KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG IKTERUS FISIOLOGIS DI BPS XXXXXXX

Sabtu, 14 Mei 2011

BAB I




PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang

Ikterus merupakan masalah yang sering muncul pada masa neonatus terjadi akibat akumulasi bilirubin yang berlebihan dalam darah dan jaringan (Schartz William, 2004). Bilirubin itu sendiri merupakan hasil pemecahan sel darah merah (hemoglobin) (Rumahzakat, 2007). Dalam kadar tinggi bilirubin bebas ini bersifat racun, sulit larut dalam air dan sulit dibuang. Untuk menetralisirnya, organ hati akan mengubah bilirubin indirect (bebas) menjadi direct yang larut dalam air. Masalahnya, organ hati sebagian bayi baru lahir belum dapat berfungsi optimal dalam mengeluarkan bilirubin bebas tersebut (Dhafinshisyah, 2008). Misalnya bayi lahir kurang bulan, atau terdapat gangguan dalam hati maka kadar bilirubin dalam darah bayi dapat meningkat. Kadar bilirubin akan kembali normal dalam beberapa hari yaitu ketika organ hati sudah matang atau jika gangguan fungsi hati telah dihilangkan (Rumahzakat,  2007).
Warna kuning (ikterus) pada bayi baru lahir adakalanya merupakan kejadian alamiah (fisiologis), adakalanya menggambarkan suatu penyakit (patologis). Kejadian ikterus sering dijumpai pada bayi dengan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) (Rustam Mochtar, 1998). Dalam batas normal timbul pada hari kedua sampai ketiga dan menghilang pada hari kesepuluh (Manuaba Ida Bagus Gde, 1998). Pada neonatus cukup bulan, kadar bilirubin tidak melebihi 10 mg/dl dan bayi kurang bulan, kurang dari 12 mg/dl. Ikterus fisiologis baru dapat dinyatakan sesudah diobservasi dalam minggu pertama sesudah kelahiran (Asrining Surasmi, 2003). Masalah yang didapatkan pasien ikterus  adalah  kurangnya  masukan  cairan  dan  nutrisi  karena  bayi  malas minum, resiko terjadi kernikterus, gangguan rasa aman dan nyaman serta kurangnya pengetahuan orang tua / ibu mengenai penyebab dan bahaya ikterus (Ngastiyah, 2005).
Walaupun ikterus fisiologis bukan merupakan patologis tetapi perlu juga diwaspadai  karena  jika  kadar  bilirubin  indirek  yang  terlalu  tinggi  dapat merusak sel-sel otak (kernikterus). Kernikterus adalah suatu sindroma neurologis yang timbul sebagai akibat penimbunan bilirubin dalam sel-sel otak  yang  tidak  dapat  dihancurkan  dan  dibuang  (Sunarto  Prawirohartono,
2007).  Dampak  yang  terjadi  dalam  jangka  pendek  bayi  akan  mengalami kejang-kejang, sementara dalam jangka panjang bayi bisa mengalami cacat neurologis contohnya ketulian, gangguan bicara dan retardasi mental. Jadi, penting sekali mewaspadai keadaan umum si bayi dan harus terus dimonitor secara ketat (Mula Tarigan, 2008).
Angka kejadian ikterus bayi di Indonesia sekitar 50 % bayi cukup bulan yang   mengalami        perubahan           warna            kulit,             mukosa  dan      mata         menjadi kekuningan (ikterus), dan pada bayi kurang bulan (premature) kejadiannya lebih sering, yaitu 75 %. Dilaporkan di RSCM, tahun 2007 prosentase ikterus neonatorum pada bayi cukup bulan sebesar 32,1 % dan pada bayi kurang bulan sebesar 42,9 % (Rumahzakat, 2007). Sedangkan di RSU Dr. Soetomo Surabaya kejadian ikterus sekitar 9,8 % (th 2002) dan 15,66 % (th 2003) (Risa Etika,  2007).
Berdasarkan  data  pada  bulan  januari  sampai  6  April  2008  di  BPS Ny. Sri Purweni Mrican Kota Kediri didapatkan 47 bayi dan ibu post partum yang berkunjung di BPS. Dari jumlah kunjungan tersebut yang menderita ikterus fisiologis sebanyak 18 bayi atau sebesar 38,29 %.
Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan tanggal 2-6 April 2008 didapatkan 9 bayi dan ibu post partum yang berkunjung di BPS. Dari jumlah kunjungan ibu post partum yang kurang mengerti tentang ikterus fisiologis pada bayi sebanyak 6 orang atau sebesar 66,67 % dan yang sudah mengerti tentang ikterus fisiologis sebanyak 3 orang atau sebesar 33,33 %. Kemudian bayi yang  menderita ikterus fisiologis sebanyak 4 bayi atau sebesar 44,44 % dan yang tidak menderita sebanyak 5 bayi 55,56 %.
Dengan melihat latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Gambaran pengetahuan ibu nifas tentang ikterus fisiologis di BPS Ny. Sri Purweni Mrican Kota Kediri”.

Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 129

0 comments:

Poskan Komentar