KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG KB SUNTIK CYCLOFEM DI KLINIK XXXXX

Selasa, 19 April 2011

BAB I
PENDAHULUAN
                                      
1.1    Latar Belakang
            Keluarga berencana adalah buah perjuangan yang cukup lama yang dilakukan tokoh-tokoh atau pelopor di bidang itu, baik didalam maupun diluar negeri. Diluar negeri upaya keluarga berencana mula-mula timbul atas prakarsa kelompok orang-orang yang menaruh perhatian pada masalah kesehatan ibu, yaitu pada awal abad XIX di Inggris. Hal tersebut sejalan dengan ditinggalkannya cara-cara mengatur kehamilan secara tradisional dan mulai digunakannya alat-alat kontrasepsi yang memenuhi syarat medis, maka dimulailah usaha-usaha keluarga berencana di abad moderen, dengan tujuan dan sasaran yang lebih luas, tidak terbatas pada upaya mewujudkan kesehatan ibu dan anak dengan cara membatasi kehamilan atau kelahiran saja (Meilani, dkk, 2010).
             Menurut World Health Organization (WHO) angka pengguna kontrasepsi diperkirakan adalah 460 juta pada tahun 1987, atau sekitar 51% dari pasangan yang beresiko hamil (Hartanto, 2006).
Angka kesuburan total di Indonesia turun dari 5,6 pada tahun 1970 menjadi 2,6 pada tahun 2003. Pada tahun 1997, dua per tiga (66,67%) perempuan menikah di Indonesia menggunakan kontrasepsi modern, pil (28,2%), suntik (35,6%), AKDR/IUD (14,8%), susuk (11,0%), sterilisasi (5,5% MOW dan 0,7% MOP) dan kondom (1,3%) (Widyastuti, dkk, 2009).
Pemakai kontrasepsi di Propinsi Sumatera Utara  pada tahun 2009 berjumlah 64.14%, pemakaian suntik yaitu sebesar 33,81% (Meliono, dkk, 2009).
Dari data di BPS tahun 2009 terdapat 203 akseptor KB suntik dengan jumlah pemakaian alat kontrasepsi suntik KB cyclofem sebanyak 98 akseptor (48,27%) dan suntik KB depoprovera sebanyak 105 akseptor (51,72%) (Meliono, dkk, 2009).   
            Rencana dan strategi BKKBN adalah merumuskan kembali visi dan misi  yaitu “Seluruh keluarga ikut KB dan mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera” (Meilani, dkk, 2010).
            Kontrasepsi suntik sebulan sekali (cyclofem) mengandung estrogen dan progesteron dan sangat efektif dan  menghasilkan keunggulan pola perdarahan menstruasi yang lebih teratur, dengan setiap bulan terjadi episode perdarahan sekitar 15 hari setelah penyuntikan, tetapi kerugiannya adalah frekuensi penyuntikan lebih sering (Glasier, 2006).
Cyclofem juga memiliki angka kegagalan yang sangat rendah yaitu kurang dari 0,5 per 100 tahun wanita. Angka kehamilan tabel mortalitas 1 tahun adalah kurang dari 0,5% dan angka penghentian akibat ketidakteraturan menstruasi atau amenorhea umumnya kurang dari separuh dari yang dijumpai pada obat suntik cyclofem (Glasier, 2006)
Sebagian wanita lebih menyukai obat suntik sebulan sekali (cyclofem)  daripada obat suntik jangka panjang karena obat suntik sebulan sekali ini menghasilkan perdarahan bulanan teratur dan jarang menyebabkan spotting, dan efek menghambat fertilitasnya cepat hilang (Hartanto, 2006).
                        Menurut survei awal yang dilakukan peneliti di Klinik ...................... tahun 2010, KB suntik cyclofem merupakan kontrasepsi yang paling diminati oleh akseptor KB. Ini terbukti dari jumlah pemakaian alat kontrasepsi yaitu sebanyak 49 Pasangan usia subur (Hasil penelitian mahasiswa Akademi Kebidanan .......................... Medan tahun 2010). 
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti berminat untuk melakukan penelitian dengan judul “Gambaran Pengetahuan Ibu tentang KB Suntik Cyclofem di Klinik ...................... Tahun 2010”.

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 98

0 comments:

Poskan Komentar