KUMPULAN KTI KEBIDANAN DAN KTI KEPERAWATAN

Bagi mahasiswi kebidanan dan keperawatan yang membutuhkan contoh KTI Kebidanan dan keperawatan sebagai rujukan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah bisa mendapatkannya di blog ini mulai dari BAB I, II, III, IV, V, Daftar Pustaka, Kuesioner, Abstrak dan Lampiran. Tersedia lebih 800 contoh kti kebidanan dan keperawatan. : DAFTAR KTI KEBIDANAN dan KTI KEPERAWATAN

KTI HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU TENTANG BUANG AIR BESAR FISIOLOGIS PADA NEONATUS DI WILAYAH PUSKESMAS XXXXXX

Senin, 16 Mei 2011

BAB I

PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang

Seiring bertambahnya usia bayi baru lahir, maka bayi baru lahir akan  memiliki pola Buang Air Besar (BAB) yang bervariasi. Ketika bayi melakukan penyesuaian untuk mendapatkan makanan dari ASI atau susu formula, sistem pancernaannya juga akan perlu waktu untuk menyesuaikan. Pada awalnya ia mungkin sering buang air besar, terjadi setiap kali sesudah makan atau lebih sering lagi, dan tinjanya encer, seperti kerak susu. Warnanya bervariasi, dan pengeluarannya bisa sangat kuat. Ini semua adalah ciri normal dari bayi anda. Meskipun tinjanya encer, sejauh ia tampak tenang dia tidak di katakan diare (Kelly, Paula, 2002).
Umumnya, bayi akan buang air besar kurang lebih 2-5 kali sehari hingga usia 6- 8 minggu. Tinja berbentuk cair seperti bubur, warnanya pun bervariasi dari kuning hingga kuning kehijauan. Karena bayi terkesan sering buang air besar, maka tak jarang banyak orang tua yang khawatir bayinya mengalami diare, bahkan beberapa bayi ASI akan buang air besar setiap kali selesai menyusu. Dalam 4 hari pertama ASI banyak mengandung kolostrum yang sifatnya seperti pencahar, sehingga jangan heran bayi-bayi yang mendapat ASI eksklusif, sejak awal buang air besarnya sering seolah- olah menderita diare. Dalam sebuah literatur, bahkan di katakan ada bayi yang buang air besar dalam 1 hari mencapai 20 kali namun tetap normal. Orang tua yang tidak mengerti keadaan ini tentunya akan menganggap bayinya diare atau mencret, untuk itu perhatikan keadaan sikecil, bila tidak rewel, anteng-anteng saja, dan tidak gelisah, maka kemungkinan besar bayi tidak diare. (www.mahadewi.blogsome.com. 2006)
Saat bayi memasuki minggu pertama hingga kedua, pola buang air besar akan berkarakteristik, feses bayi lebih encer dan lebih sering, terutama jika anda menyusui sendiri. Ini normal, bukan diare dan tidak membutuhkan pengobatan apapun, akan tetapi, jika berat badan bayi tidak bertambah, konsultasikan dengan dokter. (Lyen, Kenneth. 2005).
Menurut dr.Eva J.Soelaeman, SpA Frekwensi BAB normal pada bayi usia 0-6 bulan, pada bayi yang menyusu ASI adalah sehari 1-7 kali atau bahkan 1-2 hari sekali, dengan catatan berat badan bayi terus bertambah sesuai grafik normal yang tertera pada  Kartu  Menuju  Sehat.  Jika  terjadi  sebaliknya,  si  kecil  harus  menjalani pemeriksaan dokter.
Saat bayi memasuki usia sekitar lebih dari 6 minggu, pola buang air besar akan berubah. Awalnya orang tua khawatir karena bayinya sering buang air besar, namun beberapa minggu kemudian terjadi kekhawatiran yang sebaliknya yaitu orang tua khawatir bayinya mengalami sembelit. Pada usia ini bayi akan jarang buang air besar, kondisi seperti ini normal terjadi pada bayi yang mengkonsumsi ASI. Hal ini di sebabkan ASI di serap sempurna oleh bayi maka tidak ada ampas yang di buang dalam bentuk tinja. Untuk membedakan hal itu normal atau tidak, lakukan perabaan pada perut bagian kiri, jika tidak ada benjolan, maka memang tidak ada yang perlu di keluarkan dari perut si bayi (Soraya, Luluk. Baby Care. Tags: BAB Bayi ASI. 2008 Februari 21)
Bukan hanya soal frekuensi, warna dan bentuk feses yang berbeda dari biasanya juga kerap menimbulkan kecemasan tersendiri, sebab itu ibu perlu mengenal bagaimana warna dan bentuk feses pada bayi yang masih dikatakan normal. (Kenali warna dan bentuk feses bayi. 26 Februari 2008).
Pada kenyataannya warna feses tergantung pada jumlah air empedu yang dikeluarkan dari kantong empedu, semakin banyak air empedu yang dikeluarkan semakin hijau feses bayi. Baik feses berwarna hijau atau kuning  itu semua masih dikatakan normal. (Lyen, Kenneth. 2005).
Dari study pendahuluan pada saat Praktek Kerja Lapangan pada tanggal 10-29

Maret 2008, di Polindes Nambakan, desa Nambakan Kecamatan Gampengrejo, kabupaten Kediri, didapatkan data sebanyak 9 bayi yang berusia 0-28 hari, 4 Ibu diantaranya mengatakan bahwa bayinya Buang air besar lebih dari 5x dalam 1 hari, di sertai konsistensi encer, sehingga Ibu menganggap bayinya terkena diare. Sedangkan
2 Ibu, mengatakan bayinya mengeluarkan feses berwarna agak kehijauan, dengan konsistensi lembek, karena Ibu beranggapan bahwa bayi selalu mengeluarkan feses berwarna kuning, sehingga Ibu merasa khawatir dengan hal tersebut. Karena kejadian hal di atas, Ibu beranggapan bahwa bayinya mengalami diare, gangguan pada system pencernaan atau bahkan menganggap Ibu sendiri yang salah makan, sehingga Ibu tarak terhadap suatu makanan tertentu.
Dari data yang didapat di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti Hubungan Pengetahuan Dengan tingkat Kecemasan Ibu Tentang Buang Air Besar Fisiologis Pada Neonatus.



Kunjungi : Download KTI Kebidanan dan Keperawatan No 149

0 comments:

Poskan Komentar