KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

PERBANDINGAN METODE PERSALINAN APN DI KLINIK YYY DAN NON APN DI KLINIK XXX TERHADAP PERDARAHAN AKIBAT LASERASI JALAN LAHIR

Minggu, 17 April 2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Kematian ibu merupakan salah satu tolak ukur untuk menilai keberhasilan pelayanan kesehatan,  khususnya pelayanan kebidanan. Kematian ibu pada masa hamil dan bersalin merupakan masalah besar terutama di negara-negara yang sedang berkembang (Sarwono, 2005).
Perdarahan post partum merupakan penyebab kematian maternal terbanyak. Walaupun angka kematian maternal telah turun secara drastis di negara-negara berkembang, perdarahan post partum tetap merupakan penyebab kematian maternal terbanyak dimana-mana (Compas, 2010).
 Perdarahan post partum di definisikan sebagai kehilangan darah lebih dari 500 mL setelah persalinan vagina atau lebih dari 1.000 mL setelah persalinan abdominal. Perdarahan dalam jumlah ini dalam waktu kurang dari 24 jam disebut sebagai perdarahan post partum primer, dan apabila perdarahan ini terjadi lebih dari 24 jam disebut sebagai perdarahan post partum sekunder (Williams, 2006).
Kehamilan yang berhubungan dengan kematian maternal secara langsung di Amerika Serikat diperkirakan 7–10 wanita tiap 100.000 kelahiran hidup. Data statistik nasional Amerika Serikat menyebutkan sekitar 8% dari kematian ini disebabkan oleh perdarahan post partum. Di negara industri, perdarahan post partum biasanya terdapat pada 3 peringkat teratas penyebab kematian maternal. Di beberapa negara berkembang angka kematian maternal melebihi 1000 wanita tiap 100.000 kelahiran hidup, dan data WHO menunjukkan bahwa 25% dari kematian maternal disebabkan oleh perdarahan post partum dan diperkirakan 100.000 kematian maternal tiap tahunnya (Admin, 2009).
AKI di Indonesia secara Nasional dari tahun 1994 sampai dengan tahun 2007, dimana menunjukkan penurunan yang signifikan dari tahun ke tahun. Berdasarkan SDKI survei terakhir tahun 2007 AKI di Indonesia sebesar 228 per  100.000 Kelahiran Hidup, meskipun demikian angka tersebut masih tertinggi di Asia (Compas, 2010).
Frekuensi perdarahan post partum yang dilaporkan Mochtar, R. dkk. (1965-1969) di RSU Dr. Pirngadi Medan adalah 5,1% dari seluruh persalinan. Dari laporan-laporan baik di negara maju maupun di negara berkembang angka kejadian berkisar antara 5% sampai 15%. Dari angka tersebut, diperoleh sebaran etiologi antara lain: atonia uteri (50–60%), sisa plasenta (23–24%), retensio plasenta (16–17%), laserasi jalan lahir (4–5 %), kelainan darah (0,5–0,8%).
Robekan jalan lahir atau laserasi jalan lahir adalah robekan yang terjadi akibat proses persalinan yang ditandai dengan perdarahan segera, darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir, uterus berkontraksi baik, plasenta lengkap.
Robekan perineum bisa terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan selanjutnya. Robekan ini dapat dihindari atau dikurangi dengan menjaga jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin dengan cepat (Cahaya Biru, 2009).
Untuk mengetahui apakah ada tidaknya robekan jalan lahir, maka periksa daerah perineum, vagina dan vulva. Setelah bayi lahir, vagina akan mengalami peregangan, oleh kemungkinan odema dan lecet. Introitus vagina juga akan tampak terkulai dan terbuka. Sedangkan vulva bisa berwarna merah, bengkak dan mengalami lecet. Untuk mengetahui ada tidaknya trauma atau hemoroid yang keluar, maka periksa anus dengan rectal toucher (Cahaya Biru, 2009).
Tindakan menggunting jalan lahir wanita pada saat melahirkan dinamakan episiotomi. Dulu tindakan ini rutin dilakukan untuk mencegah robekan spontan yang biasanya tidak teratur bahkan dapat menyebabkan robekan yang sampai mengenai lubang anus (robekan total). Sekarang tindakan ini tidak harus dilakukan, hanya akan dilakukan jika : PERTAMA, terlihat akan adanya ancaman robekan yang luas seperti perineum yang kaku. KEDUA, posisi bayi tidak normal. KETIGA, bayi harus dilahirkan secepat mungkin.
Dengan mengingat defenisi perdarahan  post partum tersebut di atas maka diambil langkah-langkah 5 benang merah dalam Asuhan Persalinan Normal (APN) yaitu : PERTAMA, Aspek pemecahan masalah yang dipergunakan untuk mengambil keputusan klinik dalam merencanakan penatalaksanaan yang akan diberikan. KEDUA, Aspek sayang ibu dan sayang bayi yaitu dengan memberikan rasa aman dan nyaman pada ibu selama proses persalinan yang bersih dan aman dan setelah persalinan, dilakukan rawat gabung antara ibu dan bayi. KETIGA, Aspek pencegahan infeksi yaitu memberikan pelayanan standar pada ibu untuk mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang kemungkinan besar akan mengakibatkan infeksi. KEEMPAT, Aspek pencatatan sebagai sumber informasi yang dapat digunakan untuk evaluasi, mengidentifikasi kesenjangan yang ada dan membuat perubahan serta perbaikan peningkatan manajemen perawatan pasien. KELIMA, Aspek rujukan yaitu membuat perencanaan rujukan sedini mungkin dan menetapkan sistem rujukan yang berkaitan dengan fasilitas, tempat rujukan, jarak dan biaya pada tempat rujukan tersebut, sehinggga dengan adanya 5 benang merah Perdarahan post partum akan dapat tertanggulangi sedini mungkin (JNPK-KR, 2008).
Berdasarkan data di atas maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Perbandingan Pertolongan Persalinan Dengan Menggunakan Metode APN di Klinik .......... dan Metode Non APN Klinik ................. periode Mei-Juli 2010.

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 78

0 comments:

Poskan Komentar