KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI DALAM MENGHADAPI MENSTRUASI DI SMP XXXXXX

Selasa, 17 Mei 2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
Periode masa remaja dan menstruasi (haid) yang terjadi pada seorang wanita erat kaitannya, karena seorang dikatakan remaja bila sudah mengalami menstruasi. Bila seorang anak perempuan telah mengalami menstruasi yang pertama (menarche), maka dapat dikatakan bahwa anak perempuan tersebut telah memasuki masa remaja (Mayasari, 2005).
Masa remaja, usia diantara masa anak-anak dan dewasa, yang secara biologis mulai umur 8-19 tahun (Nita, 2008). Peristiwa terpenting yang terjadi pada gadis remaja ialah datang haid yang pertama kali, biasanya sekitar umur 10-16 tahun. Menstruasi merupakan suatu proses keluarnya darah dari lubang vagina yang akan terjadi setiap bulan. Menstruasi terjadi akibat keluarnya sel telur yang tidak dibuahi sperma serta bercampur dengan terkelupasnya selaput lendir rahim dan darah (Jones, 2005).
Banyak wanita (remaja putri) yang mengalami ketidaknyamanan fisik selama beberapa hari sebelum periode menstruasi mereka datang. Kira-kira setengah dari seluruh wanita menderita akibat dismenore, atau menstruasi yang menyakitkan. Hal ini khususnya sering terjadi masa remaja dan awal masa dewasa (Taskarini,  2006).
Di seluruh dunia, sekitar 50 % kaum remaja putri pernah mengeluh karena sakit waktu haid pada masa remaja. Biasanya gangguan ini mencapai puncaknya pada umur 17-25 tahun, dan berkurang atau sembuh setelah pernah mengandung (Jones, 2005).
Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2002, jumlah remaja putri di Indonesia sebesar 24,6% yaitu yang berusia 10-19 tahun (Prantiko, 2003). Di Indonesia, remaja yang mengalami masalah dalam menstruasi diperkirakan sebesar 20%, gangguan menstruasi tersebut dibarengi dengan nyeri di perut, mulas, muntah-muntah, sakit kepala, hingga berakhir dengan pingsan, emosi menjadi tidak terkontrol dan badan menjadi lesu (Dhanti, 2005).
Dari penelitian di SLTP Negeri 1 Bogor diketahui bahwa 82,6% siswi berperilaku kurang baik saat menstruasi atau hari biasa. Sedangkan penelitian di kelas III SLTP Negeri 27 Semarang menunjukkan 76,80% responden berumur 14 tahun dan 64,30% umur menarchenya 12 tahun. Tingkat pengetahuan tentang menstruasi 46,40% termasuk kategori kurang. Sikap terhadap menstruasi 43,00% termasuk kategori kurang (Marwanti, 2005).
Seorang remaja putri yang sudah mengalami menstruasi juga akan mengalami kematangan organ-organ reproduksi, hal ini juga menyebabkan hasrat seksual mulai timbul, dan jika tidak mendapatkan informasi dan pengetahuan yang benar maka akan terjadi perilaku seks bebas (Patrine, 2006). Penelitian Yayasan Kusuma menyebutkan 6,3% dari 1.594 remaja di 12 kabupaten di Sumtera Utara telah melakukan hubungan seks babas. Sedang Sahabat Remaja PKBI Medan pada tahun 2001-2002 menyebut terdapat 26% dari 359 remaja di Medan yang mengaku telah melakukan hubungan seksual (Sustiwi, 2005).
Berdasarkan profil Dinas Kesehatan Propinsi Sumatra Utara tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah penduduk propinsi Sumatra Utara sebanyak 12.643.494 jiwa. Dari jumlah tersebut kelompok umur 10-14 tahun sebanyak 1.431.092 jiwa dan kelompok umur 15-19 tahun sebanyak 1.409.386 jiwa (Dinkes Propsu, 2007).
Remaja putri yang tidak mengenal tubuh mereka dan proses reproduksi dapat mengira bahwa menstruasi merupakan bukti adanya penyakit atau bahkan hukuman akan tingkah laku yang buruk. Anak-anak perempuan yang tidak diajari untuk menganggap menstruasi sebagai fungsi tubuh normal dapat mengalami rasa malu yang amat dan perasaan kotor saat menstruasi pertama mereka. Bahkan saat menstruasi akhirnya dikenali sebagai proses yang normal, perasaan kotor dapat tinggal sampai masa dewasa (Taskarini, 2006).
Remaja putri membutuhkan informasi tentang proses menstruasi dan kesehatan selama menstruasi. Remaja putri akan mengalami kesulitan seperti kecemasan yang berlebihan dalam menghadapi menstruasi yang pertama jika sebelumnya ia belum pernah mengetahui atau membicarakan baik dari teman sebaya atau dengan ibu mereka. Idealnya seorang remaja putri belajar tentang menstruasi dari ibunya. Namun tidak selamanya ibu dapat memberikan informasi tentang menstruasi karena terhalang oleh tradisi yang menganggap tabu membicarakan tentang menstruasi sebelum menarche (Mayasari, 2006). 
Berdasarkan latar belakang di atas dan menurut survey awal yang sudah dilakukan peneliti ternyata masih kurangnya pengetahuan remaja putri tentang menstruasi, maka penulis tertarik melakukan penelitian mengenai gambaran pengetahuan remaja putri tentang menstruasi pada siswi kelas II SMP ................... Medan Periode Mei-Juni 2010
Berdasarkan data diatas maka peneliti merasa tertarik melakukan penelitian yang berjudul Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Dalam Menghadapi Menstruasi di Kelas II ................... Medan Periode Mei-Juni  2010.


Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 183

0 comments:

Poskan Komentar