KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN POLA PANTANG MAKAN IBU NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXXXXX

Sabtu, 14 Mei 2011

BAB I



PENDAHULUAN




1.1    Latar Belakang

Persalinan adalah merupakan peristiwa penting dan mulia, kejadian penuh  ketegangan  yang  menguras  tenaga  dan  sangat  melelahkan.  Oleh karena itu ibu yang telah melahirkan perlu mendapatkan perawatan sebaik- baiknya (Mellyna, H. 2003 : 3).
Perawatan pasca persalinan dapat mencakup berbagai hal seperti mobilisasi,  laktasi,  hygiene  dan  istirahat.  Hal  yang  tidak  kalah  penting adalah diet gizi seimbang (Mellyna, H. 2003 : 3). Karena selama menyusui, gizi ibu yang baik menentukan bayi yang sehat dan berkualitas. Kebutuhan gizi pada masa menyusui akan meningkat 25%, yaitu untuk memproduksi ASI dan memenuhi kebutuhan cairan yang meningkat tiga kali dari biasa (Mellyna, H 2003 : 61). Pada periode enam bulan pertama menyusui, sekurang-kurangnya 80% kebutuhan energi bayi tersedia dari ASI. Untuk itu tambahan yang diperlukan ibu sekitar 1,13 kali kebutuhan energi bayi atau kira-kira setara dengan 700 Kkal/hari. Jumlah energi sebesar ini, juga dibutuhkan untuk memulihkan kembali kesehatan ibu setelah melahirkan (Diah Krisnatuti. 2000 : 39).
Angka    kematian     ibu    di    Indonesia     masih     sangat    tinggi     yaitu 248/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007, dan di Jawa Timur sendiri sebesar 137/100.000 kelahiran hidup (Dinkes Jatim. 2004). Di Kabupaten Kediri  pada  tahun  2007  tercatat  ada  19  kematian  ibu  (Dinas  Kesehatan Kabupaten Kediri. 2007). Sedangkan di Kota Kediri kematian ibu sejumlah 5 orang selama tahun 2007 (Dinas Kesehatan Kota Kediri. 2007). Sebab utama hal ini adalah perdarahan, infeksi, eklamsi, partus lama, dan komplikasi abortus. Dan sebab secara tidak langsung adalah adanya anemia. Berdasarkan SKRT 1995 prevalensi anemia ibu hamil adalah 51%, dan pada ibu nifas 45% (Depkes RI. 2001 : 2). Hal ini merupakan indikator yang menunjukkan status kesehatan reproduksi perempuan masih rendah. Status kesehatan          perempuan   yang        rendah       disebabkan             oleh  kemiskinan, ketidaktahuan,   kebutahurufan dan kekurangan    gizi (http://www.wsemakasar.com/penelitian/detail.php? id.01/04/2008).
Keadaan dan tahap kesehatan serta makanan ketika hamil dan melahirkan anak adalah penting dan harus diutamakan supaya proses pemulihan dapat berjalan dengan cepat. Jika seorang wanita itu mengalami masalah kekurangan makanan dan keadaan kesehatan tidak baik, niscaya proses pemulihan akan berlangsung lebih lama. Beberapa tradisi perlu dihindari demi menjaga kesehatan ibu juga anak yang kini bergantung sepenuhnya pada ibu. Pantang makan merupakan warisan leluhur yang menurun dari generasi ke generasi dan tidak diketahui kapan dimulai serta apa sebabnya. Perilaku pantang makanan adalah salah satu yang perlu dihindari demi pemulihan luka rahim dan pada saluran kemaluan, (http://home.hamidarshat.com/IBZ.masa-pantang.htm 4/2/2008).
 Dalam hal ini orang terdekat (suami dan keluarga) memegang peranan penting.  Kehadiran suami dan keluarga sebagai pemberi petuah dan nasehat sangat berarti bagi ibu. Karena terbukti keberadaan dukungan keluarga yang adekuat dapat menurunkan kecemasan dan ibu lebih mudah sembuh dari sakit (Friedman, M.M. 1998 : 197). Demikian halnya dalam pantang makan, larangan dari keluarga pun menjadi hal yang sangat berpengaruh. Dukungan sosial keluarga yang mengarah pada kesehatan akan menjadi bantuan selama masa pemulihan. Seperti dikutip Niven, N (2000 : 137) kesejahteraan ibu adalah fungsi dari dukungan yang didapatkan.
Dari hasil studi pendahuluan di BPS Hari Yudhi Kecamatan Wates Kabupaten Kediri tanggal 02-12 Januari 2008 didapatkan data 3 orang ibu nifas yang bersalin di BPS tersebut pantang terhadap makanan yang telah disediakan yaitu telur dan ayam. Satu minggu kemudian 2 dari 3 orang ibu nifas tersebut datang kembali untuk kontrol. Pada saat kontrol didapatkan seorang diantaranya mengalami keterlambatan dalam proses pemulihan, ibu mengalami kesulitan dalam beraktivitas misalnya ibu kesulitan dalam berjalan karena masih merasakan sakit pada perutnya. Dan satu orang lagi mengeluhkan produksi ASI-nya sedikit dan bayinya tampak kuning.
Berdasarkan data dan temuan di atas peneliti ingin mengetahui hubungan dukungan sosial keluarga dengan pola pantang makan ibu nifas.


Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 139

0 comments:

Poskan Komentar