli Madya Kebidanan.
Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 71

0 comments:

Poskan Komentar