KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR Di KLINIK XXXXX

Selasa, 19 April 2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
            Menyusui merupakan cara pemberian makan yang diberikan secara langsung oleh ibu kepada anaknya, namun seringkali ibu menyusui kurang memahami dan kurang mendapatkan informasi, bahkan sering kali ibu-ibu mendapatkan suatu informasi yang salah tentang manfaat ASI ekslusif itu sendiri, tentang bagaimana cara menyusui ataupun langkah - langkah menyusui yang benar kepada bayinya, dan kurangnya informasi yang diberikan tentang dampak apabila Asi esklusif itu tidak diberikan dan apa yang harus dilakukan bila timbul kesukaran dalam menyusui secara ekslusif kepada bayinya (Roesli, 2000).
            ASI merupakan  satu – satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga  berusia 6 bulan. ASI cukup mengandung seluruh zat gizi dibutuhkan bayi.  Selain itu, secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi ASI (Arif, 2009).
            Menyusui, artinya memberikan makanan kepada bayi yang secara langsung dari payudara ibu sendiri. Menyusui adalah proses alamiah, dimana berjuta-juta ibu melahirkan diseluruh dunia berhasil menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku tentang pemberian ASI. Walupun demikian dalam lingkungan kebudayaan kita saat ini melakukan hal yang sifatnya alamiah tidaklah selalu mudah untuk dilakukan oleh para ibu-ibu menyusui (Roesli, 2000).


            Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar payudara. Kolostrum mengandung sel darah putih dan antibodi yang paling tinggi. khususnya kandungan Imunoglobulin A (IgA), yang membantu melapisi usus bayi yang masih rentan terhadap penyakit dan mencegah  kuman memasuki tubuh  bayi. IgA ini juga membantu dalam mencegah bayi mengalami alergi makanan (Saleha,  2009).
            Kolostrum yang dihasilkan ibu umumnya diproduksi dalam jumlah yang sangat kecil, yaitu sekitar 7,4 sendok teh (36,23 ml) per hari atau sekitar 1,4 hingga 2,8 sendok teh (6,8 – 13, 72 ml) sekali menyusu. Dan jumlah yang sangat sedikit tersebut akan segera diminum dan ditelan oleh bayi (Novianti, 2009).
            Kadar protein yang dikandung dalam  kolostrum lebih tinggi dari ASI matang atau mature. Adapun kandungan lemak dan laktosanya (gula darah) lebih rendah dari pada ASI mature. Kolostrum juga mengandung vitamin, seperti vitamin A, B6, B12, C, D, dan  K, serta mineral terutama zat besi dan kalsium sebagai zat pembentukan tulang (Prasetyono, 2009).
            Faktor imun seperti IgG dan IgA sangat banyak jumlahnya dalam kolostrum dibandingkan ASI matang. Kedua zat imun tersebut akan menstimulasi dan meningkatkan sistem imun tersebut akan menstimulasi dan meningkatkan sistem imun bayi (Novianti, 2009).
Menurut UNICEF, ASI Eksklusif dapat menekankan angka kematian bayi di Indonesia. UNICEF menyatakan bahwa dari 30.000 kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia setiap tahun dapat dicegah melalui pemberian ASI Eksklusif selama enam bulan sejak jam pertama setelah kelahirannya tanpa memberikan makanan dan minuman tambahan kepada bayi (Prasetyono, 2009).
WHO, UNICEF, dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia melalui SK Menkes No. 450/  Menkes/SK/IV/2004 telah menetapkan rekomendasi pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan. Dalam rekomendasi tersebut, dijelaskan bahwa untuk mencapai pertumbuhan, perkembangan, kesehatan yang optimal, bayi harus diberi ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama (Prasetyono, 2009).
            Pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan, artinya hanya memberikan ASI saja selama 6 bulan tanpa pemberian makanan atau minuman yang lain. Pemberian cairan dan makanan dinilai dengan menimbang kenaikan berat badan secara teratur (Yuliarti, 2010).
Dengan manajemen laktasi yang baik, produksi ASI dinyatakan cukup sebagai  makanan tunggal untuk pertumbuhan bayi yang normal sampai usia 6 bulan. Itu sebabnya, badan kesehatan dunia (WHO) menganjurkan agar ASI Eksklusif diberikan hingga  bayi berusia 6 bulan (Arif, 2009).
            Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), 2003 diketahui bahwa  angka pemberian ASI Eksklusif turun dari  49% menjadi 39%, sedangkan penggunaan susu formula meningkat tiga kali lipat (Prasetyono, 2009).
Departmen kesehatan menetapkan target pemberian  ASI Eksklusif selama 6 bulan di angka 80%, sementara angka SDKI 2007 menunjukkan bahwa hanya 32,4% bayi yang mendapatkan ASI secara Eksklusif. Hanya 44 % bayi yang menyusui dalam 1 jam sesudah kelahirannya, sementara 65% bayi menerima asupan non- ASI dalam 3 hari pertama kehidupannya (Wulandari, 2007).
            Hasil penelitian menerangkan bahwa bayi yang diberi ASI Eksklusif selama 4 bulan mengalami infeksi telinga 40 % lebih sedikit ketimbang bayi yang diberi ASI dan makanan tambahan. Kemungkinan terjadinya penyakit pernafasan semasa kanak – kanak dapat berkurang secara signifikan bila bayi diberi ASI Eksklusif setidaknya selama 15 minggu dan makanan tambahan tidak diberikan kepadanya (Prasetyono, 2009).
            Berdasarkan hasil survey langsung di Klinik ....................., peneliti langsung mewawancarai responden  dan  hasil yang didapat banyak ibu menyusui tidak memberikan kolostrumnya dengan alasan kurangnya informasi  dan ketidak pahaman ibu tentang pemberian kolostrum. 
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan  penelitian dengan judul “Gambaran Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Pemberian Kolostrum Pada Bayi Baru Lahir (BBL) di Klinik ..................... Tahun 2010 ”.

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 96

0 comments:

Poskan Komentar