KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI TINGKAT PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG PENTINGNYA PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR DI KLINIK XXXXXXX

Kamis, 28 April 2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
WHO melansir ada 10 juta anak di dunia ini yang meninggal sebelum usia 5 tahun yang disebabkan oleh beberapa hal yang sebetulnya dapat dicegah. Kekurangan gizi yang semakin merajalela bahkan merupakan faktor penyebab kematian terhadap lebih dari setengah jumlahnya tersebut. Dengan demikian pemberian ASI pada satu jam pertama diharapkan akan mampu mengatasi hal ini (Pambagio, 2007).
Indikator utama derajat kesehatan masyarakat adalah Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR). Dari hasil penelitian yang ada, angka kematian bayi ini tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan faktor-faktor lain, terutama gizi. Status gizi ibu pada waktu melahirkan, dan gizi bayi itu sendiri, melainkan terkait dengan faktor-faktor langsung maupun tidak langsung sebagai penyebab kematian bayi. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi bayi sangat perlu mendapat perhatian yang serius. Gizi untuk bayi yang paling sempurna dan paling murah adalah ASI atau Air Susu Ibu (Anurogo, 2009).
Mendapatkan Air Susu Ibu atau ASI adalah proses pemenuhan hak yang pertama yang harus diterima oleh anak ketika baru lahir dan sebelum mendapatkan hak yang lain. Namun pada kenyataannya hak dasar anak ini banyak yang belum terpenuhi. Penyebabnya bermacam-macam, misalnya karena ASI belum atau tidak keluar, kondisi ibu yang belum memungkinkan menyusui satu jam paska melahirkan maka bayi diberi susu formula. Alasan tersebut sering digunakan untuk tidak memberikan ASI pada saat bayi baru lahir, sehingga mengakibatkan bayi tidak terpenuhi haknya. Hal ini banyak terjadi pada anak di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Ketika hak pertama tidak terpenuhi maka selanjutnya dapat berdampak pada tumbuh kembang anak yang optimal.
Konvensi Hak Anak menyebutkan bahwa setiap anak memiliki hak untuk hidup dan tumbuh berkembang secara optimal. Bayi yang mendapatkan ASI setelah satu jam dilahirkan akan lebih terjamin ketahanaan dan kelangsungan hidupnya. Untuk mendukung hal itu, setiap perempuan juga memiliki hak memperoleh pengetahuan dan dukungan yang mereka butuhkan dalam memberikan ASI terutama ASI Eksklusif, yaitu pemberian ASI saja pada bayi hingga usia 6 bulan (Pambagio, 2007).
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi merupakan cara terbaik bagi peningkatan kualitas SDM sejak dini yang akan menjadi penerus bangsa. ASI merupakan makanan yang paling sempurna bagi bayi. Pemberian ASI berarti memberikan zat-zat gizi yang bernilai tinggi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan saraf otak, memberikan zat-zat kekebalan terhadap beberapa penyakit dan mewujudkan ikatan emosional antara ibu dan bayinya. Menyusui dalam 1 jam pertama menyelamatkan 22% bayi, dan menyusui pada hari pertama menyelamatkan 16% bayi. Jadi, semakin awal pemberian ASI semakin kecil resiko kematian bayi (Handy, 2010).
Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 1997 cakupan ASI Eksklusif masih 52%, pemberian hari pertama 52,7%. Rendahnya pemberian ASI Eksklusif menjadi pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita.
Dari hasil survei Kesehatan Indonesia, wanita Indonesia memberikan kolostrum baru menyentuh angka 51 % (Arisman, 2009). Dan dari hasil survei yang dilakukan pada tahun 2002 oleh Nutrition & Health Surveillance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) dan 8 pedesaan (Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, NTB, Sulawesi Selatan), menunjukkan bahwa cakupan ASI Eksklusif 4-5 bulan di perkotaan antara 4%-12%, sedangkan di pedesaan 4%-25%. Pencapaian ASI Eksklusif 5-6 bulan di perkotaan berkisar antara 1%-13% sedangkan di pedesaan 2%-13% (Anurogo, 2009).
Pemberian ASI Eksklusif pada bayi pada satu jam pertama sangatlah penting. Sentuhan kulit antara ibu dan bayi saat pertama kali bayi lahir, merupakan faktor penting dalam proses menyusui setelah bayi dilahirkan. Selama proses ini, bayi akan tetap hangat dan memastikan bayi memperoleh kolostrum, yang secara medis terbukti memberikan daya tahan yang luar biasa pada tubuh anak (Pambagio, 2007).
Kolostrum merupakan cairan yang pertama dikeluarkan/disekresikan oleh kelenjar payudara pada 4 hari pertama setelah persalinan. Komposisi kolostrum ASI setelah persalinan mengalami perubahan. Kolostrum berwarna kuning keemasan (Irawati, 2007). Kolostrum mengandung protein, vitamin dan mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran (Arif, 2009).
Manfaat kolostrum kurang dirasakan oleh masyarakat kita. Ini terlihat dari kebiasaan ibu membuang ASI yang keluar pada hari-hari pertama setelah bayi lahir. Alasannya karena larangan orang tua dan karena kolostrum berbau. Kurangnya informasi dan ketidakpahaman ibu tentang pentingnya kolostrum juga berpengaruh terhadap sikap serta motivasi ibu dalam pamberian kolostrum pada bayinya. Dari survei awal yang dilakukan peneliti pada Klinik ............ diketahui bahwa ada 10 orang ibu menyusui yang berpengetahuan kurang tentang pentingnya pemberian kolostrum pada bayi baru lahir.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Tingkat Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Pentingnya Pemberian Kolostrum Pada Bayi Baru Lahir di Klinik ............ Tahun 2010”

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 124

0 comments:

Poskan Komentar