KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI HUBUNGAN PENGETAHUAN MULTIGRAVIDA TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ANC DI DESA XXXXXXX

Senin, 16 Mei 2011

BAB I

PENDAHULUAN


 
1.1    Latar Belakang

Usaha untuk pengawasan wanita hamil secara teratur ternyata dapat menurunkan  angka  mortalitas  serta  morbiditas  ibu  dan  bayi  (Hanifa  W, 2005). Jadwal melakukan pemeriksaan antenatal care adalah sebanyak 12 sampai 13 kali selama hamil (Manuaba, I.B.G, 1998).
Tingginya angka kematian ibu hamil disebabkan oleh beberapa faktor seperti     masih    rendahnya  kesadaran  ibu  hamil untuk    memeriksakan kehamilan dan penyakit bawaan yang diderita ibu hamil. Sebenarnya kematian ibu dapat ditekan oleh perilaku ibu hamil sendiri dengan beberapa langkah, seperti mengatur jarak kelahiran, melakukan pemeriksaan rutin kehamilan,  serta  memilih  melahirkan  di  rumah  sakit  bila  ada  kelainan selama kehamilan (Aro, 2007).
Orang dulu menyangka bahwa pertolongan sewaktu bersalin merupakan yang paling penting. Sekarang sangkaan ini dianggap salah, karena ibarat bermain sepak bola, tidak mungkin suatu kesebelasan menang bila tidak ada latihan-latihan yang intensif sebelumnya. Jadi kedua-duanya, pemeriksaan dan pengawasan selagi hamil serta pertolongan persalinan, merupakan hal yang penting. Banyak penyulit-penyulit sewaktu hamil dengan pengawasan yang baik dan bermutu dapat diobati dan dicegah, sehingga persalinan berjalan dengan mudah dan normal. Apabila sesuatu tindakan akan diambil, hal ini dilakukan sedini mungkin tanpa menunggu terjadinya komplikasi dan persalinan tidak terlantar (Rustam M, 1998).
Kesadaran  ibu  hamil  agar  supaya  memeriksakan  kehamilannya  ke tempat-tempat pelayanan kesehatan yang tersedia harus ditingkatkan dengan cara memberikan motivasi dan penerangan yang terus menerus. Kehamilan di luar kurun reproduksi sehat dan kehamilan risiko tinggi disertai adanya tanda  bahaya  kehamilan  dengan  demikian  dapat  dikurangi  (Rustam  M, 1998)

Sangatlah penting bagi ibu hamil untuk mengetahui adanya tanda bahaya kehamilan secara lebih dini. Dengan demikian, gangguan atau kelainan tidak bertambah  parah  dan  lebih  mudah  ditangani.  Apabila  gangguan  atau kelainan baru diketahui dalam kondisi parah maka akan memerlukan pemeriksaan atau penanganan yang lebih rumit dan mahal (Judi J.E, 2002).
Sebagaimana diketahui, Departemen Kesehatan Republik Indonesia menetapkan target K1 di Indonesia tahun 2010 adalah 95% dan K4 adalah 90%. Sedangkan di Jawa Timur, pemeriksaan antenatal care K1 berkisar antara 50% hingga 90%, sementara K4 berkisar antara 46% hingga 90% (Flourisa J.S, 2006).
Ibu    yang    telah    mempunyai      pengalaman     kehamilan     sebelumnya, seringkali mengesampingkan pemeriksaan antenatal. Toh, mereka berhasil menjalani kehamilan yang lalu meskipun tidak dilandasi pemeriksaan antenatal. Padahal tanpa mereka ketahui bahaya akan kegawatdaruratan obstetri terus mengincar. Pengetahuan mengenai kehamilan dan kesadaran
ibu hamil, terutama multigravida, akan tanda-tanda bahaya pada kehamilan cenderung         meningkatkan  perilaku ibu  hamil  untuk     melaksanakan pemeriksaan antenatal, sehingga akan meminimalkan kegawatdaruratan obstetri (Hasnah, 2003).
Dari studi pendahuluan yang telah dilakukan pada tanggal 10 s.d. 13 Maret 2008 di Desa Toyoresmi Kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri, diperoleh fakta bahwa 8 dari 10 multigravida di desa tersebut tidak patuh dalam jadwal kunjungan ANC. Yaitu 4 multigravida trimester III dengan frekuensi ANC yang masih berkisar antara 3-4 kali, 3 multigravida trimester II dengan frekuensi ANC berkisar antara 1-3 kali, bahkan dijumpai 1 multigravida trimester III yang baru 1 kali melakukan kunjungan ANC ke fasilitas pelayanan kesehatan. Multigravida tersebut tidak mematuhi jadwal kunjungan ANC seperti yang telah disampaikan oleh tenaga kesehatan, dimana jadwal itu telah disesuaikan dengan usia kehamilan dari masing- masing ibu hamil. Mereka melakukan kunjungan ANC tidak sesuai atau terlambat dari jadwal yang seharusnya. Dan ketika diwawancarai, 75% di antara multigravida tersebut tidak dapat menyebutkan dengan tepat apa saja yang menjadi tanda bahaya selama kehamilan.
Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan pengetahuan multigravida tentang tanda bahaya kehamilan dengan kepatuhan kunjungan ANC di desa Toyoresmi kecamatan Gampengrejo kabupaten Kediri.


Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 165

0 comments:

Poskan Komentar