KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI HUBUNGAN ANEMIA SELAMA KEHAMILAN DENGAN BERAT BADAN BAYI LAHIR RENDAH DI RB XXXXXXX

Kamis, 21 April 2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
                 Prevalensi Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiraan di dunia dengan batasan 3,3% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan dinegara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi di banding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram.
           Salah satu indikator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian bayi(AKB). angka kematiaan bayi di indonesia pada saat ini masih tergolong tinggi. Angka kematian di Indonesia tercatat 51,0/1000 kelahiran hidup pada tahun 2003, ini memang bukan gambaran yang indah karena masih terbilang tinggi bila di bandingankan dengan negara –negara ASEAN Penyebab kematian bayi terbanyak adalah karena  gangguan perinatal. Seluruh kematian perinatal sekitar 2-27% disebabkan karena kelahiran berat badan bayi lahir rendah ( BBLR). Sementara itu prevalensi BBLR pada saat ini diperkirakan 7-14% yaitu sekitar 459.200-900.000 bayi (Depkes RI, 2005). 
            Berat badan bayi lahir rendah termasuk faktor utama dalam peningkatan Salah satu indikator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian bayi(AKB). Angka kematiaan bayi di indonesia pada saat ini masih tergolong tinggi. Angka kematian di indonesia tercatat 51,0/1000
kelahiran hidup pada tahun 2003, ini memang bukan gambaran yang indah karena masih terbilang tinggi bila di bandingankan dengan negara –negara ASEAN Penyebab kematian bayi terbanyak adalah karena  gangguan perinatal. Dari seluruh kemtian perinatal sekitar 2-27% disebabkan karena kelahiran berat badan bayi lahir rendah (BBLR). Sementara itu prevalensi BBLR pada saat ini diperkirakan 7-14% yaitu sekitar 459.200-900.000 bayi (Depkes RI, 2005).  katan mortalitas, morbiditas, dan disabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang. Menurut perkiraan WHO, kematian neonatal di negara berkembang atau berpenghasilan rendah, lebih dari 2/3 kematian adalah BBLR, yaitu berat badan bayi lahir kurang dari 2500 gram. Secara global diperkirakan terdapat 25 juta persalinan/tahun dimana 17% diantaranya adalah BBLR. (Yayan, 2008)   
             Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu berkisar antara 9%-30%, Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka BBLR sekitar 7,5%. Angka ini lebih besar menurut perkiraan WHO, kematian neonatal di negara berkembang atau berpenghasilan rendah, lebih dari 2/3 kematian adalah BBLR, yaitu berat badan bayi lahir kurang dari 2500 gram. Secara global diperkirakan terdapat 25 juta persalinan/tahun dimana 17% diantaranya adalah BBLR. Dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran gizi menuju Indonesia Sehat 2010.
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2006, penduduk provinsi Riau berjumlah 4.764.205 jiwa, atau naik sebesar 1,03 % dan masih tinggi angka ibu hamil yang mengalami anemia di Riau, yaitu 6.388 orang dan ini merupakan permasalahan yang harus dihadapi oleh masyarakat terutama oleh tenaga kesehatan, untuk menurunkan angka kejadian anemia itu pemerintah khususnya Pemerintah Provinsi Riau memajukan program penurunan angka kejadian anemia gizi besi ke dalam program pembangunan kesehatan dengan sasaran menurunkan anemia gizi besi pada ibu hamil dengan meningkatkan peran serta bidan sebagai tenaga kesehatan yang diharapkan mampu memberikan pelayanan yang lebih efektif kepada ibu hamil untuk mencegah terjadinya anemia yang lebih akut. Namun jika meninjau ibu dengan kadar Haemoglobin yang tidak beresiko dengan kadar Hb 11 gr/dl keatas, lebih banyak yang tidak mengalami kelahiran bayi dengan berat badan bayi lahir rendah. Hal ini memberi indikasi bahwa semakin baik kadar Hb dalam darah, merupakan wujud nyata terhadap status kesehataan ibu yang optimal dan sekaligus sebagai unsur penunjang dalam pelaksanaan proses persalinan.
 Hasil survay yang dilakukan di RB ................ pada tahun 2008 maka diperoleh data ibu hamil pada trimester ke III yang memeriksakan Hb dan memeriksakan kehamilannya di RB ................ adalah sebanyak 140 orang dalam satu tahunnya. Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk meneliti anemia dalam kehamilan sebagai karya Tulis Ilmiah dengan judul “ Hubungan Anemia Selama Kehamilan dengan Berat Badan Bayi Lahir rendah RB ................ kecamatan Payung Sekaki Pekanbaru Tahun 2008”

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 119

0 comments:

Poskan Komentar