KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI PERBEDAAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PENANGANAN DIARE PADA BALITA DI RUMAH SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN PENDIDIKAN KESEHATAN DI DESA XXXXXX

Senin, 16 Mei 2011

BAB I



PENDAHULUAN



1.5    Latar Belakang

Penyakit diare masih menjadi penyebab kematian balita ( bayi dibawah lima tahun) terbesar didunia (Ridwan Amirudin, 2007). Istilah atau pemahaman  tentang  penyakit  diare  dimasyarakat  Jawa  Timur  beragam, antara lain "mencret-mencret" atau "mejen", atau pada balita biasa disebut "ngenteng-entengi".        Bila         ditinjau                       kegawatannya,         pada       umumnya menganggap bahwa diare merupakan penyakit biasa-biasa saja. Pada umumnya masyarakat kita menganggap remeh penyakit ini, sehingga sering kali berakibat fatal dalam hal penanganan penderita, hal ini diakibatkan oleh karena       penerapan        prinsip-prinsip     rehidrasi        seawal   mungkin belum dilaksanakan oleh masyarakat sehingga terjadi keterlambatan tindakan rehidrasi yang dapat memperparah kesakitan, bahkan dapat mengakibatkan kematian (Unik P  dkk, 2005).
Menurut  catatan  Unicef,  setiap  detik  satu  balita  meninggal  karena diare. Diare sering kali dianggap penyakit sepele, padahal ditingkat global dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya. Menurut Sukernas (2001) diare merupakan salah satu penyebab kematian kedua terbesar pada balita. Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya karena diare (Satria Perwira, 2008). Di Jawa Timur, data penyakit diare berdasarkan laporan yang direkam oleh Depkes RI tahun 2000 ditemukan angka kesakitan diare untuk semua umur di Jawa Timur adalah 283 per 1000 penduduk, sedangkan episode pada balita 1,3 kali pertahun (Unik P Dkk, 2005). Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri Jawa Timur dr. Suliani Suwadji kepada ELSHINTA menyebutkan, data Dinkes  menunjukkan  dalam  bulan  terakhir  jumlah  balita  yang  terserang diare sedikitnya sebanyak 1.700 balita (Vryan Surya, 2006).
Beberapa penelitian melaporkan sebanyak 40% berkurangnya masukan makanan/minuman pada kejadian diare disebabkan karena kebiasaan yang salah dari orang tua yaitu menghentikan semua jenis makanan/ minuman selama anak diare dengan maksud mengistirahatkan usus sehingga diare akan berkurang bahkan berhenti (FKUI, 2000: 285). Anak yang menderita diare biasanya juga menderita anoreksia, sehingga masukan nutrisinya menjadi kurang. Kekurangan kebutuhan nutrisi akan bertambah jika pasien juga menderita muntah-muntah atau diare lama, keadaan ini menyebabkan makin menurunnya daya tahan tubuh sehingga penyembuhan tidak lekas tercapai, bahkan dapat timbul komplikasi (Ngastiyah, 2005: 150).
Upaya penurunan angka diare dilakukan dengan memanfaatkan semua sumber daya khususnya unsur manusia meliputi upaya penemuan dan pengobatan secara dini, peningkatan kesehatan dengan melibatkan unsur sektoral,    penyuluhan      kesehatan    berperilaku     sehat,    memasyarakatkan penggunaan garam oralit, peningkatan jangkauan pelayanan lebih mantap melalui Posyandu, peningkatan kualitas lingkungan dengan penyediaan air bersih dan sarana jamban keluarga (Bachtiar Ashari, 2008).
Merawat balita memang tidak semudah yang dipikirkan banyak orang. Apalagi, bagi para orang tua baru dimana dalam hal ini ibu yang mempunyai balita anak pertama. Banyak informasi dan pengetahuan yang harus digali (Tanaya Vidia Maharani, 2007).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Desa Paron wilayah kerja Puskemas Ngasem Kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri dengan wawancara pada keluarga yang kebetulan memeriksakan balitanya yang diare, beberapa diantaranya saat diwawancara mengatakan saat di rumah mereka menghentikan asupan cairan pada balitanya. Ada pula yang mengatakan balitanya diberikan teh kental yang sangat manis dengan alasan untuk menguragi rasa pahit yang dikeluhkan oleh balitanya. Bahkan ada beberapa keluarga yang tidak tahu dimana mereka bisa mendapatkan Oralit selain dari bidan setempat. Selain itu, di sana juga belum pernah disosialisasikan oleh kader maupun bidan bagaimana cara penanganan diare pada balita di rumah.
Sehingga berdasarkan uraian latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang perbedaan pengetahuan ibu tentang penanganan diare pada balita dirumah sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan.


Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 148

0 comments:

Poskan Komentar